LOGINendaraan Maverick yang berlapis baja terhenti sekitar satu mil dari gerbang utama, tersembunyi di balik barisan pohon pinus yang lebat. Di dalam kendaraan yang sempit dan dipenuhi layar digital, suasana terasa sangat mencekam.Dante sedang memeriksa senjata pendeknya dengan gerakan yang presisi. Wajahnya diterangi oleh cahaya biru dari monitor. Di sampingnya, Marcus sedang menyesuaikan headset komunikasinya."Silas, bagaimana keadaannya?" tanya Dante."Penghitung mundur aktif," sahut Silas, jarinya menari di atas papan ketik. "Dalam tiga detik, aku akan meretas virus ke dalam pusat daya mereka. Tiga... dua... satu... Sekarang."Di kejauhan, lampu-lampu yang menyinari tembok puri Sterling berkedip-kedip, lalu padam total. Kegelapan menelan bangunan itu dalam sekejap."Semua sistem pertahanan mereka sudah buta," lapor Silas. "Kita punya waktu dua puluh menit sebelum protokol darurat manual mereka aktif. Setelah itu, mereka akan menyadari ini bukan sekedar gangguan listrik."Dante menole
Pukul sepuluh malam, suasana terminal Jet pribadi di bandara Heathrow eksklusif itu sunyi, hanya ada suara langkah kaki yang bergema di lantai marmer yang dipoles mengilap. Di luar, jet pribadi Gulfstream G700 milik Maverick Corp sudah menunggu dengan mesin yang mulai menderu halus, siap membelah langit menuju utara, menuju Skotlandia."Kau yakin ingin membawa semua lensa kamera itu?" tanya Dante, melirik tas kamera milik istrinya yang dibawa oleh salah satu staf pengawalnya."Iya. Ketika kita menghancurkan markas terakhir Sterling, aku ingin memastikan aku menangkap setiap momen kehancuran itu dalam resolusi tinggi, Daniel.""Kau benar-benar fotografer yang haus darah. Aku suka itu." Mereka berhenti sejenak, menyerahkan paspor kepada petugas bandara. "Selamat malam, Nona. Paspor Anda?" petugas itu bertanya dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi sangat ramah, mengabaikan Dante yang berdiri tepat di samping Lexy.Lexy menyerahkan paspornya. Petugas itu membukanya, membacanya pe
Dante dan Lexy akhirnya kembali ke Mayfair setelah malam yang penuh ketegangan dan kemenangan atas Subjek 03.Dante melepaskan dasi kupu-kupunya. Matanya tak lepas dari Lexy yang berdiri di tengah ruangan, masih mengenakan gaun merah darah yang memamerkan setiap lekuk tubuhnya yang menggoda."Kau luar biasa malam ini, baby girl," suara Dante terdengar serak oleh gairah yang sudah ia tahan sejak di galeri."Kau juga. Aku belum pernah melihatmu seberbahaya itu saat menghadapi Subjek 03. Tanpa kekuatan super, kau justru lebih... Seksi."Dante menyeringai. Ia menarik pinggang Lexy, merapatkan tubuh mereka hingga tak ada celah. "Itu karena aku punya sesuatu yang tidak dimiliki mesin itu. Aku punya keinginan untuk memilikimu sepenuhnya."Tanpa menunggu lagi, Dante mencium Lexy dengan brutal. Ia melumat, menyesap setiap rasa manis di bibir istrinya. “Mhmmm…”Lexy menjambak rambut Dante, menarik pria itu ke dalam pusaran gairah mereka.Dante mengangkat tubuh Lexy, membuat kaki wanita itu mel
"Daniel, kau terus melihat ke arah balkon, ada apa?" bisik Lexy, suaranya teredam oleh riuh rendah tamu di sekitar mereka. Ia menggenggam lengan Dante, merasakan ketegangan otot di balik jas tuksedo pria itu."Ada tamu tak diundang yang butuh perhatian khusus, sweetheart. Tetaplah di dekat Silas. Jangan menjauh tanpa sepengetahuannya.""Kau tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya, kan? Bahumu belum sembuh total," Lexy menatapnya dengan kekhawatiran."Aku akan melakukan sesuatu yang cerdas. Itu jauh lebih menyakitkan bagi musuhku daripada sekedar pukulan," Dante memberikan senyum yang menenangkan. Ia memberikan kode anggukan kecil pada Marcus yang berdiri di sudut ruangan.Cup!Dante mencium bibir Lexy singkat, lalu perlahan melepaskan diri dari kerumunan, bergerak menuju pintu samping yang menuju ke area ruang penyimpanan bawah tanah. Ia sengaja bergerak perlahan, ingin pria di balkon itu mengikutinya. Dan benar saja, bayangan pirang pucat itu mulai bergerak turun melalui tangga.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman drum di telinga Dante. Ia tidak bisa tidur bukan karena rasa sakit di bahunya, melainkan karena rasa haus akan kendali yang mulai membakar jiwanya kembali.Ia bangkit dari ranjang dengan perlahan, berusaha tidak membangunkan Lexy. Dengan gigi yang terkatup menahan nyeri, ia berjalan menuju ruang kerja pribadinya. Ia duduk di kursinya, menyalakan deretan monitor yang menampilkan pergerakan saham global."Selamat pagi, Tuan Maverick. Kupikir dokter menyarankanmu untuk tidur delapan jam" "Tidur adalah kemewahan bagi orang yang tidak punya musuh, Marcus. Nyalakan sistem keamanan tingkat empat. Aku ingin melihat data aliran dana Apex Global dalam satu jam terakhir.""Kau sedang dalam kondisi pemulihan fisik, Tuan. Bukan sedang mempersiapkan perang.""Fisikku mungkin sedang lambat, tapi otakku tidak pernah secepat ini," Dante menunjuk ke layar yang menampilkan grafik merah. "Liam mengira dia bisa menj
"Daniel, waktunya minum obat dan latihan fisioterapi," suara Lexy terdengar dari ambang pintu."Bawa pergi benda kimia-kimia sialan itu, babe. Aku sudah cukup merasa seperti laboratorium berjalan selama dua puluh tahun."Lexy menghela napas, meletakkan nampan di meja kecil di samping Dante. Ia berjalan mendekat ke suaminya, berjongkok agar mata mereka sejajar. "Ini antibiotik dan pereda nyeri. Kau manusia sekarang. Manusia butuh bantuan untuk sembuh.""Manusia butuh bantuan, tapi seorang pria tidak suka merasa tidak berdaya," geram Dante. Ia menatap tangannya yang sedikit gemetar saat mencoba mencengkeram lengan kursi roda. "Aku tidak bisa mengangkat gelas ini tanpa rasa nyeri yang menusuk sampai ke tulang belakang. Bagaimana aku bisa melindungimu? Bagaimana jika The Founders datang lagi malam ini?""Ada Marcus. Ada Silas. Ada lima puluh pengawal bersenjata di bawah sana," Lexy memegang tangan Dante, mencoba menyalurkan kehangatan. "Kau sudah melakukan bagianmu di dermaga. Sekarang bi
Limosin hitam itu meluncur membelah jalanan kota London yang basah. Di dalamnya, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh suara napas Lexy yang masih memburu. Dante duduk di hadapannya, sibuk dengan tablet di tangan, seolah-olah wanita yang baru saja ia culik itu hanyalah kursi kosong
"Aku tidak suka mengulang ucapanku, David," gumam Dante sambil membenarkan letak jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.Di bawah pendar lampu kristal yang redup, pria itu berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. Suaranya tetap rendah, hampir seperti bisikan—jenis suara yang sanggup membuat ny
Helikopter hitam itu mendarat di atap sebuah gedung perkantoran privat di pinggiran Zurich saat fajar masih berupa garis abu-abu yang dingin. Dante dan Lexy melangkah keluar, disambut oleh Marcus yang sudah menunggu dengan setelan jas rapi, seolah ledakan jet kargo beberapa jam lalu hanyalah ganggu
Lantai marmer penthouse itu terasa dingin saat Lexy digiring menuju kamar rias. Ruangan itu terlihat lebih mirip butik kelas atas di Milan daripada sebuah kamar. Tiga orang berpakaian modis dan stylist sudah menunggu dengan kuas rias dan deretan gaun yang berkilau di bawah lampu kristal."Namanya







