ログインPOV RanggalaweEntah dorongan apa yang menggerakkan. Ada gairah yang sulit kutahan lagi. Aroma tubuhnya menguar menerpa ujung hidungku. Aroma yang begitu membuatku candu. "Gendhis..."Perlahan kuangkat dagunya agar menatapku. Matanya sembap. Masih dipenuhi sisa air mata yang belum sempat mengering.Dadaku terasa diremas. Namun, bibir itu begitu menggoda. Kurapatkan tubuhnya pada tubuhku, dapat kurasakan sentuhan lembut itu. Tubuhnya menegang, begitu juga dengan tubuhku. Gairahku perlahan merambat naik ke ubun-ubun. "Paman," panggilnya dengan suara berat. Beberapa detik kemudian, perlahan ia membalas pelukanku. Kepalanya bersandar di dadaku, sementara kedua tangannya mencengkeram bagian belakang pakaianku seolah takut aku ikut menghilang dari hidupnya.Aku memejamkan mata.Aroma rambutnya memenuhi indera penciumanku. Harum bunga melati yang begitu lembut. Detak jantungnya terdengar jelas di telingaku.Cepat.Gelisah.Sama seperti detak jantungku saat itu. Selama bertahun-tahun aku
POV RanggalaweMalam itu angin berembus lebih dingin daripada biasanya.Aku masih duduk di ruang kerja, meneliti laporan para mata-mata yang baru kembali dari perbatasan timur. Cahaya lampu minyak menari di atas lembaran peta yang penuh coretan strategi.Namun, sejak beberapa saat lalu pikiranku tak mampu lagi berkonsentrasi. Entah mengapa dadaku terasa sesak. Seolah ada sesuatu yang sedang terjadi.Kriet! Pintu kayu itu terbuka perlahan, menampilkan wajah sendu wanitaku. Aku terdiam.Gendhis.Perempuan itu berdiri di ambang pintu dengan selendang putih menutupi bahunya. Rambut hitamnya tergerai sederhana, tetapi yang paling menyita perhatianku bukanlah penampilannya.Melainkan sorot matanya.Kosong.Tatapan yang biasanya hangat kini terasa hampa.Tanpa mengucapkan apa pun, dia melangkah masuk lalu duduk di kursi yang berada tepat di depan meja kerjaku.Dia hanya menundukkan kepala. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan."Gendhis..."Aku bangkit dari kursiku. "Ada
POV RanggalaweAku tidak pernah menyangka bahwa persembunyianku di kamar pengantin itu bukan menjadi pertemuan pertama sekaligus yang terakhir.Justru sejak malam itu...Aku mulai sering kembali.Bukan karena aku kehilangan tempat bersembunyi.Melainkan karena ada seseorang yang tanpa sadar membuat kakiku selalu menemukan jalan menuju kamar itu.Gendhis.Perempuan bisu yang seharusnya hanya menjadi istri keponakanku.Hubungan sembunyi-sembunyi ini perlahan membuat kewarasanku terkikis.Setiap kali perang usai dan malam mulai turun, entah bagaimana aku selalu mencari alasan untuk memastikan dirinya baik-baik saja.Kadang aku datang membawa laporan keamanan.Kadang hanya memastikan penjagaan istana.Kadang...Aku bahkan datang tanpa alasan yang jelas.Begitu melihatnya membuka pintu dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat, seluruh penat setelah seharian memimpin perang seolah menguap begitu saja.Aneh.Aku, Ranggalawe.Seorang senopati yang ditakuti di medan perang.Justru menjadi
POV RanggalaweDarah.Aroma darah begitu pekat memenuhi udara Gerbang Utara Kerajaan Balai Kambang. Dentangan besi beradu dengan besi terus menggema tanpa jeda. Jeritan prajurit yang terluka bercampur dengan pekikan kuda perang, menciptakan simfoni kematian yang telah berlangsung sejak matahari mulai condong ke barat.Aku masih berdiri di sini, di antara para prajurit yang mencoba melawan ketidak adilan negeriku. Pemberontakan yang menggila membuatku harus menyamar menjadi salah satu di antara mereka, semua hanya demi kemakmuran Balai Kambang. "Hancurkan gerbangnya!""Tangkap pemimpinnya. Di sana!" Suara komandan musuh memekakkan telinga menunjuk ke arahku. Aku mengayunkan pedangku sekali lagi.Srak!Satu kepala prajurit terlepas dari tubuhnya. Bahkan sebelum jasad itu menyentuh tanah, dua tombak telah meluncur ke arahku.Trang!Aku menangkis tombak pertama. Namun tombak kedua berhasil menggores bahu kiriku.Bruk!Tubuhku terdorong beberapa langkah ke belakang."Sial..."Aku mengg
Dua hari dua malam aku tidur sendiri, ada rasa yang kurang. Tidak mungkin jika aku merindukan sosok suami dua pribadi itu. Namun, entah mengapa terasa begitu sepi.Malam ini sengaja aku duduk di tepi jendela, menatap pada langit malam yang gelap tanpa bintang. Langit pun seakan tahu jika aku sedang kesepian hingga dia tidak memberiku secercah cahaya bintang.Pria itu, kemana saja hingga aromanya pun tidak mampu kujangkau. Ini sangat aneh.Kuhirup udara bebas yang dingin, malam ini malam ketiga kepergian Ranggalawe aka Samuel Ortega. Sungguh sebenarnya bukan ini yang aku inginkan.Dua hari ini, aku begitu sibuk keluar masuk istana dengan sembunyi-sembunyi untuk mencari jejak kesalahan yang ditinggalkan oleh winita ular itu.Dulu, saat aku pertama kali masuk kembali ke negeri ini pernah melihat ratu bersama pria lain yang bukan ayahku, hanya saja sosok pria itu kurang jelas karena tubuhku lebih dulu ditarik masuk ke dunia modern lagi."Kau dimana, Paman. Sungguh aku menginginkanmu malam
Aku menyeruput cangkir yang terbuat dari keramik dengan ukuran khas Blambangan yaitu burung bangau. Pandanganku jauh ke seberang pada hutan yang sudah mulai jarang ditumbuhi rumput liar.Udara pagi yang mulai menghangat akibat sinar matahari mulai menyeruak menembus ranting pohon dimana aku duduk saat ini. Iya, aku sedang duduk santai di belakang pondok yang semalam kutinggali.Saat tengah malam, pintu kamar diketuk oleh beberapa dayang dan mereka membawaku ke pondok ini. Pagi buta, Nyai Daksima datang untuk mengajak aku berbincang mengenai sikapnya semalam.Saat ini, kutelaah lagi apa yang tadi baru saja diungkap oleh wanita senja itu. Mengapa harus dibisukan semua pelayan di sini? Memang ada apa di balik istana itu?"Jangan terlalu dipikirkan, Nyai. Semua pasti akan lebih baik, bukankah itu tujuanmu datang ke Blambangan?"Tanpa ada suara langkah kaki mendekat, suara khas suamiku sudah kudengar dan bahkan deru napasnya pun telah menyentuh leherku. Saat itu juga aku tersentak kaget, m
"Kau gila, bagaimana bisa aku berbagi peluh dengan wanita jalang itu," decakku tajam dengan kedua mata melotot pada Siska.Wanita itu tidak ada rasa takut sama sekali dengan sikapku, tetapi justru tertawa terbahak melihatku seperti kebakaran jenggot."Apa kau lupa, semua harta yang didapatnya hasi
Seketika kedua mata Sagara membulat sambil kepalanya menggeleng menolak tuduhanku itu, tetapi aku tidak percaya dengan sanggahannya. Kucoba melawan gerakannya yang makin kuat mencengkeram pergelangan tanganku. Namun, apapun yang kucoba tetap tidak berhasil.Sementara di depanku Aurel terus berbicar
Mobil terus melaju di kendarai oleh Siska, aku melihat ke samping sepanjang jalan menuju ke lokasi yang dimaksud dalam rekaman vidio. Ada yang aneh dari perjalanan ini, bagaimana bisa Siska selancar ini menjalankan kendaraan menuju ke lokasi itu. Ini aneh bagiku, aku tetap diam sambil mengirim siny
Aku terbangun dari tidur panjang saat kurasakan wajahku disiram dengan air dingin. Siraman air itu tidak hanya pada wajahku saja melainkan hingga setengah badan. Perlahan kubuka kedua mataku, tatapanku langsung bertemu dengan dua manik hitam milik Aurel. Wanita itu menyeringai sinis menatap keadaan







