LOGINJasper langsung mematikan api unggun dan menarik Natasha ke dalam pelukannya. Mereka berlari sambil Jasper meneriaki dua bawahannya. Beruntung sekali Charlie dan Hactor bisa membawa Clarie dan Rose walaupun dua gadis itu masih dalam masa menyempurnakan kesadaran mereka karena tidur lelap.“Biarkan aku tidur bisa tidak sih? Ayah! Mereka jahat!” Gumaman Clarie yang berada dalam gendongan Charlie membuat pria itu melirik geli pada gadis cantik itu.“Bisa-bisanya gadis sepertimu menjadi putri seorang mafia.”“Hei … aku dengar gumamanmu ya Tuan Sexy,” protes Clarie yang lebih terdengar sebagai rayuan genit.Mereka bersembunyi di balik semak-semak tinggi yang menutupi seluruh tubuh mereka, ditambah dengan langit gelap yang membuat batas penglihatan musuh menjadi sangat terbatas.Seorang pria agak berumur namun gagah melihat sekitar. Sorot matanya tajam dan gelap layaknya seekor elang yang sedang memantau mangsanya di kegelapan. “Mereka pasti masih di sekitar sini, cari dan tangkap mereka!”
Natasha langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Apa tadi? Membungkam dengan mulut? Itu … artinya … ciuman? Matanya masih terbelalak dengan masih menutup mulut dengan tangan seperti patung monyet yang melambangkan menutup tiga panca indra.Jasper menahan tawa melihat Natasha yang langsung menegang dan sedikit panik. Mafia tampan itu malah mendekatkan diri pura-pura seperti ingin mencium gadis itu.“Akkkhhh … aku bisa gila ….” Natasha langsung berdiri dan berjalan ke arah tenda dan masuk ke dalamnya tanpa berpamitan dengan Jasper.Jasper yang melihat itu hanya menahan tawa. “Menggemaskan,” gumam pria itu sambil matanya tidak lepas dari tenda.Kedua bawahan Jasper—Charlie dan Hactor sampai saling pandang karena melihat sang atasan tersenyum walaupun kecil namun itu menandakan Jasper sedang berbunga-bunga. Keduanya bahkan terbelalak saat mendengar ucapan sang atasan.“Aku tadi salah dengar ya? Menggemaskan? Benar tidak?”Charlie tidak menjawab tetapi mimik wajah pria itu yang te
Seorang pria sedang bersenang-senang dengan seorang wanita panggilan yang dia sewa dengan harga mahal. Kamar dengan pencahayaan remang-remang dan didominasi nuansa merah dan hitam itu sangat berisik dengan desahan dan rintihan nikmat wanita nakal yang hanya bisa pasrah di bawah kungkungan seorang pria tampan dan berbadan kekar yang menyewanya.“Tuan ….” Ucapannya tidak dapat dilanjutkan karena merasakan surga dunia yang diciptakan oleh sang pria yang membuatnya sangat menikmati.Gerakan pria itu yang awalnya teratur semakin lama semakin kencang, bahkan wanita panggilan itu hanya bisa menutup matanya tanpa bisa mengeluarkan suara. Kepala wanita itu sampai terus-menerus terhantuk dashboard tempat tidur karena sangking kencangnya gerakan pria yang menyewanya. Hingga teriakan pelan wanita itu mengakhiri semuanya termasuk semburan terakhir yang diberikan pria itu pada sang wanita.Pria tampan dan kekar itu mengeluarkan bagian tubuhnya yang dari tadi membuat sang wanita berteriak penuh nikm
Nara tersenyum kecil dan itu terlihat oleh Nick.“Wahhh … kau cantik kalau tersenyum.”“Bukan waktunya gombal Nick.”“Aku hanya tidak mau kau terlalu sedih atau kepikiran. Kau tenang saja, adikmu itu akan segera ditemukan dan akan aku bawa pulang dengan selamat dan tidak kurang suatu apa pun juga.”Nara menatap Nick dengan tatapan datar namun bagi pria itu tatapan Nara menyimpan kelembutan, kekhawatiran dan kelegaan yang sedikit demi sedikit keluar dari sorot mata tajam itu.“Jangan khawatir semua akan baik-baik saja.”“Nara!”“Ibu … Ayah ….”“Ya Tuhan! Di mana adikmu? Apakah sudah ketemu?”“Ya jelas belum, kau pikir mencari anak pembangkang itu seperti dirimu mencari burger?”“Kau samakan anakku dengan makanan berlemak itu? Sialan kau Bra!”“Ibu tenanglah sekarang polisi sedang mencari Nat, aku yakin dia akan segera ditemukan.”Nick menatap tiga anggota keluarga Calsine itu dengan tatapan menilai. Nara yang berusaha tenang tetapi ada rasa jengkel dan sedih yang berusaha dia tutupi de
Nara masih berdiri di dekat rumah sang adik ditemani oleh Nick yang dengan setia dan telaten menemani dokter cantik itu. Tidak ada pembicaraan hanya suara beberapa tetangga yang masih melihat tempat kejadian perkara dan para aparat yang masih memeriksa rumah dan mencari barang bukti yang mungkin bisa membantu mereka mengetahui di mana Natasha berada sekarang.“Apa yang kau pikirkan?”Nara hanya diam tanpa menjawab pertanyan Nick. Sorot matanya berpindah dari rumah sang adik yang sudah rusak di beberapa sudut menuju tas ransel warna hitam yang Nara tahu itu bukan milik Natasha. Banyak pikiran yang datang dan memenuhi otaknya dan bisa dia ambil Kesimpulan bahwa selama ini dia—“Aku tidak mengenal adikku sendiri,” jawab Nara menyimpulkan semuanya.“Aku tidak mengenal Natasha dengan baik ternyata selama ini. Aku pikir sudah mengenal adikku itu lebih baik dari ayah dan ibu ku ternyata aku salah besar karena aku tidak tahu bagaimana kehidupan adikku itu, kakak macam apa aku ini.”Nara terta
Mobil yang ditumpangi oleh Natasha, Jasper dan teman-temannya berada di dalam hutan. Beruntung mereka menemukan jalan yang bisa menerobos gelapnya hutan, sehingga bisa lepas dari kejaran penjahat-penjahat itu dan masuk ke dalam hutan untuk bersembunyi sementara.Charlie dan Hactor mengumpulkan kayu-kayu untuk dibuat api unggun untuk menghangatkan tubuh, Jasper sendiri mulai menyiapkan api untuk membakar kayu-kayu yang dikumpulkan oleh kedua anak buahnya.“Tuan, apa segini cukup?”Jasper melihat kayu-kayu yang terkupul lumayan banyak dan mungkin bisa mereka pakai beberapa hari, karena dia perkirakan akan berada di dalam hutan nanti agak lama.“Sudah, bantu aku menatanya untuk api unggun.”“Wahhh … banyak sekali kayu-kayunya. Kita akan tinggal di hutan?”Jasper menatap Clarie yang terlihat penasaran karena melihat kumpulan kayu-kayu itu lumayan banyak jika mereka hanya bermalam di hutan satu malam saja.“Kita akan tinggal di hutan?” tanya Clarie lagi.“Tidak, tapi mungkin kita akan bers
Natasha melirik pelan pada Jasper yang terlihat santai duduk di sebelahnya sambil membaca salah satu buku koleksi Natasha. Jantung gadis itu berdebar kencang takut-takut kalau Jasper akan melakukan sesuatu padanya apalagi saat ini mereka berdua sedang berada di dalam kamar setelah Natasha memohon p
Natasha menelan air liurnya sulit, bagaimana tidak takut jika ancamannya sudah menyangkut malaikat maut. Natasha berdehem sebentar dan dengan mengumpulkan keberanian gadis itu mengangguk pelan pertanda dia setuju dengan perjanjian mereka.“Paling tidak aku bisa lumayan hidup layak,” monolog Natasha
“Ka-kau … pembunuh?”“Boleh dibilang begitu.”“Maksudnya?”“Banyak bicara kamu.”Natasha menelan ludahnya sulit apalagi saat melihat tatapan pria itu yang sangat menusuk dan mengerikan bagi dirinya. Tatapan tajam bagaikan pisau yang bisa kapan saja menghunus dirinya sekarang juga membuat Natasha in
“Akkkhhh … tolong … tolong … to ….”Brukkk ….Pria itu menghela napas kasar melihat Natasha tergeletak pingsan di lantai setelah tengkuk gadis itu dipukul olehnya. Pria itu tidak mau melakukan itu, dia tidak mau menyakiti si pemilik rumah namun ini semua terpaksa dia lakukan apalagi melihat Natasha







