LOGIN"Tubuhmu berkeringat, Alexander," imbuh Francesco sambil menyipitkan mata. "Kau habis olahraga atau ... habis melakukan sex?"
Alexander menghela napas, lalu segera menutup pintu kamar Ella rapat, memastikan tidak ada sehelai rambutmu terlihat dari dalam. "Itu bukan urusanmu," jawabnya datar. "Tapi kau sungguh kurang ajar berada di rumahku tanpa izin!" "Tenanglah sedikit, adik. Aku datang bukan untuk memulai pertengkaran. Justru aku ingin membicarakan7 Hari Kemudian.Pukul 11.00 AM.Ella duduk diam di kursi kamarnya.Tangan kanannya mengusap-usap perut tanpa sadar hingga ujung kaus yang dikenakannya terangkat. Tapi siapa peduli, hanya ada dirinya di tempat.Sementara itu, pandangannya tidak lepas dari laptop yang terletak di atas meja di depannya.Sudah lebih dari satu jam ia berada dalam posisi yang sama.Selama itu pula, ia terus berpindah dari satu video ke video lainnya di internet. Semua membahas topik yang sama, yakni cara menggugurkan kandungan.Mulai dari makanan yang dipercaya dapat memicu keguguran, ramuan herbal, aktivitas fisik yang berlebihan, hingga berbagai mitos dan pengalaman orang-orang yang mengaku pernah mengalaminya.Namun, tak ada satu pun yang mampu memberinya jawaban pasti. Semuanya terdengar omong kosong.Oh iya, jika ada yang bertanya bagaimana hasil 'Hadiah' yang diberikan Daisy seminggu lalu ...Jawabannya sederhana.Gagal total!Sedangkan semuanya sudah habis tanpa sisa.Kemarin, Ella bahkan kembali me
“Tapi tunggu." Ella menggaruk pelipisnya pelan. "Semua ini tidak akan meracuniku, bukan?"Daisy mengangkat bahu. "Kurasa tidak.""Kurasa?""Yang penting, target kita kandungannya berhenti berkembang 'kan?"Ella langsung menoleh tajam. "Ah, Daisy. Aku serius. Jika ujung-ujungnya aku ikut mati, lebih baik kau langsung saja bawakan tali atau peluru."Daisy malah terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. "Hahaha! Tak kusangka kau masih peduli nyawa dirimu."Ella tetap menatapnya datar.Tawanya perlahan mereda. Daisy merespon, "Ya ... berdoa saja semoga kau tidak kenapa-kenapa, sebab aku juga belum pernah kebobolan."Ella hanya bisa mendengus kesal, walau yang dikatakan temannya benar.Ia meraih salah satu botol alkohol yang tergeletak "Baiklah. Aku akan minum yang ini dulu. Kau ambil saja yang satunya."Mata Daisy langsung berbinar. "Untukku? Oh, terima kasih," gembiranya memeluk botol tersebut.Ella mengangguk asal. Lagi pula memang Daisy yang membelinya."Menurutku juga, lebih baik kau
Tin Tong ...! Rachel yang masih memegang majalah di sofa segera menutupnya, lalu berjalan menuju pintu depan dan membukanya. "Hei, Daisy," sapanya hangat. "Hallo, Mrs. Force." Daisy tersenyum lebar. "Kuharap aku tidak mengganggu." "Oh, ayolah. Jangan bicara seolah kita baru pertama kali bertemu. Ayo masuk." Daisy melangkah masuk ke dalam rumah. Baru saat itu Rachel menyadari kedua tangan gadis itu penuh oleh dua kantong belanja berukuran cukup besar. "Kau pasti ingin menemui Ella," ujar Rachel. "Dia ada di kamarnya. Langsung saja." "Benar." Daisy mengangkat salah satu kantong belanja ke arah Rachel. "Aku barusan ke supermarket. Kuharap Anda mau menerimanya." Rachel menerimanya sambil tersenyum hangat. "Terima kasih, Sayang. Tapi lain kali tidak perlu repot-repot seperti ini." "Hahaha ... supaya terlihat seperti tamu yang tahu sopan santun." Rachel ikut tertawa sambil menggeleng geli. Daisy akhirnya berjalan lebih jauh memasuki rumah. Tapi saat melewati ruang keluarga, lang
***Pintu ruangan Dr. Amelia Hart terbuka.Ella keluar sambil membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Langkahnya lambat disertai wajah lesu, sesuai dengan situasi yang tengah menimpanya.Ia menutup pintu itu pelan.Namun, baru satu langkah, mata Ella langsung membelalak."Ella?!"Suara itu membuat tubuhnya menegang.Di depannya berdiri Daisy yang tampak sama terkejutnya. Wanita itu berkedip beberapa kali, seolah memastikan dirinya tidak salah lihat.Lalu tanpa sadar tatapannya naik ke papan kecil di samping pintu.Dr Amelia HartObstetrician & GynaecologistEkspresi Daisy berubah. Matanya makin membesar dan bibirnya terbuka. "Kau-""Tidak, tidak, tidak." Ella langsung berjalan cepat menghampirinya lalu menutup mulut Daisy dengan panik. "Tolong jangan katakan apa pun. Aku bisa jelaskan!"Daisy langsung menyingkirkan tangan Ella dari mulutnya dengan wajah penuh keingintahuan. "Yeah, jelaskan cepat. Semuanya."Ella langsung menoleh ke kanan dan kiri. Lorong rumah sakit bukan tempat
Pukul 10:45 AM. Joshua memasukkan mobilnya hati-hati di garis parkir rumah sakit. Begitu pas, ia mematikan mesinnya.Finn tidak bisa ikut hari ini, sebab kemarin sudah cukup sulit mengambil cuti.Joshua melepas sabuk pengamannya lalu menoleh ke kursi samping. Ella masih duduk diam sambil menatap lurus ke depan. "Kau baik-baik saja?""Tidak."Pria itu mengangguk. "Jadi pertemuan hari ini batal," ucapnya sambil akan memasang sabuknya lagi. "Tidak!" jawab Ella cepat, membuat tangan kakaknya berhenti. "Tapi entah, aku ragu. Bagaimana jika sakit? Apa ada pisau? Apa harus masuk ruang operasi? Bagaimana jika malah terjadi malapraktik? Oh tidak, aku tidak mau, kumohon!"Kedua tangan Ella naik memijat pelipisnya dan napasnya mulai berantakan."Tidak masalah kalau kau ingin memikirkannya lagi. Bahkan itu lebih baik daripada mengambil keputusan yang salah lalu menyesal nanti. Rileks 'kan kepalamu."Ella segera menoleh. "Serius, Joshua?! Kau tidak mengerti bahwa aku tidak memiliki banyak waktu!
“Tidak ada yang pergi dari rumah ini!" Suara Rachel meninggi. Wanita itu menarik Ella mendekat, lalu memeluk bahunya erat seolah takut putrinya benar-benar akan pergi jika dilepaskan."Dia putriku," ucapnya lagi sambil menatap Ryan. "Dia tumbuh besar di rumah ini. Dan dia akan selalu diterima di sini kapan pun dia pulang.""Rachel! Dia sudah membuat kesalahan besar.""Lalu apa? Kau pikir selama hidup bersamamu aku selalu sempurna? Kau pikir dirimu juga begitu?"Ryan terdiam."Tidak, Ryan. Jika syarat tinggal di rumah ini adalah tidak pernah berbuat dosa, maka rumah ini sudah kosong sejak bertahun-tahun lalu." Pelukannya pada Ella semakin erat. "Dia memang melakukan kesalahan. Tapi, dia pulang. Bagaimana aku bisa menghukum anakku karena memilih pulang kepada keluarganya?"Ella perlahan melepaskan pelukan Rachel. "Mom, aku tidak-""Tidak apa?" potong Rachel cepat. "Kau tidak masalah keluar dari rumah ini? Jadi kau ingin meninggalkanku?""Tidak, maksudku-""Baiklah." Rachel langsung meng
Sinar matahari menembus celah tirai, menyoroti sisi wajah Alexander yang baru saja terbangun. Ia mengerjap pelan, matanya terasa berat dan kepalanya berdenyut. Saat tubuhnya berguling, pandangannya tertuju pada sosok Chloe yang masih terlelap di sebelahnya. Bahu wanita itu terekspos dari selimut pu
Mobil melesat dalam gelap, ban menggumam di aspal basah. Sementara kepalanya terus mencaci dirinya sendiri. Kenapa begitu lengah dan tolol terhadap setiap tanda yang terbuang?Ia bersumpah pihak mana pun yang terlibat, semuanya runtuh, dengan tangannya sendiri. Alexander akhirnya tiba di depan ged
"Siapa?" "Aku Teresa. Tetangga Ella dan ... dan sekarang aku tidak melihatnya."Alexander tak menjawab. Hening. Hanya suara napasnya yang terdengar lewat sambungan. "Apa maksudnya? Hilang?""Dia tidak ada di tempatnya! Apartemennya kosong! Ponsel tergeletak di lantai begitu saja. Apa kau sangat bo
Wanita itu terdiam sejenak, mencerna situasi dengan cepat. Lalu segera mengangkat Miu ke pelukannya dan berbalik. Dengan napas tersengal dan langkah tergesa, Ella berlari sekuat tenaga menuju unitnya. Pria itu jelas ikut berlari mengejarnya. Tapi Ella tetap fokus ke tujuannya tanpa berhenti sebent







