MasukHari pertama bekerja, aku justru memergoki bos baruku—penulis novel dewasa terkenal—dalam adegan yang terlalu pribadi untuk disebut profesional, dan sejak itu citranya langsung runtuh di mataku. Penolakanku melukai harga dirinya, dan kini Jarrel bersikeras mempertahankanku di sisinya… bukan hanya sebagai asisten, melainkan sebagai wanita yang perlahan ingin ia dekati, goda, dan buat luluh di bawah pesonanya yang berbahaya.
Lihat lebih banyak“Ahhh! Sayang … ini tidak muat! Ahhh … pelan-pelan!”
Aku pikir kejadian gila hanya terjadi di layar kaca, atau dalam tulisan fiksi yang selalu aku baca. Aku pikir aku sudah cukup berpengalaman dengan segudang kejadian aneh yang pernah aku lalui selama bekerja. Namun kurasa detik ini juga aku harus segera menarik kembali perkataan tersebut, karena hal traumatis telah tersaji di depan mata. Aku bertaruh situasi gila ini tidak akan pernah dialami oleh seorang asisten penulis mana pun di dunia.
Shit! Dalam situasi gila yang sedang aku hadapi kini, yang bisa kuperbuat hanyalah berdiri di posisiku dengan seluruh tubuh yang terasa mendadak kaku. Seluruh indra tiba-tiba mati rasa, pun juga kedua mata terbelalak dan mulut ternganga dengan jantung berpacu. Tak pernah aku membayangkan akan melihat langsung kebegajulan sosok manusia untuk pertama kali seumur hidupku. Di meja dapur, seorang pria tampan dengan rambut berwarna biru gelap tampak asyik menggerakan pinggulnya seraya terengah. Ia sedang sibuk meniduri seorang wanita seksi yang entah siapa. Mereka berpacu dalam kenikmatan tanpa sedikit pun menyadari adanya aku disini sebagai saksi atas perbuatan asusila yang mereka buat berdua. Mulanya aku pikir aku sedang bermimpi saat itu. Dan aku sangat ingin mempercayai bahwa adegan yang terjadi di depanku hanyalah sebuah adegan bullshit yang biasanya ditampilkan dalam adegan film biru. Tetapi ternyata tidak begitu. Sekeras apa pun aku menampar pipiku, ini adalah realita. “Jarrell… aku… aku sudah tidak tahan lagi!” Sehabis berteriak tubuh si wanita mengejang, ia tampaknya baru saja keluar. Disusul pula dengan pria tampan yang berada diatasnya yang ikut menggelepar. Mataku nyaris tidak berkedip dan malah fokus terhadap ekspresi yang pria itu ciptakan. Untuk pertama kalinya sepanjang hidupku yang kacau balau, aku terpesona. Laki-laki yang sedang mengalami nirwana terbaiknya itu memejamkan kedua mata dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh kepuasan dan juga kenikmatan yang selaras. Mulutnya terbuka sebagian dalam erangan tanpa suara dengan punggung yang melengkung tatkala butiran peluh mengucur dari kening. Lehernya yang panjang dan tubuhnya yang ramping adalah maha karya luar biasa yang tidak pernah terbayangkan sama sekali untuk aku lihat. Ekspresi wajahnya begitu intens, penuh nafsu, dan menggoda sehingga aku merasa diriku semakin merasa terlena dan— “Apa-apaan ini?!” teriakku tanpa bisa dicegah. Dalam sekejap adegan tak senonoh yang terputar secara live di depan sana terhenti. Laki-laki seksi berambut biru tua dan wanita dibawah dominasinya itu segera memisahkan diri, seraya menjatuhkan tatapan kepadaku. Sebuah refleks lantaran mereka terlalu kaget dengan keberadaanku yang tak mereka sadari sejak semula. Demi Tuhan, aku tidak bermaksud berteriak seperti itu, aku bahkan tidak bermaksud untuk mengganggu kebersamaan mereka. Hanya saja melihat dia yang—ahh! Sudahlah, aku tidak tahu lagi apa yang aku rasakan sekarang. Setelah berteriak seperti gadis hutan bar-bar selanjutnya aku malah tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiri disini seperti orang idiot yang tersipu malu lantaran menangkap basah mereka berdua yang sedang bercinta. Aku hanya sanggup menatap mereka dengan ekspresi ngeri ketika keduanya justru menyeringai tanpa dosa. “Oh, ya ampun ada tamu rupanya,” kata si wanita berambut pirang yang berujar pertama memecah keheningan. “Kau tampak manis,” lanjutnya lalu kemudian berbalik pada sang pria. “Dia asisten barumu itu ya, Jarrel?” Si pria berambut biru hanya menyeringai. “Ya, kurasa memang dia.” Aku mengutuk diri sendiri ketika fokusku teralih, terutama saat melihat seringai dari si pria tampan yang entah sejak kapan sudah mengenakan celananya. “Saya mencari Abraxas Cobalt. Apa beliau ada disini?” kataku agak takut. Dalam hati aku berharap pada Tuhan untuk mengabulkan satu pintaku. Tolong jangan sampai orang yang kucari adalah si pria berambut biru, karena kalau dia— “Jangan panggil aku dengan nama penaku disini, panggil aku Jarrel karena itu nama asliku.”Ya Tuhan! Bagaimana sekarang? seluruh kepingan puzzle seketika tersusun di dalam benak. Hal yang aku bisa jabarkan kini hanyalah dihari pertama aku bekerja aku malah memergoki bos baruku berhubungan seks dan yang paling mengerikan adalah aku terpana dan merasa basah padahal apa yang mereka lakukan adalah tindakan yang tidak bermoral dan terhina! Melihat aku yang tak sanggup bicara, si wanita yang menjadi pasangan main bosku lantas tersenyum dengan cara yang menggoda. Ia pun berbalik untuk menghadap ke arahku seutuhnya. Untungnya, meja tersebut berhasil menutupi bagian bawah tubuh walaupun bagian atasnya seolah memang ia sengaja pamerkan seolah ingin beradu karena milikku tidak sebesar milik perempuan itu. Aku segera menundukan kepala dan memusatkan pandanganku ke lantai. “Sebaiknya Anda segera berpakaian,” kataku dengan canggung. Entahlah… seharusnya bukan aku yang merasa malu akan keadaan ini melainkan dia. “Ha? Tidak perlu khawatir soal itu, aku tidak masalah bila tubuhku dipandangi siapa pun. Lagipula kita sama-sama perempuan,” katanya enteng. “Sepertinya maksudmu kau berharap gadis itu menikmati tontonan gratis yang baru saja kita lalui,” sahut si monster berambut biru itu dengan nada bicara yang menggoda. “Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa masuk ke dalam begitu saja, manis?” “Aku menekan bel pintu tetapi karena pintunya sedikit terbuka dan mendengar suara-suara aneh, aku pikir ada seseorang yang sedang disiksa. Jadi aku masuk tanpa berpikir,” jawabku jujur berusaha sekuat tenaga agar tidak terdengar gagap masih dengan kepala memilih melihat lantai. “Ah, kurasa kau lupa mengunci pintumu lagi, Jarrel,” sahut si wanita pada Jarrel. “Tapi kau tidak salah sih, aku memang sedang disiksa,” kata wanita itu padaku dengan senyum menggoda yang aku lihat sekilas saat menaikan pandangan. “Disiksa oleh kenikmatan,” pungkasnya sambil menjulurkan lidah pada Jarrel. Jarrel hanya tertawa, sebelum kemudian ia memberikan komentar. “Salah siapa aku lupa hm? Jika saja kau tidak langsung berlutut dan menghisapku begitu kita masuk ke dalam, aku pasti ingat,” timpal bos baruku dengan enteng dan tak tahu malu padahal apa yang baru saja dia katakan langsung membuatku shock bukan kepalang. Rasa canggung yang aku rasa kala berada di tempat ini kian bertambah berkali-kali lipat. Bagaimana bisa dia mengatakan hal semacam itu dengan begitu mudah? Dia bicara seolah itu seperti sebuah kalimat basa-basi macam menanyakan kabar, bukan hal-hal yang menjurus pada obrolan tabu. Aku ingin kabur di detik itu juga. Si wanita berambut pirang hanya terkikik, “Kau membuat dia takut, Jarrel. Tidak seharusnya kau berkata kotor di depan asisten barumu. Apalagi dia juga kelihatannya masih polos,” katanya lalu melangkahkan kaki memberi aku dan si bos baruku itu ruang bicara. “Dan, kurasa kita harus sudah selesai bermain, jadi aku mau mandi dulu!” sambungnya lagi sebelum berlalu masuk ke salah satu pintu. “Langsung pergi setelah selesai,” sahut bos baruku sambil berteriak. Kini hanya ada kami berdua. Pria tampan setengah telanjang, dengan badan berkilat oleh keringat yang menatapku lekat-lekat seolah aku barang langka yang tidak ada di mana pun di dunia. Bukannya aku ge-er tapi aku tahu bahwa dia sedang menatapku lantaran aku sempat meliriknya sekilas dan sialnya hal tersebut membuat jantungku berdebar kencang. Aku menggigil seolah aku adalah mangsa yang siap ia terkam kapan saja. Tapi mengapa efeknya harus sedahsyat ini sih? Demi Tuhan, ini sama sekali tidak bagus, baik untuk jantung maupun untuk hatiku. “Hai,” sapanya sambil menjentikan jari di depan mukaku. “Nona asisten?” Membuatku segera tersadar dan menelan ludah dengan penuh antisipasi. “Y-ya?” “Kau bergairah ya?” celetuknya asal sambil menyeringai. “Maaf?” Ia menunjuk dengan dagunya sebelum bicara. “Kurasa bagian dibawah sana sudah sangat lembab, tuh.” Oh sial! selain gila ternyata ia juga bajingan.Berhari-hari, hari masuk ke minggu, dan minggu masuk ke hitungan bulan. Chris secara berkala kerap mengunjungi Leiya di rumah sakit dan setiap kali ia datang menjenguk ia selalu menemukan Jarrel disana. Pria itu tampak sangat berbeda dari setiap kunjungan yang ia lakukan. Ia tampak seperti seorang pria putus asa yang melupakan caranya mengurus diri sendiri. Rambutnya sudah sangat panjang, dengan janggut tipis dan kumis yang tampaknya tak lagi dicukur sejak Leiya masuk ke rumah sakit. Ia benar-benar kehilangan semangat hidup. Seakan keberadaan Leiya di ranjang rumah sakit dalam kondisi ini sama dengan mematahkan arti hidup untuknya hingga ia kebingungan menentukan arah hidupnya sendiri.“Kau masih disini?” tanya pembuka yang seketika membuat pria itu melirik ke arahnya yang berada di ambang pintu. Rona matanya terlihat menerawang dan ekspresi wajahnya terlihat kuyu.“Kau datang lagi,” sahutnya lalu kembali menatap Leiya yang masih terbaring, Chris mendekat dan mendapati tangan pria itu
Ada pepatah bilang bahwa dunia itu berputar. Ada hal baik dan ada hal buruk. Serta yang buruk tak selamanya buruk, begitu pun sebaliknya. Dan kini… Chris mengalami sendiri arti dari perumpaan yang selalu ia anggap sebagai omong kosong belakang dahulu. Dibalik hal baik dalam urusan pribadinya (perkembangan hubungan romansanya dengan Bu Soraya) di sudut lain ternyata sahabatnya Leiya justru mengalami hal yang buruk. Ia mendapat kabar bahwa wanita itu mengalami kecelakaan. Bu Soraya adalah orang memberi tahunya tentang hal itu sehingga mereka berdua pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan sebenarnya.Mereka tiba di rumah sakit dengan Jarrel yang terlihat sangat terpukul. Pria itu duduk bersandar di ruang tunggu dekat ruangan tempat operasi sedang berlangsung. Kedua matanya menerawang dan ada jejak air mata yang tak kunjung mengering. Barangkali pria itu menangis berulang kali. Bu Soraya pun berupaya mengajaknya bicara tetapi lelaki itu tetap saja urung mengelu
Memahami jalan pikiran Bu Soraya sangatlah sulit. Setidaknya setelah insiden wanita itu mengaku cemburu atas pernyataan cinta yang ia dapati dari teman SMA-nya dahulu sama sekali tidak mempermudah apapun. Wanita itu masih saja misterius dan sulit ditebak. Walaupun begitu, Chris tetap bersyukur sebab ia sedikit tahu apa yang wanita itu rasakan terhadapnya. Ditengah hiruk pikuk kehidupan yang cukup sibuk dengan banyak hal, Bu Soraya merupakan wanita yang integritasnya terjaga. Yah, saking tingginya integritas yang ia miliki untuk perusahaannya, ia lupa menyisakan kejujuran untuk dirinya sendiri, pikir Chris.Bukan dengan sembarang Chris menyimpulkan hal tersebut, melainkan karena kehidupan Bu Soraya yang ia ketahui hanyalah kesibukan saat ia berada dikantor, dan sesekali memanggilnya untuk menghilangkan penat. Ia tidak pernah benar-benar tahu kehidupan pribadi wanita itu. Ya, kalau dipikir-pikir sih memang mereka tidak pernah berbagi kisah soal kehidupan.Meski dibeberapa kesempatan sej
Intan tak tahu pasti apa yang membuatnya secara nekat mendadak mengungkapkan hal yang selama ini ia rahasiakan. Mungkin karena ia tak tahan lagi karena selama ia mengenal Chris, ia hanya menjadi sosok pemerhati yang tak pernah cukup mendapatkan kesempatan memiliki atensi. Mungkin. Tapi… kemungkinan terbesar yang mendorongnya mengambil keputusan mendadak begini barangkali hanya karena ia melihat senyuman yang pemuda itu berikan kepadanya. Senyuman yang selalu membuatnya bersemangat untuk pergi ke sekolah. Senyuman dari seorang pria baik yang kerap menghiasi mimpi indahnya dulu… maupun sekarang.Beberapa saat berlalu begitu saja, seolah waktu hilang dan terbuang sia-sia. Keheningan melingkupi sekitar. Bahkan pemuda yang mendengar pengakuannya pun masih diam mematung di tempatnya. Tampak urung memberikan reaksi. Barangkali terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Satu tarikan napas—…ummmhh--dan sebuah suara maskulin terdengar memecah keheningan yang ada, keheningan yang beg
Setelah kurang lebih dua puluh menit bolak balik naik turun tangga sambil membawa barang-barangku sendiri, akhirnya aku bisa bernapas lega lantaran berhasil membawa semuanya ke kamar yang diperuntukan pria gila itu untukku. Sejujurnya ruangan tersebut jauh lebih besar dari milikku dirumah ibu. Bahk
Apa?Apa yang baru saja di tanyakan?Aku tahu bahwa cepat atau lambat pria kurang ajar ini akan mengatakan sesuatu yang tidak etis. Tapi aku betul-betul tidak mengira bahwa ia akan mengatakannya terlalu cepat seolah itu adalah kata magnetis. Sungguh, rasanya ingin sekali aku menarik cangkir kopi ya
“Berhenti bercanda!” sahutku sambil membeliakan mata, berharap ia berhenti mengatakan sesuatu yang tak pantas sebagai candaan. Namun anehnya, biar pun aku terus menatapnya dengan pandangan horror, Jarrel justru malah menatapku balik dengan sinar mata tertentu yang tidak dapat aku definisikan. Seola
Ia terkekeh begitu aku terlihat pasrah, tampaknya dia merasa menang banyak karena aku melebarkan bendera putih sebagai balasan. Ia menatapku dengan seringai penuh arti sebelum akhirnya ia menghilang dari ruang tamu menuju ke satu ruangan yang aku yakin adalah kamar tidur pribadinya. Aku sendiri tid












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.