MasukRania tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan jungkir balik dalam semalam. Ayah yang selama ini menjadi satu-satunya sandaran hidupnya meninggal mendadak karena serangan jantung, meninggalkan tumpukan hutang, adik yang harus ia lindungi, dan rentenir yang terus menguntit mereka. Dunia Rania yang sederhana kini runtuh, dan ia terpaksa bertarung sendirian untuk bertahan hidup. Bara Maheswara, salah satu pewaris kerajaan bisnis raksasa, terjebak dalam skandal yang hampir menghancurkan segalanya. Karier, warisan, dan reputasi keluarganya. Di bawah tekanan waktu dan ancaman kehilangan segalanya, dia hanya punya satu pilihan, menikah. Di tengah keputusasaan, sebuah kecelakaan kecil mempertemukan mereka. Pertemuan itu aneh, canggung, dan berakhir dengan debat panas. Namun tanpa diduga, itulah awal dari perubahan terbesar dalam hidup Rania. Sebuah pernikahan kontrak selama tiga tahun menjadi jalan keluar bagi keduanya. Dengan beberapa aturan. Tidak ada cinta, tidak ada sentuhan, dan tidak ada harapan. Namun, di balik batasan-batasan itu, perlahan tumbuh rasa yang tak bisa mereka tolak. Saat kontrak mendekati akhir, mereka dihadapkan pada pilihan: melanjutkan jalan masing-masing seperti perjanjian awal, atau melanggar semua aturan demi perasaan yang tak bisa mereka sangkal. Sebuah kisah tentang pernikahan pura-pura, rahasia kelam, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh bukan karena janji... tapi karena keberanian untuk memilih.
Lihat lebih banyak"Baraaaa!!!" Tiba-tiba sunyi. Tak ada benturan atau suara mencekik itu lagi. Bara dan Becca sama-sama terdiam dalam kondisi shock. Nafas mereka memburu. Jantung mereka berdetak kencang. Perlahan mereka saling pandang, antara bingung dan lega karena mereka masih diberi kesempatan untuk hidup. Truk itu tetap melaju melewati mereka, seakan tak peduli dengan mobil mereka yang hampir saja tertabrak. Untungnya tadi Bara dengan cepat langsung membanting setir dan membuat mobil itu berputar, sehingga kecelakaan itu tak pernah terjadi. "Kamu... tak apa-apa?" tanya Bara pada Becca. Pertanyaan pertama yang ia lontarkan sejak ia dan Becca menikah. Becca mengangguk pelan. Ia masih berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup tak karuan. Tapi melihat wajah Bara yang penuh kekhawatiran, ketakutannya langsung sirna. Ia sadar jika Bara masih menyimpan empati padanya. Walaupun pria itu bersikap dingin, tapi Becca bisa melihat jika Bara masih takut terjadi apa-apa padanya. Bara menginjak ped
Keesokan paginya Becca bangun dengan perasaan cemas. Walaupun dia sudah menuruti keinginan Rafael semalam, tapi tetap saja dia tak bisa begitu mudah percaya pada pria itu. Bara akan menagih janjinya untuk memeriksakan kandungan. Dan jika Rafael mengacaukan semua rencananya, dia bisa mati ditangan Bara.Becca memoles wajahnya agar tampak segar, dan menutupi wajah pucatnya yang ketakutan. Ia juga memakai gaun yang cantik dan seksi untuk menarik perhatian Bara. Bagaimanapun, tujuan utamanya adalah mendapatkan kembali hati Bara dan membuat Bara benar-benar menghamilinya. Setelah beberapa kali berputar di depan cermin, Becca pun akhirnya bisa menemui Bara dengan rasa percaya diri.Bara duduk di ruang tamu. Ia tak menoleh ataupun melirik ke arah Becca yang keluar dari kamar."Mau sarapan dulu?" tanya Becca berbasa-basi.Bara menatap arlojinya sekilas sebelum beranjak, "Aku tak punya banyak waktu. Banyak pekerjaanku yang terbengkalai beberapa hari ini."Becca manyun. Bahkan usahanya untuk me
sebulan bulan kemudian ia dan adiknya sedang melihat kebutuhan bayi saat mereka tak sengaja bertemu tama. tama terkejut, tapi rania mengancam tama agar tutup mulut. sementara itu, becca shock mengetahui dirinya benar2 hamil. dan itu adalah anak sang dokter, bukan anak bara "Gila! Jangan ngawur!" umpat Becca sambil mendorong Rafael menjauh. Tapi bukannya takut, Rafael malah terkekeh senang melihatnya. "Ayolah Bec, kamu membutuhkannya kan? Atau... kamu yakin Bara sendiri yang akan menghamilimu? Kau tahu kau harus benar-benar hamil agar kau merasa aman." Becca tertegun. Benar juga. Dia tak mungkin memalsukan kehamilan selamanya. Cepat atau lambat Bara akan mencurigainya. Jadi sekarang dia hanya punya dua pilihan. Benar-benar hamil, atau... "Ada satu pilihan lain agar aku bisa aman," kata Becca sambil mengangkat dagunya. Sekarang, didepan Rafael yang licik, ia harus terlihat tenang dan kuat agar pria mesum ini tak bersikap seenaknya. "Apa itu?" "Keguguran," jawab Becca dengan n
Bara masuk ke dalam apartemennya dengan wajah datar. Ia melempar jasnya ke atas sofa sebelum duduk dan mulai memejamkan mata. Becca berjalan dengan tergopoh-gopoh dengan tangan yang penuh dengan tas dan koper. Ia langsung cemberut dan membanting semuanya saat melihat Bara malah duduk dan tak mempedulikannya."Sayang! Bantuin aku bisa gak sih?" protesnya.Bara tak bergeming."Sayang!" rengek Becca. Ia menghampiri Bara dan duduk di samping pria itu. Wajahnya masih ditekuk karena kesal."Kamu kenapa sih? Ini kan hari pertama kita kembali ke apartemen kamu. Akhirnya kita bisa tinggal bareng lagi kayak dulu. Seharusnya kamu bahagia dong!""Bahagia?" ulang Bara tak percaya. Ia tertawa mengejek dan menggelengkan kepalanya, "Menurutmu aku masih bisa bahagia setelah semua drama yang kau buat?""Drama yang kubuat? Drama yang mana ya? Apa maksudmu drama kehamilan ini?" tanya Becca tak terima sambil memegang perutnya yang rata.Bara melirik ke arah perut Becca lalu menghela nafas. Sadar jika sekar
Lampu-lampu kota mulai meredup satu per satu dari balik jendela apartemen, meninggalkan suasana malam yang hangat dan tenang. Rania duduk bersandar di dada Bara di atas sofa ruang tengah. Sebuah film lama diputar di televisi, tapi tak satu pun dari mereka benar-benar menontonnya. Tawa pelan dan obr
Hari mulai siang, sekolah tempat Rania mengajar pun semakin ramai dipadati oleh para orang tua yang hendak menjemput anaknya. Reza sedang memejamkan mata, berusaha mendinginkan kepalanya ketika suara bising motor dan mobil itu bersliweran di depan mobilnya. Rasanya kepalanya hampir pecah, karena te
Beberapa jam kemudian Rania kembali terbangun, kali ini dia tertidur dalam pelukan Bara. Bukan karena efek aneh yang ia rasakan semalam, melainkan dengan kesadaran penuh.Rania diam sejenak dalam posisinya. Ia berbaring miring dengan tangan merangkul perut Baraz sementara pria itu memegang tangan R
"Rania mabuk!?" seru Bara kaget, "Sebutkan dimana tempatnya. Aku kesana sekarang!"Bara segera memutus sambungan telepon itu setelah Tama memberitahunya dimana tepatnya ia berada sekarang. Bara baru selesai lembur di kantor ketika tadi Tama meneleponnya. Jadi, tanpa berpikir panjang ia langsung mem












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.