Masuksebulan bulan kemudian ia dan adiknya sedang melihat kebutuhan bayi saat mereka tak sengaja bertemu tama. tama terkejut, tapi rania mengancam tama agar tutup mulut. sementara itu, becca shock mengetahui dirinya benar2 hamil. dan itu adalah anak sang dokter, bukan anak bara "Gila! Jangan ngawur!" umpat Becca sambil mendorong Rafael menjauh. Tapi bukannya takut, Rafael malah terkekeh senang melihatnya. "Ayolah Bec, kamu membutuhkannya kan? Atau... kamu yakin Bara sendiri yang akan menghamilimu? Kau tahu kau harus benar-benar hamil agar kau merasa aman." Becca tertegun. Benar juga. Dia tak mungkin memalsukan kehamilan selamanya. Cepat atau lambat Bara akan mencurigainya. Jadi sekarang dia hanya punya dua pilihan. Benar-benar hamil, atau... "Ada satu pilihan lain agar aku bisa aman," kata Becca sambil mengangkat dagunya. Sekarang, didepan Rafael yang licik, ia harus terlihat tenang dan kuat agar pria mesum ini tak bersikap seenaknya. "Apa itu?" "Keguguran," jawab Becca dengan n
Bara masuk ke dalam apartemennya dengan wajah datar. Ia melempar jasnya ke atas sofa sebelum duduk dan mulai memejamkan mata. Becca berjalan dengan tergopoh-gopoh dengan tangan yang penuh dengan tas dan koper. Ia langsung cemberut dan membanting semuanya saat melihat Bara malah duduk dan tak mempedulikannya."Sayang! Bantuin aku bisa gak sih?" protesnya.Bara tak bergeming."Sayang!" rengek Becca. Ia menghampiri Bara dan duduk di samping pria itu. Wajahnya masih ditekuk karena kesal."Kamu kenapa sih? Ini kan hari pertama kita kembali ke apartemen kamu. Akhirnya kita bisa tinggal bareng lagi kayak dulu. Seharusnya kamu bahagia dong!""Bahagia?" ulang Bara tak percaya. Ia tertawa mengejek dan menggelengkan kepalanya, "Menurutmu aku masih bisa bahagia setelah semua drama yang kau buat?""Drama yang kubuat? Drama yang mana ya? Apa maksudmu drama kehamilan ini?" tanya Becca tak terima sambil memegang perutnya yang rata.Bara melirik ke arah perut Becca lalu menghela nafas. Sadar jika sekar
Pesta pernikahan Bara dan Becca sudah hampir dimulai. Musik romantis mengalun dengan lembut, makanan lezat sudah disajikan, dan para tamu sudah berdatangan. Namun di balik ballroom hotel berbintang itu, ada kericuhan di salah satu kamar. Tepatnya kamar Bara. Bara hanya diam, tak mau keluar dari sana dan mengikuti acara. Padahal, justru dialah bintangnya karena dia adalah mempelai pria. Akhirnya Tama serta ayah dan nenek Bara mulai membujuk pria itu. Situasi makin memanas karena sudah hampir setengah jam Bara tak kunjung bersedia, sementara Becca membuatnya semakin runyam dengan tantrum dan menangis penuh drama. "Ayolah, kita sudah sampai disini. Jangan menunda lagi," bujuk Tama. Bara menggeleng, "Ini tak semudah itu Tam. Aku butuh keberanian untuk berdiri di depan sana dan tersenyum sepanjang hari." "Keberanian? Kamu itu Bara Maheswara!" sahut sang ayah geram. "Mengapa kamu baru membutuhkan keberanian itu sekarang? Apa keberanianmu tertinggal di atas ranjangnya!?" tambah Nen
Suasana rumah Maheswara pagi itu ramai. Semua orang sibuk mempersiapkan pernikahan privat namun tetap elegan antara Bara dan Becca. Rencananya pernikahan itu akan dilaksanakan di salah satu ballroom hotel bintang 5, dan dihadiri tak lebih dari 50 orang yang terdiri dari kerabat dan rekan kerja penting. Bara berdiri membeku di kamarnya, menatap ke jendela dimana terlihat mobil keluarganya sudah siap terparkir di bawah sana. Ia menghela nafas. Berharap ada sedikit celah untuknya kabur dan menghilang hari ini, sebelum pernikahan itu terjadi. Bagaimanapun ia berusaha, ia takkan bisa ikhlas begitu saja melepas Rania. Rania... dimana kamu? Kumohon tunggu aku sedikit lagi... batin Bara. Tiba-tiba pintu diketuk dan Tama masuk. Sahabat Bara itu tersenyum pahit melihat temannya memakai jas pengantin dengan wajah muram. Tama berdiri di belakang Bara, menatap Bara dengan tatapan prihatin. "Ini mungkin berat, tapi kamu harus melakukannya..." kata Tama mengingatkan. "Tak adakah har
Seminggu berlalu begitu lambat bagi Bara dan Rania. Walaupun rasa perih dan rindu itu selalu menghantui, tapi akhirnya mereka mulai bisa mengikhlaskan satu sama lain. Apalagi, Bara benar-benar dijaga ketat oleh para pengawal, yang membuat dirinya tak bisa berkutik sama sekali. "Kalau kamu nekat kabur, kamu tahu aku pasti bisa menemukanmu dengan mudah," ucap nenek Bara siang itu. "Dan jika sampai aku menemukanmu bersama Rania. Bukan dirimu yang harus kau khawatirkan. Kau tahu apa yang akan kulakukan pada gadis itu." Mendengar ancaman itu, Bara pun melemah. Hancur sudah harapannya untuk mempertahankan pernikahan. Hancur juga semua rencana kabur yang sudah ia pikirkan setiap malam. Ia boleh hancur, tapi jangan dengan Rania. Itu yang ada di dalam kepala Bara. Mungkin sekarang Rania terluka karena kehilangan Bara. Tapi jika ia mencoba mempertahankan Rania, mungkin rasa sakit itu akan jauh lebih besar karena Rania bisa kehilangan semua hal yang ada di sekitarnya. Bara tak mau it
Tama menarik nafas panjang ketika menginjakkan kakinya di depan rumah tua itu. Terakhir kali ia kesini, ia menemui Rania untuk mengurus pernikahan Rania dan Bara. Sungguh ironis sekali jika sekarang ia harus kembali kesana untuk menghancurkan apa yang sudah mereka mulai.Perceraian keduanya. Mungkin ini menyakitkan. Tapi Tama tak bisa berbuat apa-apa. Semua terlalu rumit, dan kekuasaan keluarga Bara terlalu besar. Ia bisa membantu Rania pelan-pelan, sedikit demi sedikit, tapi tidak sekarang. Ia yakin itulah yang diinginkan Bara. "Om Tama?" Tama tersentak. Ia belum mengetuk pintu, tapi Reyhan tiba-tiba keluar dari sana dan melihatnya. "Ada perlu apa Om Tama kemari?" tanya Reyhan penuh selidik. Ia segera menutup pintu agar Raina tak mendengar mereka. Tama melirik ke arah pintu di belakang Reyhan. "Aku mau bertemu kakakmu." "Mau apa?" sela Rayhan dingin, "Apa belum puas kalian mengganggu dan menyakiti Kak Raina?" "Rey, ini tidak seperti itu. Beri waktu aku menjelaskan. Dan juga...
Lampu-lampu kota mulai meredup satu per satu dari balik jendela apartemen, meninggalkan suasana malam yang hangat dan tenang. Rania duduk bersandar di dada Bara di atas sofa ruang tengah. Sebuah film lama diputar di televisi, tapi tak satu pun dari mereka benar-benar menontonnya. Tawa pelan dan obr
Hari mulai siang, sekolah tempat Rania mengajar pun semakin ramai dipadati oleh para orang tua yang hendak menjemput anaknya. Reza sedang memejamkan mata, berusaha mendinginkan kepalanya ketika suara bising motor dan mobil itu bersliweran di depan mobilnya. Rasanya kepalanya hampir pecah, karena te
Beberapa jam kemudian Rania kembali terbangun, kali ini dia tertidur dalam pelukan Bara. Bukan karena efek aneh yang ia rasakan semalam, melainkan dengan kesadaran penuh.Rania diam sejenak dalam posisinya. Ia berbaring miring dengan tangan merangkul perut Baraz sementara pria itu memegang tangan R
"Rania mabuk!?" seru Bara kaget, "Sebutkan dimana tempatnya. Aku kesana sekarang!"Bara segera memutus sambungan telepon itu setelah Tama memberitahunya dimana tepatnya ia berada sekarang. Bara baru selesai lembur di kantor ketika tadi Tama meneleponnya. Jadi, tanpa berpikir panjang ia langsung mem







