LOGINMalam itu, Arsen, Alya, dan Dante berkumpul di ruang kerja pribadi di lantai atas Mahardika Mansion. Di atas meja terbentur berkas-berkas baru yang berhasil dikumpulkan tim penyelidik Arsen, bukti percakapan, perjanjian rahasia, dan rekaman transaksi yang menghubungkan Selena dengan kelompok usaha saingan yang baru saja mencoba mengacaukan rapat. "Dia merencanakan ini sejak lama," ucap Dante sambil menunjuk lembar perjanjian kerja sama tertanggal dua bulan lalu. "Dia berjanji memberikan akses ke jalur distribusi utama jika mereka bersedia membantu menjatuhkan Tuan Arsen dan mengambil alih kendali." Alya menatap dokumen itu sambil mengerutkan kening. "Dia tahu kita sedang mengumpulkan bukti. Dia pasti akan mencoba langkah terakhir yang lebih nekat sebelum kita menyerahkan semua ini ke dewan direksi." "Dan kita harus berada satu langkah di depannya," sambung Arsen. "Kita tahu dia berencana menanam dokumen palsu besok pagi di arsip pusat, dokumen
Pagi itu, ruang rapat utama Mahardika Corporation terasa lebih padat dari biasanya. Keberadaan Alya di kursi sebelah Arsen kini sudah bukan hal yang asing lagi, namun kehadiran tiga orang asing yang didatangkan Selena membuat suasana berubah menjadi mencekam. Ketiga pria itu memiliki aura kasar dan tatapan tajam yang jelas bukan berasal dari dunia bisnis yang bersih. "Selamat pagi, Bapak-Bapak," ucap Selena dengan senyum yang tak sampai ke matanya, sambil menunjuk pria-pria di sampingnya. "Ini adalah perwakilan dari kelompok usaha yang selama ini bekerja sama dengan kami di sektor luar negeri. Mereka datang karena mendengar banyak keraguan mengenai arah kebijakan perusahaan belakangan ini, dan ingin memastikan bahwa kepentingan mereka tidak terabaikan." Arsen tidak menjawab, hanya menatap ketiga pria itu dengan tatapan dingin yang membuat mereka menahan diri. Alya menyadari sesuatu yang tidak beres sejak awal, cara pria-pria itu duduk, posisi tangan mereka yang sering berada di dek
Kabut tipis masih menyelimuti kawasan gedung pencakar langit pusat bisnis Jakarta saat Arsen dan Alya tiba di lantai teratas Mahardika Corporation. Udara di dalam ruang kerja pribadi Arsen terasa lebih dingin dari biasanya, bukan hanya karena suhu pendingin ruangan yang diatur rendah, tapi karena ketegangan yang menyesakkan dada. Di atas meja kerja besar itu terbentur laporan berhalaman-halaman, berisi serangkaian tindakan yang dilakukan Selena dalam sepuluh hari terakhir: memutus kerja sama dengan mitra strategis yang telah bekerja sama puluhan tahun, menyebarkan isu tak berdasar tentang kestabilan keuangan perusahaan, hingga menaikkan harga layanan pada sektor yang menjadi tumpuan utama pendapatan kelompok usaha ini. "Dia tidak main-main," ucap Arsen pelan, jari telunjuknya menekan nama salah satu mitra dagang terbesar yang hari ini secara resmi mengirim surat penghentian kerja sama. "Dia tahu persis mana titik lemah yang bisa membuat perusahaan ini goyah tanpa harus menggunakan k
Sinar matahari pagi menembus tirai jendela ruang rapat utama Mahardika Corporation, namun tidak membawa kehangatan bagi siapa pun yang duduk di ruangan itu. Di satu sisi meja panjang, Arsen duduk tegak di kursi utamanya, Dante berdiri di belakangnya dengan wajah tegas. Di sisi lain, Selena Mahardika tersenyum manis sambil melipat berkas laporan keuangan di hadapannya, senyum yang menyembunyikan niat buruk yang sudah disusunnya bertahun-tahun. Namun hari ini, ada kursi tambahan di sebelah Arsen. Dan saat Alya melangkah masuk dengan pakaian jas rapi berwarna gelap, langkahnya tenang dan penuh keyakinan, seluruh ruangan terdiam. Selena menyipitkan matanya. "Bukankah ini ruang rapat khusus direksi, Sepupu? Apa yang dilakukan istri mudamu di sini? Apakah kau mulai membiarkan orang asing mengurus urusan perusahaan?" Alya tidak menjawab segera. Ia berjalan menuju kursi di sebelah Arsen, duduk perlahan, lalu menatap Selena dengan tenang. "Ak
Malam itu, hujan turun deras memukul kaca jendela lantai teratas Mahardika Mansion, menciptakan irama yang samar di tengah keheningan ruang kerja Arsen. Alya duduk tegak di kursi kulit di seberang meja kerjanya, jari-jarinya meremas tepi berkas dokumen yang baru saja Dante berikan lima menit lalu. Napasnya teratur, namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang berubah, sejak ia mendengar pengakuan Bima Prasetyo tiga hari lalu, sejak ia menyadari bahwa ia tidak pernah sekadar pion lemah dalam permainan ini, melainkan bagian dari papan catur yang selama ini disembunyikan semua orang. Arsen bersandar di sandaran kursinya, menatapnya tanpa berkedip. Cahaya lampu meja yang hangat menyinari garis rahangnya yang tegas, namun matanya yang gelap tak lagi memancarkan dendam dingin seperti dulu. Ada kekhawatiran, ada rasa takut, takut Alya akan pergi, takut ia akan memandangnya sebagai monster yang sama seperti yang ia duga selama ini. "Kau yakin?" tanyanya pelan, suaranya berat. "
Meskipun sudah tertangkap, Selena tidak menyerah begitu saja. Saat dibawa masuk ke ruang rapat utama di lantai atas, ia masih menatap semua orang dengan tatapan penuh kebencian dan kepongahan. Ia yakin rencananya sudah terlalu matang untuk digagalkan begitu saja. “Kau mungkin bisa mengurungku sekarang, Arsen,” ucap Selena dengan nada meremehkan saat duduk di kursi yang disiapkan khusus untuknya. “Tapi kau tidak bisa mengubah kenyataan bahwa sebagian besar anggota dewan direksi sudah mendukungku. Mereka tahu siapa yang paling pantas memimpin perusahaan ini.” Arsen berdiri di depan meja rapat yang panjang, menatap satu per satu wajah orang-orang yang duduk di sana. Beberapa tampak gugup, beberapa menunduk menghindari tatapannya, dan beberapa lainnya menatapnya dengan ragu. Ia tahu Selena benar, ia telah menyogok, mengancam, dan memanipulasi banyak orang selama ini. Kepercayaan itu tidak bisa kembali dalam sekejap. “Kau benar, Selena,” ucap Arsen
Hujan masih turun sejak sore hari, meninggalkan jejak basah di kaca yang tinggi, di Mahardika Mansion.Malam itu terasa lebih sunyi, bahkan suara langkah para penjaga di lorong pun, terdengar seperti gema yang jauh.Alya berdiri di depan jendela kamar, yang kini telah menjadi miliknya. Jemarinya me
Langkah Alya terhenti di ambang pintu kaca besar, yang menghadap ke halaman mansion. Pagi itu tidak terasa sunyi seperti kemarin, ada sesuatu yang berubah. Udara terasa lebih berat dan berbahaya. Dari balik tirai tipis yang ia geser perlahan, Alya melihat pemandangan yang membuat dadanya mengen
Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-b
Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asin







