Mag-log inPagi itu, gedung Mahardika Corporation dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Ruang rapat utama di lantai 50, biasanya digunakan untuk acara-acara besar, telah disiapkan untuk rapat pemegang saham darurat yang akan menentukan nasib perusahaan, dan mungkin juga nyawa orang-orang di dalamnya. Alya berdiri di samping Arsen di ruang tunggu sebelum rapat dimulai, mengenakan setelan formal yang dipilihkan khusus untuk hari ini, sesuatu yang memancarkan kekuatan dan ketenangan meski hatinya berdebar kencang. "Kau siap?" Arsen bertanya, tangannya menggenggam tangan Alya erat. "Selama kau di sampingku, aku siap menghadapi apa pun," Alya menjawab dengan tekad yang membara di matanya. Dante mendekat, membawa map berisi seluruh dokumen bukti yang telah mereka kumpulkan. "Semuanya sudah siap, Tuan. Joko sudah berada di ruangan sebelah, siap memberikan kesaksian jika diperlukan. Tim hukum juga sudah bersiaga." "Bagaimana kondisi Se
Pagi itu, ponsel Alya berdering tepat jam tujuh, nomor tidak dikenal yang sama seperti sebelumnya. Ia melirik ke arah Arsen yang sedang bersiap-siap di ruang ganti, kemudian menjawab panggilan itu dengan suara pelan. "Alya," suara Selena terdengar tegang, jauh berbeda dari ketenangan yang ia tunjukkan kemarin. "Aku sudah membuat keputusan. Aku ingin bekerja sama dengan kalian, tapi aku butuh perlindungan segera. Reza mulai curiga bahwa aku ragu-ragu, dan aku takut dia akan bertindak lebih cepat dari rencana." "Di mana kau sekarang?" Alya bertanya, jantungnya berdebar kencang. "Aku di apartemen pribadiku di kawasan Kemang. Tapi Alya, aku pikir aku sedang diawasi. Ada mobil yang sudah parkir di depan gedung sejak semalam, dan aku yakin itu bukan kebetulan." Alya segera memberi isyarat pada Arsen yang langsung mendekat begitu melihat ekspresi seriusnya. "Tunggu, Selena. Aku akan memberitahu Arsen sekarang. Kami akan mengirim bantuan segera."
Dua hari sebelum rapat pemegang saham darurat, suasana di Mahardika Corporation semakin tegang. Setiap sudut gedung dipenuhi bisik-bisik ketakutan, dan Alya bisa merasakan tatapan curiga dari para karyawan setiap kali ia melintasi lorong kantor bersama Arsen. Tim hukum sudah bekerja siang malam untuk menyusun berkas yang akan membongkar identitas asli David Halim sebagai Reza Aditama, menggunakan dokumen yang diberikan Bima Prasetyo. Namun ada satu masalah besar yang mengganjal pikiran Arsen. "Kita butuh saksi hidup untuk menguatkan bukti dokumen ini di pengadilan, jika mereka menggugat balik," kata pengacara utama Mahardika Corporation, seorang wanita bernama Ibu Sari, dalam rapat strategi pagi itu. "Dokumen saja bisa dipertanyakan keasliannya." "Bima Prasetyo sudah setuju untuk bersaksi," Arsen menjawab, meski nada suaranya menunjukkan betapa rumitnya keputusan itu baginya. "Itu bagus, tapi mengingat keterlibatannya dalam penipuan aset l
Pagi menyingsing dengan cahaya keemasan yang menembus tirai kamar, namun suasana di Mahardika Mansion jauh dari kata tenang. Alya terbangun mendapati Arsen sudah berpakaian rapi, berdiri di dekat jendela dengan ponsel menempel di telinganya, suaranya rendah namun tegas, mode kerja yang sudah sangat dikenalnya. "...aku ingin laporan lengkap tentang pergerakan David Halim dalam dua puluh empat jam terakhir," Arsen berkata pada seseorang di ujung telepon. "Jangan ada yang terlewat, sekecil apa pun itu." Ia menutup telepon begitu menyadari Alya sudah bangun, ekspresinya melunak sedikit meski ketegangan masih terlihat jelas di garis rahangnya. "Selamat pagi," katanya, melangkah mendekat dan mengecup dahi Alya. "Bagaimana tidurmu?" "Lebih baik dari yang kuduga," Alya menjawab jujur, duduk bersandar pada headboard ranjang. "Ada kabar baru?" Arsen duduk di tepi ranjang, wajahnya serius. "Dante menemukan sesuatu semalam. David Halim, ata
Setibanya di mansion, Arsen sudah menunggu di depan pintu utama, wajahnya tegang, namun begitu melihat Alya keluar dari mobil dengan selamat, sesuatu di matanya melunak untuk sesaat sebelum ia menariknya ke dalam pelukan yang begitu erat hingga Alya nyaris kehabisan napas. "Kau membuatku hampir gila," bisiknya di rambut Alya, suaranya bergetar dengan emosi yang jarang ia perlihatkan. "Aku bilang tim akan berjaga sepuluh meter darimu, bukan berarti kau boleh membiarkan mereka mengenalimu." "Aku tidak sengaja," Alya membalas, suaranya teredam di dada Arsen. "Aku tidak tahu salah satu dari mereka pernah melihatku di acara amal bulan lalu." Arsen melepaskan pelukannya, tangannya masih menggenggam bahu Alya, matanya memindai wajahnya seolah memastikan tidak ada luka yang tersembunyi. "Kau terluka?" "Tidak. Hanya... terkejut." Arsen menghela napas panjang, tangannya bergerak untuk mengusap pipi Alya dengan lembut—gerakan yang begitu b
Pagi berikutnya, Alya terbangun mendapati sisi ranjang Arsen sudah kosong dan dingin — tanda bahwa suaminya sudah bangun jauh sebelum matahari terbit. Ia menemukan pria itu di ruang kerja pribadinya, dikelilingi oleh tumpukan dokumen dan tiga layar monitor yang menampilkan data finansial serta rekaman CCTV. "Kau tidak tidur semalaman?" Alya bertanya, bersandar di kusen pintu. "Aku tidak punya waktu untuk tidur." Arsen tidak mengangkat pandangannya dari layar. "Reza Aditama menghilang selama lima belas tahun. Itu berarti dia sudah membangun jaringan barunya di suatu tempat, dengan identitas berbeda. Aku harus menemukan tempat itu sebelum dia dan Selena menyelesaikan rencana mereka." Alya melangkah masuk, matanya jatuh pada salah satu foto yang tertempel di papan kerja Arsen — foto seorang pria paruh baya dengan senyum yang menurut Alya terlihat terlalu ramah untuk seseorang yang dicurigai terlibat dalam kematian dan pengkhianatan. "Ini dia?
Hujan masih turun sejak sore hari, meninggalkan jejak basah di kaca yang tinggi, di Mahardika Mansion.Malam itu terasa lebih sunyi, bahkan suara langkah para penjaga di lorong pun, terdengar seperti gema yang jauh.Alya berdiri di depan jendela kamar, yang kini telah menjadi miliknya. Jemarinya me
Langkah Alya terhenti di ambang pintu kaca besar, yang menghadap ke halaman mansion. Pagi itu tidak terasa sunyi seperti kemarin, ada sesuatu yang berubah. Udara terasa lebih berat dan berbahaya. Dari balik tirai tipis yang ia geser perlahan, Alya melihat pemandangan yang membuat dadanya mengen
Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-b
Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asin







