LOGIN“Mengapa kau katakan semua ini kepadaku?” tanya Svanna diliputi hujaman jarum menembus sampai ke inti jantung.
“Hanya agar kau tahu dan tidak berharap kepada kakakku. Nightroe bukan orang baik. Dia bisa melakukan apa pun yang tidak pernah kau pikirkan sebelumnya. Semoga ini juga bisa membuatmu berpikir lagi kalau terlalu lama tinggal di sini tidaklah aman. Kau bisa mendatangiku jika memang membutuhkan bantuan untuk melakukan pelarian. Aku akan selalu berada di sampingmu.” Pernyat“Anda yakin akan mengenakan dress ini, Ms? Apakah nanti tidak melukai perasaan Tuan Russol Sullivan, karena beliau sendiri yang menyiapkan dress khusus untuk Anda?” Perhatian Svanna menyorot pantulan wajah Alina di depan cermin. Dia yakin tidak ada yang salah dari dress satin dan sentuhan polos miliknya. Mungkin memang perlu melakukan beberapa hal untuk diselesaikan. Sebagai ganti, dress pemberian Russol Sullivan akan dibawa bersama mereka, termasuk Alex yang akan menyetir nanti. Svanna berencana mengembalikan dress tersebut kepada ayah mertuanya untuk beberapa alasan yang dia rasa masih bisa diterima dengan baik. “Kau tenang saja. Ayah Nightroe akan mengerti kalau aku tidak terbiasa dengan hal – hal seperti ini,” ucap Svanna sambil tersenyum tipis. Benar, paling tidak, sesuatu dalam dirinya masih butuh adaptasi serius. Russol Sullivan akan mengerti—tanpa berusaha memaksakan kehendak. Pria paruh baya itu tidak seperti Nightroe. Suatu hal yang akhirnya Svanna sadar
“Ms, apa Anda di dalam?” “Barang – barang pemberian tuan besar Sullivan tertinggal di luar. Saya membawakannya untuk Anda.” Svanna berulang kali mengerjap saat suara Alina dari luar menarik seluruh perhatiannya ke permukaan. Tidak dimungkiri, perlu waktu beberapa saat sekadar memahami situasi di sekitar. Masih dengan kamar dan ranjang yang sama. Dia tidak pernah sadar bahwa akan tertidur, kemudian terbangun dengan keadaan cukup kacau; rambut teracak berantakan, demikian pula matanya terasa panas membengkak. “Ms?” Lagi. Suara Alina seakan benar – benar mendesak Svanna supaya mengambil tindakan dengan cepat. Dia terkesiap—menyadari satu tindakan yang terlupakan. Nightroe merobek kain – kain yang merekat di tubuhnya. Dia belum sempat melakukan apa pun untuk itu. “Tunggu sebentar,” sambil setengah berteriak, Svanna segera menginjakkan kaki di permukaan lantai kamar. Dia harus berpakaian, setidaknya. Berjalan secara tentatif ke arah lemari, lalu mengambil ap
Barangkali bukan apa – apa, selain kebencian yang dilingkupi sebuah ciuman .... Svanna meringis merasakan Nightroe menyerahkan gigitan kasar di bibir bawahnya. Sekarang dia mungkin menemukan jawaban. Hanya sekadar hukuman. Nightroe menghukumnya terhadap sesuatu yang masih menggantung di antara mereka. Apa yang dia harapkan dari kebencian yang masih menyala – nyala? Percuma. Tidak ada tempat untuk melarikan diri. Svanna bahkan hampir kehabisan pasokan udara. Sedikit bersyukur bahwa Nightroe mengerti situasi yang dia hadapi. Namun, itu tidak bertahan lama ketika pria tersebut kembali melakukan hal sama. Melumatnya, kemudian menyingkirkan sentuhan tangan yang secara naluriah hampir dia berikan—hampir menyentuh wajah suaminya. Napas Svanna tercekat ketika Nightroe mengangkat tubuhnya. Dia tidak bisa menyangkal, butuh pegangan dan bahu lebar Nightroe adalah satu – satunya ruang terbaik untuk tidak membuat situasi di antara mereka terasa kacau. Alarm
Mimisan—lagi ....Svanna tidak mengerti kata mana yang perlu dia garis bawahi. Ingin sedikit mengambil tindakan, tetapi sepertinya Nightroe sudah kembali pada setelan awal walau pria itu harus tertatih menjulang tinggi di hadapan Russol Sullivan.Ayah mertuanya benar. Cairan merah kental merembes dari hidung Nightroe, sementara tangan kasar itu berusaha menghentikan bentuk pendarahan di sana. Tidak ada satu pun kata terungkap dari mulut Nightroe. Mata sapphire pria tersebut hanya menatap tajam Russol Sullivan dan ... ke arahnya secara bergantian.Svanna menelan ludah kasar ketika Nightroe berjalan hampir sempoyongan menuju kamar. Hening seketika menjebak pekat antara dia dan Russol Sullivan. Tidak tahu apa yang bisa Svanna katakan. Benaknya bertanya – tanya apakah ada situasi tertentu lainnya yang membuat Nightroe harus kesakitan menyentuh kepala pria itu sendiri?“Apa yang terjadi kepada Nightroe?”Pada akhirnya, Svanna tak bisa menahan diri lebih lama. Memutuskan untuk mengajukan pe
Russol Sullivan sedang menunggu di sana. Secara naluriah meninggalkan ketegangan di bahu Svanna. Dia menduga – duga banyak hal buruk; tentang apa yang mungkin akan ayah mertuanya katakan mengenai situasi di sekitar. Namun, gambaran ganjil segera menyelinap saat dia juga menyadari bahwa pria paruh baya itu seperti membawa banyak perlengkapan. Di sekitar sofa sudah tersusun banyak kertas belanjaan. Svanna menelan ludah kasar ketika akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kaki lebih dekat. “Tuan Sullivan,” panggilnya setengah gugup. Ada keabsahan di mana, ayah Nightroe terlihat begitu enggan. Pria paruh baya itu berdecak, lalu memberi isyarat supaya dia segera duduk. Benak Svanna mengingat betul: lebih baik dia menjaga sedikit jarak. Posisi saling berhadapan, setidaknya menjadi bagian paling menjanjikan. “Aku dengar kau masuk rumah sakit karena tenggelam di bak mandi?” Tidak ada basa – basi. Russol Sullvan tidak akan bisa menahan diri terlalu lama. Itu sesuatu ya
“Jadi, kau membawakan bunga lily untukku saat Nightroe juga ada di sana?” tanya Svanna skeptis, sembari mempelajari sesuatu yang mungkin tertinggal di balik ekspresi Orlando. Dia tidak mengerti terhadap pemikiran pria itu. Mereka dua bersaudara yang tinggal bersama sejak kecil, seharusnya Orlando tahu bahwa Nightroe tidak memiliki toleransi bagus terhadap bunga yang pria itu pilih—entah atas sadar seperti apa. Namun, respons enggan di balik bahu Orlando seakan mengingatkan banyak hal tertunda. Butuh usaha keras bagi Svanna untuk benar – benar menyelam, walau dia tidak sepenuhnya bisa memahami prospek tertinggal di sekitar. Pria itu bahkan berdecak, sebelum akhirnya berkata, “Aku tidak tahu Nightroe akan datang menjengukmu. Kupikir dia tidak akan pernah menginjakkan kaki ke ruang rawatmu, karena dia memang tidak pernah peduli.” Jika pemikiran Orlnado benar seperti itu. Svanna tidak akan memungkiri bahwa hal tersebut masuk akal. Dia sendiri tidak pernah mengira akan
Sekarang, tiba – tiba satu sentuhan membuat kontak mata mereka beradu pekat. Svanna menahan napas mendeteksi cengkeraman Nightroe cukup menyakitkan di tulang rahangnya. Dia sedikit meringis. Dengan reaksi murni menyentuh pergelangan tangan yang terasa kokoh, supaya pria itu mengerti bagaimana cara
Nightroe melihatnya menawarkan diri pada pernikahan mereka dan seharusnya tidak menjadi berita mengejutkan jika Svanna akan menghadapi saat – saat di mana malam pernikahan terasa semacam teriring ke tambak kutub membekukan. Dia tak menyangkal tentang betapa sakitnya ketika semua orang menyaksikan
“Kau tahu aku sangat membencimu. Bersiaplah pada neraka yang akan kau hadapi, jika sekali saja berani untuk menandatangani kontrak pernikahan ini.” Svanna mengerti bahwa dia tidak akan pernah lepas dari gambaran kehidupan gelap setelah memutuskan untuk meninggalkan California dan kembali terdampar
“Kau pikir aku melindungi-mu?”Tubuh Svanna tersentak di dinding kamar setelah cengkeraman tiba – tiba mendarat di rahangnya. Nightroe bahkan berbisik sinis, seolah ingin menunjukkan bahwa semua ini bukan bagian dari keinginan pria itu.Suara tembakan. Segala bentuk kejadian menciptakan bunyi mengg







