Share

57.

last update publish date: 2026-06-26 19:35:57

Hujan deras mengguyur atap rumah batu tua milik Ruth, menciptakan irama monoton yang seolah mengejek kekacauan di dalam dada Renata.

Udara dingin London yang menusuk tulang terasa lebih tajam di desa pegunungan terpencil ini, tempat waktu seolah berjalan lebih lambat. Namun ketenangan itu hancur berantakan ketika pintu kamar Renata dibuka paksa.

Ruth berdiri di ambang pintu, siluetnya tegas diterangi cahaya lampu lorong yang redup. Mata wanita tua itu tajam, menatap cucunya yang masih gemetar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   64.

    Klik, klak, klik, klak!Sepatu hak pendek Renata bergema pelan di lantai marmer. Lobi Rumah Sakit Jiwa itu ternyata elegan, tidak seram seperti bayangannya. Ada sofa putih, meja resepsionis dengan vas bunga segar. Bahkan musik instrumental pelan mengalun dari speaker tersembunyi. Tapi ….Brak!!Suara pintu darurat di ujung lorong terbanting kasar. Teriakan menggema seperti bom yang meledak, keras.“Hey, jangan lari. Berhenti!”“Aku bilang berhenti!”Langkah kaki berat berlari seperti gempa. Renata cuma sempat menengok ke kiri sebelum dua sosok perawat laki-laki berpakaian seragam biru tua mengejar seseorang yang melesat seperti anak panah. Renata melihat sedikit pasien laki-laki itu yang rambutnya acak-acakan. Matanya liar, mengenakan jubah putih pasien yang berkibar-kibar ia melaju langsung ke arah dirinya. “Bu—!”Hampir. Tubuh Renata sudah oleng ke belakang, bersiap nyungsep ke lantai marmer yang dingin itu dengan tangan otomatis mengayun ke depan untuk menahan benturanNamun

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   63.

    Tubuh Renata dihempas ke ranjang, Julian merangkak naik ke atas tubuhnya. Kedua tangan Renata lalu diangkatnya ke atas kepala hingga wanita itu tidak bisa leluasa bergerak. "Aku tidak mengizinkanmu ke mana-mana selain dalam dekapanku, Rene." Mata Renata memicing menatap Julian sampai keningnya mengerut. Posesif sekali pria satu ini. Bisa-bisanya ia juga terlena saat dicium pria itu.Pasrah begitu saja, bahkan menikmati dan mengimbangi ciumannya yang seperti menyedot bibirnya sampai tak mau lepas. Apa pria itu sedang mengguna-gunanya agar Renata mau kembali? Tapi ketika ia membuka mulut, Julian yang tau gelagatnya seperti akan memprotes. Tiba-tiba pria itu menarik tengkuknya dan membekap mulutnya dengan lumatan yang sangat ganas. "Julian—hpphh!" Mata Renata membulat seperti kelereng, ciuman Julian sampai sulit ia imbangi. Namun Renata juga tak mampu menolaknya. Tubuhnya memanas akan gairah yang menjalar ke setiap nadi darahnya, tanpa sadar membiarkan tangan Julian menyingkap rok g

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   62.

    Julian seketika bangkit berdiri. Posturnya yang tinggi membuat orang-orang di sekitarnya merasa kecil. Wajahnya yang tadi lelah kini berubah menjadi topeng kemarahan yang dingin, wanita penggoda itu sampai ketakutan.“Aku tidak tertarik sedikitpun dengan hadiah yang kalian tawarkan!” geram pria itu mengepak jasnya sebagai ancaman, menyoroti tajam dengan matanya yang seperti mesin pemotong itu. “Tujuanku datang ke sini karena kau menyebutkan soal komite. Tapi jika ini yang kalian sebut sebagai strategi politik, menyuap dengan seks dan alkohol. Kalian salah besar. Aku keluar!!”Salah satu anggota dewan, seorang pria gemuk bernama Sterling tampak menyeringai sinis begitu Julian yang pergi lewat di depannya. “Jangan sok suci, Julian! Semua orang di ruagan ini bermain dengan aturan yang sama. Kami menawarkan kau kursi di Komite Infrastruktur yang posisinya strategis. Banyak uang mengalir di sana. Tapi sebagai gantinya, kami hanya meminta satu hal kecil padamu.”Sudut bibir Julian terangk

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   61.

    Wajah Renata langsung memanas. Rasa malu merambat cepat dari leher hingga ke ujung telinganya. Ia merasa seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen. Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi. Ia kehilangan kata-kata untuk membela diri di depan neneknya.Renata sulit menjelaskan sesuatu yang menariknya kali ini pada Julian. Bagaimana cara pria itu mengendalikan ribuan orang dengan hanya suara dan logika, tapi sudah membuatnya terlihat begitu ... berbahaya dan menonjol?"Rene," panggil Ruth karena Renata terus bergeming dan memilin jarinya dengan kuat."Tidak apa-apa. Minumlah jusnya," suruh Renata yang tampak salah tingkah."Oh, ya?" Ruth masih tak percaya."Aku... Aku hanya tak menyangka dia punya kemampuan berbicara yang luar biasa, Ruth, " bual Renata canggung, mengalihkan pandangan ke gelas jus stroberinya yang mulai mencair. "Itu saja."Jus yang diminumnya sedikit mendadak bikin serik di tenggorokannya. Renata tak nyaman dengan kondisi itu, ia sampai terburu-buru pergi dan menabra

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   60.

    Renata yang berjalan pulang menuju rumah menoleh ke belakang saat ia mendengar suara daun kering terinjak di belakang pohon besar dekat jalanan."Ada apa Rene?" tanya Nate menata keranjang stroberi sebelum pemanen lain datang. Ia melihat Renata celingukan ke arah belakangnya."Tadi sepertinya aku mendengar suara langkah kaki menginjak dedaunan kering di sana!" Renata menunjuk pohon besar itu, bersamaan sekelebat mobil yang lewat. Namun ia hanya sempat melihat bagian belakangnya saja sekilas.Nate berhenti memetik stroberi sesaat lalu mengikuti telunjuk Renata ke arah sana."Tidak ada siapa-siapa."Renata mengerutkan kening lalu bicara pelan. "Perasaan tadi ada? Kenapa sekarang sepi?""Mungkin itu tupai," timpal Nate. "Hewan itu suka muncul di pohon sana."Renata mengangguk lalu berpamitan pergi. Namun Nate mengejarnya, melesat cepat dengan tangan membawa sekotak stroberi yang montok-montok."Untukmu, bawalah pulang.""Wah! Banyak sekali, Nate?" Renata terkesima menatap buah stroberi m

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   59.

    "Tuan, kita harus kembali hari ini ke London. Besok perwakilan dari kementrian luar negeri akan menemui Anda terkait pemilu yang akan datang." Namun Julian hanya diam saja sambil menyesap rokoknya berdiri di balkon. Matanya tak beralih menatap ke bangunan rumah-rumah tua di sekitar hotel kecil - hotel melati tempatnya menginap. Salah satu rumah itu mirip dengan rumah Renata, yang membuat Julian terus teringat istrinya itu. Ia membayangkan, di salah satu kamar itu. Ia sedang berada di ranjang memeluk Renata setelah berolahraga ekstrem. Membahas perencanaan soal anak, lalu bertengkar manis berapa jumlahnya. Ia ingin anak sebelas, alhasil Renata ngambek dan hal itu memicu senyum tipis di bibir Julian. "Tuan," panggil Jun sekali lagi, kali ini lebih keras karena Julian tak merespon. "Apakah aku terlalu jelek sampai Renata menolakku?" Malah Julian menyahut begini. Jun menaikkan alisnya. Sudah ia duga kalau hati bosnya tertinggal di rumah Ruth. "Tuan sangat tampan. Apalagi

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 8. Mengecup Bibirmu

    Sejenak Renata merasa jemawa berhasil menyudutkan suaminya itu. Namun ketika Julian membuka matanya, nyali Renata mengkerut. Kilatan di mata keabuan pria itu bukan lagi kemarahan, melainkan ketertarikan yang dingin. Ketika Julian menoleh ke arahnya dengan perlahan, Renata buru-buru mengalihkan wa

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 6. Tawaran Kenikmatan

    Arthur melirik Renata yang tiba-tiba memangkas jarak. Ia dapat merasakan kecurigaan wanita itu yang mundur perlahan, memindai sekeliling dengan mata kecoklatannya yang liar untuk berjaga-jaga."Tenanglah Renata. Aku hanya mengamankannya sebelum Julian menyadari ada yang hilang," ucapnya meyakinkan.

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 5. Perlindungan Arthur

    Renata tersentak. Ia teringat ancaman Julian semalam yang tidak memperbolehkannya dekat dengan pria manapun, lalu saat tadi dia pamit ke toilet yang tidak boleh lama-lama. Juga soal map? 'Oh, tidak! Julian pasti marah besar!' batin Renata kacau. "Pergilah," ucap Arthur sambil memberi kartu nama

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 4. Godaan Kakak Tiri

    Suara itu muncul dari bayang-bayang pilar putih. Renata menegang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara serak dan penuh tekanan itu. "Pergilah, Dev! Tinggalkan aku sendiri," ucap Renata yang tak ingin diganggu. Devan tersenyum menatap siluet Renata yang seksi dari belakang samb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status