تسجيل الدخولDaniel bisa merasakan darah seketika meninggalkan wajahnya. Seluruh tubuhnya menegang kaku saat matanya menangkap dengan jelas siapa wanita yang kini tengah duduk dengan santai di hadapan ibunya."O... Olivia?" panggil Daniel dengan suara terbata, nyaris tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Jantungnya berpacu liar memompa kepanikan.Nyonya Sinclair menoleh dengan raut wajah berbinar-binar. Ia meletakkan cangkir teh porselennya ke atas piringan kecil di atas meja."Kenapa kau tidak bilang sejak awal kalau kau sudah punya pacar, Daniel?" tegur ibunya dengan senyuman lebar yang sangat jarang terlihat jika itu menyangkut kehidupan asmara putranya."Pacar?" ulang Daniel bingung, keningnya berkerut tajam.Daniel memalingkan wajahnya dan menatap Olivia dengan kilat permusuhan. Namun, wanita itu justru membalas tatapannya dengan sebuah senyuman sinis yang disembunyikan dengan sempurna di balik paras cantiknya. Lewat sorot mata itu, Olivia seolah menegaskan tanpa kata bahwa ini adalah
Jam digital di atas nakas sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun Emily masih bergelung di balik selimut tebalnya dengan mata terbuka lebar. Cahaya dari layar ponsel menerangi wajahnya yang tersenyum-senyum sendiri. Liburan mereka ke pulau pribadi tinggal satu hari lagi, dan rasa antusiasme yang meletup-letup itu benar-benar mengusir rasa kantuknya.Ia sedang asyik menelusuri galeri foto resort dan pantai berpasir putih ketika sebuah tangan besar dan kekar tiba-tiba menyusup dari samping, merampas benda pipih itu dari genggamannya."Tidurlah, Emily," tegur Nicholas. Suara bariton pria itu terdengar sangat parau dan serak, khas seseorang yang baru terbangun.Emily terkesiap, lalu mengerucutkan bibirnya dengan kesal. "Nicholas! Kembalikan ponselku!"Nicholas meletakkan ponsel itu ke atas nakas di sisi ranjangnya, sangat jauh dari jangkauan Emily. Ia mengusap wajahnya sebentar, menatap istrinya dengan sebelah mata yang setengah terbuka."Kau seperti remaja yang kecanduan ponsel," g
Cahaya lampu gantung kristal di apartemen mewah itu sama sekali tidak mampu mencerahkan suasana hati Olivia. Ia membanting ponselnya ke atas sofa beludru mahal dengan napas memburu. Sudah satu minggu. Satu minggu penuh sejak ia dipindahkan ke tempat ini bagaikan barang simpanan, dan Daniel sama sekali belum menghubunginya."Pria brengsek!" maki Olivia pada ruangan kosong itu.Ia kembali meraih ponselnya dan menekan layar dengan kasar. Panggilan itu tersambung, namun hanya suara operator otomatis yang membalasnya."Halo, Ibu?" sapa Olivia cepat saat sebuah panggilan masuk dari nomor ibunya memotong panggilannya ke Daniel."Olivia, Sayang. Ibu sudah meneleponmu tiga kali hari ini. Kapan kamu dan suamimu akan mampir? Ayahmu dari kemarin terus menanyakan kapan kita bisa makan malam bersama."Olivia memutar bola matanya, menahan rasa kesal yang sudah memuncak. "Ah... Daniel masih sangat sibuk, Bu. Perusahaannya sedang mengurus proyek besar yang tidak bisa ditinggalkan.""Tapi ini sudah se
Pemandangan kota di balik jendela kaca setinggi langit-langit itu tampak sibuk, namun di dalam ruang kerja utama Firma Hukum Spencer, keheningan yang mencekam menguasai rungan."Apa yang kau mau?" tanya Nicholas datar tanpa basa-basi begitu panggilan itu tersambung. Suaranya terdengar sedingin es.Ia sengaja menahan diri dan baru menghubungi kembali nomor itu ketika ia sudah berada di kantor keesokan harinya. Untungnya, Emily tidak ikut bersamanya hari ini. Istrinya itu masih terlelap karena kelelahan di balik selimut tebal mereka ketika Nicholas merapikan dasinya dan berangkat pagi ini."Apa yang kumau?! Kau masih berani bertanya apa yang kumau, Nicholas?!" Suara Justin, kakak kandung Emily, langsung meledak dari seberang sambungan telepon, terdengar panik dan dipenuhi amarah yang meledak-ledak. "Kau bilang kau akan membereskan masalahku di sana, Brengsek! Tapi lihat kenyataannya! Kenapa pagi ini masih begitu banyak headline berita sialan yang menyebut namaku dan merusak reputasi k
"Nicholas... cukup... aku benar-benar lelah." Emily melenguh pelan, suaranya nyaris terdengar seperti rengekan putus asa. Kedua tangannya yang lemas berusaha mendorong dada bidang pria itu menjauh.Nicholas justru mengabaikan protes istrinya. Bibirnya masih sibuk menyusuri garis bahu Emily, turun untuk mencium daun telinga wanita itu, memberikan sensasi menggelitik yang membuat Emily menahan napas."Ini bahkan belum jam sepuluh malam, Emily," bisik Nicholas serak tepat di telinga istrinya, napas hangatnya menyapu kulit sensitif Emily dengan menggoda."Itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan jam, Nicholas!" protes Emily, memiringkan kepalanya bantal untuk menghindari ciuman suaminya. "Aku sudah benar-benar kehabisan tenaga.""Ayolah..." bujuk Nicholas lagi, kali ini tangannya mulai bergerak mengusap pinggang istrinya dengan gerakan pelan yang menuntut. "Kau tahu aku belum puas.""Tidak, Nicholas!" tolak Emily tegas, mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk menepis tangan pria itu da
"Astaga, Daniel."Chloe tertawa pelan. Tawanya yang renyah seolah mengalahkan dentuman musik kelab yang memekakkan telinga. Wanita itu mengulurkan tangan lentiknya, memukul bahu tegap Daniel dengan pelan dan manja."Kau memang tidak berubah," ucap Chloe dengan senyum menggoda, menggelengkan kepalanya menatap pria di hadapannya. "Selalu tahu persis bagaimana cara merayu seorang wanita meskipun kau sedang terlihat berantakan begini."Daniel tersenyum miring. Ia memutar gelas minumannya perlahan, lalu mengangkat pandangannya, menatap tepat ke dalam manik mata Chloe dengan sorot tajam yang selalu berhasil membuat wanita itu takluk di masa lalu."Kau salah. Aku banyak berubah, Chloe," bantah Daniel dengan suara baritonnya yang mengalun rendah dan serak. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. "Sebenarnya... kamu yang sama sekali tidak berubah. Kau masih secantik dulu. Bahkan mungkin jauh lebih cantik dari yang kuingat."Wajah Chloe seketika memerah hebat saat mendengar perkataan ma
"Tidak, Ibu. Aku kan sudah bilang aku tidak berbohong."Emily baru terbangun ketika ia mendengar suara Nicholas setengah berbisik, jelas berusaha keras agar tidak membangunkannya.
Emily panik saat melihat halte bus tempat persinggahannya itu menjauh dari pandangan."Pak, aku bilang turunkan aku di sini!" Emily mulai menaikkan nada bicaranya pada supir yang kini terlihat kebingungan menatap dari kaca spion, ragu harus mematuhi perintah siapa."Turunkan kami di lobby," potong
Mendengar perkataan Emily, batas kesabaran Nicholas seolah putus. Pria itu bergerak mendekat dan menarik sebelah lengan Emily dengan kuat, membuat wanita itu meringis tertahan."Berapa kali harus kukatakan padamu bahwa itu hanya salah paham?!" desis Nicholas tajam, wajahnya kini hanya berjarak bebe
Suara bariton Nicholas yang berat dan dingin membuat keheningan di ruang makan itu terasa semakin mencekam. Tidak ada satu pun yang berani menjawab. Tuan Spencer yang sejak tadi tidak peduli pun kini ikut memperhatikan pria itu.Hanya Nyonya Spencer yang wajahnya seketika berbinar lega melihat keda







