LOGINDunia Nadira tak lepas dari Nirwan. Selama ia masih memiliki keterikatan kontrak kerja, maka selama itu pula ia akan terus bertemu dengan lelaki tersebut. Seperti siang ini, ia dan Nirwan kembali di pertemukan dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Tentunya untuk membahas perihal kerjaan.
Nadira menghindari tatapan mata Nirwan, ia mencoba untuk tetap fokus pada layar walau pikirannya melayang-layang entah kemana. Nadira masih kepikiran dengan perdebatan yang terjadi antara dirinya dan DevSinar mentari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai, menghangatkan kamar yang masih diselimuti suasana tenang. Nadira menggeliat pelan sebelum perlahan membuka matanya. Untuk beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar, menikmati pagi yang damai.Saat memiringkan tubuhnya, senyum tipis langsung menghiasi bibirnya.Di sisi tempat tidur, Nirwan masih terlelap. Wajah pria itu tampak jauh lebih tenang dibanding biasanya, tetapi gurat kelelahan di bawah matanya begitu jelas terlihat. Jas kerjanya sudah berganti dengan pakaian tidur, sementara rambutnya masih sedikit berantakan, seolah semalam ia pulang dalam keadaan benar-benar kehabisan tenaga.Nadira mengamatinya dalam diam. Ia sama sekali tidak tahu Nirwan pulang pukul berapa. Semalam ia tertidur lebih dulu setelah menunggunya cukup lama. Rupanya, pria itu baru kembali ketika dirinya telah terlelap.Dengan hati-hati Nadira mengulurkan tangan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahi sua
Nirwan sedikit terkejut ketika pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan lebih dulu.Brak!Refleks ia mengangkat kepala dari tumpukan dokumen di hadapannya. Alisnya berkerut saat mendapati sosok yang berdiri di ambang pintu ternyata adalah Liliana."Mama?" ucapnya dengan nada heran.Frederic yang sejak tadi berdiri di sisi meja kerja juga tampak terkejut. Ia segera menegakkan tubuh dan memberi salam hormat."Selamat malam, Nyonya."Namun, Liliana sama sekali tidak menggubris sapaan itu. Napasnya masih memburu, sementara sorot matanya langsung tertuju kepada Nirwan. Wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia datang bukan untuk sekadar berkunjung, melainkan untuk meminta penjelasan.Melihat raut wajah ibunya yang dipenuhi kemarahan, Nirwan perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya berubah lebih tajam, seolah sudah bisa menebak alasan kedatangan Liliana malam itu.Ruangan yang semula sunyi mendadak dipenuhi ketegangan yang begitu pekat.Nirw
Liliana baru saja selesai memilih beberapa pakaian dan perlengkapan rumah. Wajahnya mulai tampak sedikit lebih cerah. Suasana hatinya memang sedang tidak baik hari itu. Berbelanja menjadi satu-satunya cara yang ia lakukan untuk mengalihkan pikirannya dari berbagai masalah yang terus menghantuinya.Dengan langkah anggun, ia berjalan menuju meja kasir sambil menyerahkan seluruh barang belanjaannya kepada pramuniaga."Semuanya jadi, Bu?" tanya wanita itu ramah.Liliana mengangguk singkat."Ya, saya ambil semua."Pramuniaga segera memindai setiap barang hingga akhirnya menyebutkan total pembayaran. Tanpa ragu, Liliana mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya lalu menyerahkannya."Silakan."Pramuniaga menerima kartu itu dan memasukkannya ke mesin EDC.Beberapa detik berlalu.Terdengar bunyi bip, lalu ekspresi ramah pramuniaga perlahan berubah canggung."Maaf, Bu ..." ucapnya hati-hati. "Transaksinya ditolak."Liliana mengernyit. "Ditolak?
Suara benturan keras menggema di seluruh ruangan ketika Nirwan membanting sebuah map berisi dokumen ke atas meja kerjanya. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya dipenuhi amarah yang sejak tadi ia tahan.Frederic yang berdiri di hadapan meja refleks tersentak. Ia segera menegakkan tubuh, tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Selama bertahun-tahun bekerja bersama Nirwan, ia tahu betul pria itu jarang kehilangan kendali. Namun sekali emosinya meledak, seluruh ruangan seolah diselimuti hawa mencekam."Apa ini?" suara Nirwan terdengar rendah, tetapi sarat tekanan. Jemarinya mengetuk map di atas meja dengan keras. "Kenapa nilai saham perusahaan kita tiba-tiba anjlok separah ini?"Frederic menelan ludah sebelum menjawab dengan hati-hati. "Maaf, Pak. Nyonya Nawles bersama beberapa investor besar telah menarik seluruh investasi mereka dari perusahaan. Kabar itu dengan cepat menyebar ke para pemegang saham lainnya. Mereka panik dan mulai melepas saham mereka secara besar-
Nirwan membawa Nadira ke sebuah rumah yang memiliki sistem keamanan ketat. Setelah kejadian penyekapan yang melibatkan Devan dan Sartika, ia tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun. Selain penjagaan berlapis, Nirwan juga mempekerjakan seorang pelayan paruh baya yang telah lama bekerja dengannya dan sangat ia percaya untuk menemani serta menjaga Nadira selama ia tidak berada di sana.Rumah itu nyaman dan tenang, tetapi Nadira tetap merasa asing. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya menatap keluar jendela, mencoba menenangkan pikirannya yang masih dipenuhi berbagai kejadian yang datang bertubi-tubi.Sementara itu, di tempat lain, amarah Sartika semakin sulit dikendalikan. Sudah dua hari berlalu sejak Nadira menghilang dari rumah dan selama dua hari itu pula ia menyaksikan Devan berubah menjadi sosok yang tidak ia kenali.Pria itu hampir tidak pernah pulang. Setiap hari ia keluar untuk mencari informasi mengenai keberadaan Nadira. Teleponnya tidak berhenti berd
Nadira berjalan pelan menembus gelapnya malam. Langkah demi langkah ia ayunkan tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti jalan setapak yang membentang di bawah langit bertabur bintang. Angin malam berembus lembut, tetapi gagal meredakan sesak yang memenuhi dadanya.Setiap langkah justru membuat suara Liliana semakin jelas menggema di kepalanya."Dari awal niatmu menikah dengan anakku hanya untuk balas dendam pada Arsya. Kamu jadikan anakku alat pelampiasan rasa sakit hatimu. Lalu kamu menghilang membuatnya putus asa.""Apa kamu tahu bagaimana anakku menjalani hari-harinya selama ini? Apa kamu tahu hancurnya anakku saat kamu pergi begitu saja dan kini kamu kembali dengan alasan amnesia? Omong kosong!"Nadira memejamkan mata sejenak.Tak ada satu pun kata yang mampu ia gunakan untuk membela diri.Karena sebagian dari tuduhan itu memang benar.Pikirannya perlahan kembali pada masa lalu. Pada awal pertemuannya dengan Nirwan. Pada awal dari semua kekacauan yang kini







