LOGINKerugian Immateriil sebesar Rp1 Miliar, sebagai bentuk penebusan atas seluruh kesalahan, tekanan psikologis, dan kerusakan nama baik yang telah diderita oleh Nayaka akibat kelakuan kotor perempuan itu.
Biaya Pengacara dan Penyelidikan, Rahma juga dituntut untuk membayar penuh seluruh biaya operasional yang telah dikeluarkan Nayaka untuk menyewa law firm tersebut.
Di bagian akhir surat, tertulis peringatan keras bahwa Rahma diberi waktu 7 hari untuk merespons somasi tersebut seca
Senyum di wajah Nayaka memudar, digantikan oleh ekspresi keputusasaan yang mendalam. Kebahagiaan semu yang baru saja dirasakannya seakan menguap, meninggalkan lubang menganga di hatinya. Dia sadar, semua momen indah itu hanyalah masa lalu yang tak mungkin terulang kembali."Kenapa harus berakhir seperti ini, Nad?" isaknya, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya.Tiba-tiba, Nayaka menjerit histeris. Jeritannya terdengar begitu pilu, meluapkan segala rasa sakit, penyesalan, dan kerinduan yang membuncah di Ikhsan. Dia memeluk album foto itu erat-erat, seolah ingin mendekap kembali kenangan indah yang pernah mereka lalui.Tangisannya semakin menjadi-jadi, tubuhnya berguncang hebat. Di dalam kamar kost itu, Nayaka meratapi nasibnya yang malang. Dia menyesali segala kebodohan dan kesalahannya di masa lalu yang telah menghancurkan kebahagiaannya bersama Nadia.Hanya album foto usang itu yang kini menemaninya, menjadi saksi bisu atas penyesalan terdalam seorang pria yang telah kehila
Pagi ketika Nadia merintih mengeluh mulas luar biasa. Mereka sebenarnya sudah bersiap dan akan keluar rumah guna berangkat ke rumah sakit. Namun, tepat di ambang pintu, ponselnya berdering. Rahma menelepon, menangis mengaku kram perut. Dan dengan teganya, Nayaka memutar haluan. Dia meninggalkan istrinya yang sedang menahan sakit luar biasa, yang pada akhirnya harus menelan kenyataan pahit mengalami perdarahan hebat!Sungguh sebuah kebodohan hakiki. Di saat istri sahnya sendiri berada di ujung maut bertaruh nyawa, dia malah sibuk mengurusi Rahma yang kolokan, perempuan manipulatif yang selalu membikin alasan apa pun agar Nayaka selalu ada di sisinya.Kini, di hadapan Bram yang menatapnya dengan pandangan menjijikkan, Nayaka hanya bisa menunduk dalam-dalam. Dadanya sesak dihantam gelombang penyesalan yang terlambat. Penyesalan yang selalu datang belakangan, meremukkan sisa-sisa harga dirinya yang tak lagi punya arti.Nayaka mencengkeram kemudi mobilnya kuat-kuat h
Bik Romlah beringsut dari posisinya. Beliau bersiap mengambilkan'juice'dan otak-otak bakar 'homemade' dari ikan asli yang sudah disiapkan, agar bisa menunjang gizi anak-anak melalui ASI Nadia."Kenapa Mas, kok enggak telepon?" tanya Nadia. Dia sama sekali tidak merasa malu menyusui di depan Aditya sebab tertutup rapat oleh 'apron' dan tidak terlihat sama sekali."Aku langsung kabari Ibu masalah permintaan Ayah Ikhsan. Dan Ibu langsung telepon Ayah Byan," jelas Aditya."Astagaaaa, antusias bangeeet!" ucap Nadia dengan mata berbinar-binar.Melihat kepolosan Nadia yang sama sekali tidak berpura-pura atau jaim di hadapannya, hati Aditya berdesir hangat.'Dia begitu tulus dan apa adanya,'batin Aditya kagum.'Nadia tidak berusaha menutupi kerepotannya sebagai seorang ibu demi terlihat jaim di depanku. Sikap terbukanya ini justru membuatku merasa benar-benar sudah dianggap sebagai bagian dari h
"Alhamdulillah, akhirnya anak itu bergerak cepat juga. Berarti lokasinya di rumah orang tua Nadia yang di Jakarta sini, kan?" tanya Byan memastikan, memastikan dia tidak salah tangkap mengenai domisili calon menantunya."Iya, Yah, di Jakarta sini semua. Makanya, karena jaraknya dekat dan kita semua ada di satu kota, siang ini kita harus langsung data siapa saja keluarga yang mau kita ajak.” “Kita tidak bisa datang dengan rombongan kecil, paling tidak harus sekitar dua puluh orang yang ikut agar terlihat pantas," ucap Ima, langsung mengambil pulpen untuk bersiap menulis di atas meja kerjanya.Byan mengetukkan jemarinya di meja kantor, mulai menimbang-nimbang formasi saudara-saudaranya."Dua puluh orang ya, Bu? Berarti kita harus mengajak seluruh jajaran kakak dan adik kita beserta pasangan mereka masing-masing. Kalau dari pihak Ayah, Mas Broto sebagai yang paling tua wajib ikut untuk mewakili berbicara. Lalu Mbak Lastri, Mas Haris, dan Dik Ambar juga harus masuk daftar," usul Byan mul
“Ya, setelah pendekatan, lalu kami menikah. Tapi, baru seminggu yang lalu aku tahu sebuah fakta dari Bunda, rupanya sejak awal aku dekat dengan Nayaka, Ayah itu sama sekali tidak suka. Tapi Bunda terus membujuk Ayah, kata Bunda yang penting saat itu aku bisa bahagia," pungkas Nadia, mengakhiri ceritanya dengan helaan napas panjang.Mendengar penuturan terakhir Nadia tentang ketidaksukaan Galih pada mantan suaminya, sebuah analisis tajam langsung berputar di dalam benak Aditya.'Insting seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya memang tidak pernah salah,'batin Aditya, menatap Nadia dengan sorot mata yang dipenuhi rasa takjub sekaligus hormat yang mendalam pada sosok Galih.'Pak Galih pasti sudah bisa melihat riak-riak ketidakpastian dan ketidakmatangan dalam diri Nayaka sejak awal pertemuan mereka dulu.’‘Seorang pria tua yang bijaksana seperti beliau tentu tahu mana laki-laki yang benar-benar siap men
"Kata Ayah, tak perlu kenalan lagi lah, Nad. Langsung lamaran saja," ucap Hanum di seberang telepon, suaranya terdengar begitu bersemangat sekaligus penuh kepastian."Tempat pasti di rumah Bunda, hari Sabtu dua minggu lagi, tanggal 1 Maret jam 10 pagi, sehingga habis itu langsung makan siang," balas Hanum saat Nadia pagi ini menelepon, bertanya soal jawaban Adit atas permintaan Galih.Nadia yang saat ini sedang berada di koridor kampus, langsung menghentikan langkahnya, menempelkan ponsel lebih erat ke telinga sembari tersenyum lebar mendengar keputusan cepat dari orang tuanya. Di seberang sana, Hanum tentu saja sedang berada di apotek miliknya, menyempatkan diri berbicara serius di antara kesibukan melayani resep pagi.Mendengar ketegasan sang bunda yang tanpa basa-basi itu, dàda Nadia seketika membuncah oleh rasa lega sekaligus debaran yang luar biasa hebat. Tangannya yang bebas refleks meremas ujung kardigan yang dipakainya, mencoba meredam rasa gugup yang me
Aditya bangkit, berjalan dengan gelisah mengitari ruangan. Dia merasa bodoh karena membiarkan dirinya diculik oleh bayang-bayang seorang wanita yang mungkin saat ini sedang terlelap tenang tanpa memikirkannya sama sekali. Namun, detak jantungnya tidak bisa berbohong. Setiap jengkal pikirannya telah
“Siapa sebenarnya Nadia, mengapa bisa setegar itu?”“Saat pertama datang tiga bulan lalu, aku memang melihat duka teramat dalam di matanya yang selalu dia tutup dengan senyum.”
“Apaaaaaa?” “Apakah itu benar?” Yaka kaget saat mendengar info, minggu lalu Nadia baru saja melaksanakan aqiqah, dan kedua orangtuanya hadir. Secara berkala memang Yaka terus mencari info keberadaan Nadia di rumah orang tuanya mau pun di rumah mertuanya. Alasan Yaka terus mencari di rumah orang t
“Hari ini sudah bulan ke empat kamu menghilang Yank,” bisik Yaka lirih. Tubuhnya makin kurus, badan tak terawat, walau pakaian masih tetap rapi, sebab dia laundry. “Ampas kopi yang menumpuk rindu itu sama dengan semut pekerja.” “Sebab, dinding yang kokoh bisa roboh karena lubang semut dibawah pon







