LOGIN"Bantalan bagaimana?" Ikhsan memotong pembicaraan soal panggilan, dia masih penasaran, menghentikan suapannya sejenak demi mendengarkan penjelasan lebih lanjut.
"Dindingnya, setinggi satu meter, dialas bantalan, agar saat mereka terbentur akan aman," jawab Nadia menerangkan konsep yang tadi mereka diskusikan.
Aditya mengangguk lalu ikut menambahkan, "Lalu alas ruang, saya minta diberi bantalan karet. Walau ada tumpahan air, tak akan bikin anak-anak kepleset.”
Pagi ketika Nadia merintih mengeluh mulas luar biasa. Mereka sebenarnya sudah bersiap dan akan keluar rumah guna berangkat ke rumah sakit. Namun, tepat di ambang pintu, ponselnya berdering. Rahma menelepon, menangis mengaku kram perut. Dan dengan teganya, Nayaka memutar haluan. Dia meninggalkan istrinya yang sedang menahan sakit luar biasa, yang pada akhirnya harus menelan kenyataan pahit mengalami perdarahan hebat!Sungguh sebuah kebodohan hakiki. Di saat istri sahnya sendiri berada di ujung maut bertaruh nyawa, dia malah sibuk mengurusi Rahma yang kolokan, perempuan manipulatif yang selalu membikin alasan apa pun agar Nayaka selalu ada di sisinya.Kini, di hadapan Bram yang menatapnya dengan pandangan menjijikkan, Nayaka hanya bisa menunduk dalam-dalam. Dadanya sesak dihantam gelombang penyesalan yang terlambat. Penyesalan yang selalu datang belakangan, meremukkan sisa-sisa harga dirinya yang tak lagi punya arti.Nayaka mencengkeram kemudi mobilnya kuat-kuat h
Bik Romlah beringsut dari posisinya. Beliau bersiap mengambilkan'juice'dan otak-otak bakar 'homemade' dari ikan asli yang sudah disiapkan, agar bisa menunjang gizi anak-anak melalui ASI Nadia."Kenapa Mas, kok enggak telepon?" tanya Nadia. Dia sama sekali tidak merasa malu menyusui di depan Aditya sebab tertutup rapat oleh 'apron' dan tidak terlihat sama sekali."Aku langsung kabari Ibu masalah permintaan Ayah Ikhsan. Dan Ibu langsung telepon Ayah Byan," jelas Aditya."Astagaaaa, antusias bangeeet!" ucap Nadia dengan mata berbinar-binar.Melihat kepolosan Nadia yang sama sekali tidak berpura-pura atau jaim di hadapannya, hati Aditya berdesir hangat.'Dia begitu tulus dan apa adanya,'batin Aditya kagum.'Nadia tidak berusaha menutupi kerepotannya sebagai seorang ibu demi terlihat jaim di depanku. Sikap terbukanya ini justru membuatku merasa benar-benar sudah dianggap sebagai bagian dari h
"Alhamdulillah, akhirnya anak itu bergerak cepat juga. Berarti lokasinya di rumah orang tua Nadia yang di Jakarta sini, kan?" tanya Byan memastikan, memastikan dia tidak salah tangkap mengenai domisili calon menantunya."Iya, Yah, di Jakarta sini semua. Makanya, karena jaraknya dekat dan kita semua ada di satu kota, siang ini kita harus langsung data siapa saja keluarga yang mau kita ajak.” “Kita tidak bisa datang dengan rombongan kecil, paling tidak harus sekitar dua puluh orang yang ikut agar terlihat pantas," ucap Ima, langsung mengambil pulpen untuk bersiap menulis di atas meja kerjanya.Byan mengetukkan jemarinya di meja kantor, mulai menimbang-nimbang formasi saudara-saudaranya."Dua puluh orang ya, Bu? Berarti kita harus mengajak seluruh jajaran kakak dan adik kita beserta pasangan mereka masing-masing. Kalau dari pihak Ayah, Mas Broto sebagai yang paling tua wajib ikut untuk mewakili berbicara. Lalu Mbak Lastri, Mas Haris, dan Dik Ambar juga harus masuk daftar," usul Byan mul
“Ya, setelah pendekatan, lalu kami menikah. Tapi, baru seminggu yang lalu aku tahu sebuah fakta dari Bunda, rupanya sejak awal aku dekat dengan Nayaka, Ayah itu sama sekali tidak suka. Tapi Bunda terus membujuk Ayah, kata Bunda yang penting saat itu aku bisa bahagia," pungkas Nadia, mengakhiri ceritanya dengan helaan napas panjang.Mendengar penuturan terakhir Nadia tentang ketidaksukaan Galih pada mantan suaminya, sebuah analisis tajam langsung berputar di dalam benak Aditya.'Insting seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya memang tidak pernah salah,'batin Aditya, menatap Nadia dengan sorot mata yang dipenuhi rasa takjub sekaligus hormat yang mendalam pada sosok Galih.'Pak Galih pasti sudah bisa melihat riak-riak ketidakpastian dan ketidakmatangan dalam diri Nayaka sejak awal pertemuan mereka dulu.’‘Seorang pria tua yang bijaksana seperti beliau tentu tahu mana laki-laki yang benar-benar siap men
"Kata Ayah, tak perlu kenalan lagi lah, Nad. Langsung lamaran saja," ucap Hanum di seberang telepon, suaranya terdengar begitu bersemangat sekaligus penuh kepastian."Tempat pasti di rumah Bunda, hari Sabtu dua minggu lagi, tanggal 1 Maret jam 10 pagi, sehingga habis itu langsung makan siang," balas Hanum saat Nadia pagi ini menelepon, bertanya soal jawaban Adit atas permintaan Galih.Nadia yang saat ini sedang berada di koridor kampus, langsung menghentikan langkahnya, menempelkan ponsel lebih erat ke telinga sembari tersenyum lebar mendengar keputusan cepat dari orang tuanya. Di seberang sana, Hanum tentu saja sedang berada di apotek miliknya, menyempatkan diri berbicara serius di antara kesibukan melayani resep pagi.Mendengar ketegasan sang bunda yang tanpa basa-basi itu, dàda Nadia seketika membuncah oleh rasa lega sekaligus debaran yang luar biasa hebat. Tangannya yang bebas refleks meremas ujung kardigan yang dipakainya, mencoba meredam rasa gugup yang me
'Ya Allah, laki-laki ini benar-benar luar biasa,'batin Nadia, matanya kembali menghangat menatap Aditya yang sedang berusaha tegar.'Dia sedang mengira aku menolaknya, mengira seluruh perjuangannya selama delapan bulan ini berakhir sia-sia, dan dadanya pasti terasa sesak bukan main.’‘Tapi, alih-alih egois, marah, atau mendesakku dengan pembelaan diri, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru tentang menerima keputusanku demi kebahagiaanku.’‘Dia bahkan mengingat Angga, anakku, dalam analoginya. Dia menempatkan kenyamanan dan ketenanganku jauh di atas harga diri dan kebahagiaannya sendiri.''Ini bukan sekadar ucapan cinta murahan dari pria yang sedang merayu.’‘Ini adalah wujud cinta paling dewasa, tulus, dan protektif yang pernah kutemui seumur hidupku.’‘Di saat masa laluku selalu memaksakan kehendak dan meruntuhkan duniaku, Mas Adit justru siap
“Maaf, kalau dia sudah menutup nomor rekeningnya, artinya dia sama sekali tak mau berhubungan dengan Anda, jadi saya tak bisa bantu,” ucap Fitri formal pada anak kandungnya yang siang ini datang ke rumah minta tolong agar menerima titipan uang nafkah un
Suara mesin Honda CRF250 Rally merah metalik milik Aditya meraung halus, membelah ketenangan jalanan sebelum akhirnya mati tepat di depan teras rumah Nadia. Aditya tidak menyadari bahwa Nadia sudah berdiri di sana sejak awal.Meski dia memiliki mobil sport super mahal,sebuah Porsche 911 GT3 berwarn
Aditya bangkit, berjalan dengan gelisah mengitari ruangan. Dia merasa bodoh karena membiarkan dirinya diculik oleh bayang-bayang seorang wanita yang mungkin saat ini sedang terlelap tenang tanpa memikirkannya sama sekali. Namun, detak jantungnya tidak bisa berbohong. Setiap jengkal pikirannya telah
“Siapa sebenarnya Nadia, mengapa bisa setegar itu?”“Saat pertama datang tiga bulan lalu, aku memang melihat duka teramat dalam di matanya yang selalu dia tutup dengan senyum.”







