LOGIN'Ya Allah, laki-laki ini benar-benar luar biasa,' batin Nadia, matanya kembali menghangat menatap Aditya yang sedang berusaha tegar.
'Dia sedang mengira aku menolaknya, mengira seluruh perjuangannya selama delapan bulan ini berakhir sia-sia, dan dadanya pasti terasa sesak bukan main.’
‘Tapi, alih-alih egois, marah, atau mendesakku dengan pembelaan diri, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru tentang menerima keputusanku demi kebahagiaan
"Mas keluar dulu, itu yang antar pakaian dan mobil Mas sudah mau sampai. Biar kalau satpam gerbang perumahan minta izin, Mas bisa langsung terima video callmereka," ucap Aditya, karena ponsel di genggamannya mendàdak bergetar dan berbunyi menampilkan nama pegawai yang dia minta untuk mengantarkan mobil serta keperluannya.Nadia hanya mengangguk sembari tersenyum, melepas suaminya yang melangkah bergegas keluar kamar untuk mengurus kedatangan kendaraan dan barang-barangnya.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈Beberapa waktu berlalu, pintu kamar kembali terbuka."Aaaah, akhirnya bisa mandi dan ganti pakaian," ucap Aditya menghela napas lega saat melangkah masuk kembali ke dalam kamar, kali ini dengan dua koper besar yang beroda di kedua tangannya.Di dalam kamar, suasana sudah terasa jauh lebih tenang dan segar. Nadi
"Ayok Mas, kita makan," ajak Nadia pada suaminya dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cerahnya."Ayok, tapi sebelum itu Mas mau bilang, kita besok ke rumah orang tua Nayaka ya," ucap Aditya tegas, menatap lurus ke dalam manik mata Nadia."Kenapa Mas?" Nadia sempat tertegun sekilas, rasa terkejut tampak di wajahnya."Sebelum ada kabar keluar ke mana-mana, ada baiknya kita yang memberi tahu mama dan papamu langsung dari mulut kita, agar mereka tetap merasa kamu hargai," jelas Aditya dengan nada suara yang tenang namun penuh wibawa seorang pemimpin.Mendengar penjelasan itu, dàda Nadia seketika bergemuruh hebat. Air matanya nyaris terbit lagi, kali ini benar-benar karena rasa kagum yang luar biasa pada sosok di hadapannya.‘Ya ampuuuun…, ini lelaki otaknya memang supeeeer!’‘Aku sendiri bahkan sama sekali tidak berpikir soal Mama Fitri dan Papa Ikhsan saat ini.’‘Pik
‘Aku sekarang sudah punya imam?’‘Aku sekarang punya pemimpin?’‘Aku sekarang adalah makmum?’Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya bergaung di dalam kepala Nadia, berputar seperti melodi yang terasa asing namun begitu menggetarkan dinding hatinya. Sambil melangkah pelan di sebelah Aditya menuju meja makan, jemari Nadia meremas pelan ujung kebayanya. Matanya melirik wajah macho pria yang berjalan di sisinya, pria yang beberapa menit lalu baru saja menyebut nama lengkapnya dalam satu tarikan napas yang lantang dan tegas di depan saksi dan sesepuh keluarga.Nadia masih dilingkupi rasa tidak percaya atas takdir kilat yang baru saja mengikatnya,‘Ya Allah... benarkah semua ini baru saja terjadi? Jam sepuluh pagi tadi, aku duduk di sini dengan jantung yang mencelos, dilingkupi ketakutan setengah mati hanya untuk menghadapi sebuah acara lamaran.’‘Aku datang dengan membawa sekarung trauma, bersiap untuk mundur atau setidaknya mengemis waktu tunda karena jiwaku belum siap membuka diri pada dun
Setelah jeda beberapa menit untuk merapikan diri, suasana ruang tamu kini telah berubah total menjadi sangat khidmat. Semua mata tertuju pada meja akad di sudut ruangan.Aditya duduk tegak dengan jemari yang menjabat erat tangan Galih Bachruddin Cayapata di atas meja kayu tersebut. Detak jantung seisi ruangan seolah berhenti berputar saat Galih mulai mengucapkan kalimat tahkimnya.Dengan tatapan lurus, rahang yang kokoh, dan suara yang bergaung mantap, Aditya langsung menyambutnya."Saya terima nikah dan kawinnya Nadia Swastika Cayapata binti Galih Bachruddin Cayapata dengan mas kawin cincin berlian dan uang sejumlah 11.110.000 dibayar tunai!" ucap Aditya dengan sangat tegas, lugas, dan dalam satu tarikan napas yang sempurna.11.110 adalah tanggal hari ini, 11 NovemberPakde Broto, yang bertindak sebagai penghulu siang itu, langsung menolehkan kepalanya secara bergantian ke sisi kanan dan kiri meja. Dia menatap Pakde Haris selaku saksi
Setelah suasananya sedikit tenang, Nadia mengurai pelukan dan menghapus air matanya sejenak. Dia kembali beringsut dengan lutut, berpindah ke hadapan Galih, sang ayah tercinta. Tatapan Galih yang teduh namun berwibawa menyambutnya, meski binar mata sang ayah tidak bisa menyembunyikan rasa haru yang mendalam.Nadia melakukan prosesi yang sama, mencium punggung tangan Galih, merunduk mengecup lutut kanannya, dan kembali mengunci punggung tangan sang ayah di dalam genggamannya."Ayah, Eneng mohon doa restu Ayah," ucap Nadia, mencoba meneguhkan suaranya walau sisa isak tangis masih terdengar."Mohon maafkan Eneng yang belum bisa menjadi putri yang sempurna. Hari ini, Eneng mohon Ayah berkenan menikahkan Eneng dengan Mas Aditya. ridhoi langkah kami, Yah."Galih menarik napas panjang, mengusap puncak keala Nadia dengan kokoh, sebuah usapan khas seorang ayah yang menyalurkan kekuatan."Ayah maafkan, Neng. Dan hari ini, dengan penuh keikhlasan, Ayah
"Baik, Bapak, Ibu semua, Apah dan Amih, kita bersiap acara akad dulu ya.”“Sebentar mohon menepi, kita ubah posisi perabot dulu," ujar Galih seraya berdiri, memberikan komando kepada seluruh keluarga."Sehabis akad kita langsung makan siang, dan baru setelahnya kita diskusikan kapan akad negara dan resepsi akan dilakukan."Sesuai instruksi Galih, suasana di ruang tamu kembali bergerak dinamis. Beberapa kerabat pria dan asisten rumah tangga dengan sigap mulai memindahkan kursi-kursi sofa yang besar ke arah tepi ruangan. Galih meminta area tengah dikosongkan secara khusus guna menyiapkan posisi sungkem nanti. Bagian depan area utama ini harus benar-benar luas dan lapang, sebab setelah akad selesai, Aditya dan Nadia akan bersimpuh serta berjalan dengan lutut untuk memohon doa restu kepada orang tua dan para sesepuh.Sementara area sungkeman ditata sedemikian rupa, di sudut ruangan yang sedikit terpisah, sebuah meja kayu persegi berukuran se
“Tidaaaaaak!!!” Yaka menutup mulutnya dengan bantal dan dia berteriak sepuas-puasnya di kamar kost.Yaka menyadari kebodohan dirinya selama 5 bulan jadi budaknya Soraya dan Rahma!Yaka sadar, semua yang kenal Rahma tentu akan mencibir kebodohan dirinya yang menyerahkan keutuhan rumah tangganya demi
Kembali dari kebingungan, Yaka memilih kembali ke rumah, ingin istirahat sambil memikirkan langkah apa yang akan dia tempuh, dan melempar lamaran kemana setelah ini.“Mengapa rumah kosong seperti ini?” Yaka kaget ketika masuk ke rumahnya semua furniture sudah tidak ada.Tidak ada sofa tidak ada nak
“Maaf pak Yaka, Anda dipecat tak hormat atas perintah CEO,” saat esok paginya masuk kantor dengan wajah lusuh karena tak tidur, Yaka mendapat kejutan dari satpam. Bahkan bukan dipanggil ke HRD, atau setidaknya resepsionis, ini satpam yang langsung menghampiri saat dia turun dari mobil!Yaka sadar,
“Hari ini sudah bulan ke empat kamu menghilang Yank,” bisik Yaka lirih. Tubuhnya makin kurus, badan tak terawat, walau pakaian masih tetap rapi, sebab dia laundry. “Ampas kopi yang menumpuk rindu itu sama dengan semut pekerja.” “Sebab, dinding yang kokoh bisa roboh karena lubang semut dibawah pon







