LOGIN"Kamu jangan tegang begitu! Senyum dong!"
Saat Aditya mencoba rileks dan menunduk untuk mencium pipi Angga, bayi kecil itu tiba-tiba merespons dengan senyum lebar yang sangat menggemaskan.
"Wah, pas banget! Kamu cium pipi Angga, dia langsung senyum lebar. Bagus banget fotonya!" seru Nadia kegirangan melihat hasil jepretan di layar ponselnya.
Nadia seolah tak mau kehilangan momen itu. "Aku ikut ya, kita foto bertiga!"
Tanpa henti, Nadia terus mengatur posisi A
Terbangun dari lelapnya yang semu, Nayaka tidak tahu sudah berapa jam dia tidak sadarkan diri. Tubuhnya terasa kaku dan pegal luar biasa karena dia terbangun masih dalam posisi tidur di atas kursi kayu, dengan kepala yang terpuruk di atas meja berbantal album foto miliknya.Napasnya berat, matanya bengkak dan merah, sementara tenggorokannya terasa kering tercekat. Alih-alih menyudahi siksaan batin itu dan beranjak membersihkan diri, tangan Nayaka yang gemetar malah kembali membuka lembaran album, sengaja mengoyak dan membuka luka lama yang tadi membuatnya menangis histeris.Dia membalik halaman berikutnya. Lembar pertama di bagian itu adalah foto saat dia sedang berjabat tangan erat dengan Galih, bersiap untuk mulai mengucapkan kalimat ijab kabul.Nayaka menatap foto tangan Galih yang menggenggam jemarinya. Gestur tubuhnya mulai acak-acakan, dia menjambak rambutnya sendiri dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengusap kasar permukaan foto tersebut.
Senyum di wajah Nayaka memudar, digantikan oleh ekspresi keputusasaan yang mendalam. Kebahagiaan semu yang baru saja dirasakannya seakan menguap, meninggalkan lubang menganga di hatinya. Dia sadar, semua momen indah itu hanyalah masa lalu yang tak mungkin terulang kembali."Kenapa harus berakhir seperti ini, Nad?" isaknya, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya.Tiba-tiba, Nayaka menjerit histeris. Jeritannya terdengar begitu pilu, meluapkan segala rasa sakit, penyesalan, dan kerinduan yang membuncah di Ikhsan. Dia memeluk album foto itu erat-erat, seolah ingin mendekap kembali kenangan indah yang pernah mereka lalui.Tangisannya semakin menjadi-jadi, tubuhnya berguncang hebat. Di dalam kamar kost itu, Nayaka meratapi nasibnya yang malang. Dia menyesali segala kebodohan dan kesalahannya di masa lalu yang telah menghancurkan kebahagiaannya bersama Nadia.Hanya album foto usang itu yang kini menemaninya, menjadi saksi bisu atas penyesalan terdalam seorang pria yang telah kehila
Pagi ketika Nadia merintih mengeluh mulas luar biasa. Mereka sebenarnya sudah bersiap dan akan keluar rumah guna berangkat ke rumah sakit. Namun, tepat di ambang pintu, ponselnya berdering. Rahma menelepon, menangis mengaku kram perut. Dan dengan teganya, Nayaka memutar haluan. Dia meninggalkan istrinya yang sedang menahan sakit luar biasa, yang pada akhirnya harus menelan kenyataan pahit mengalami perdarahan hebat!Sungguh sebuah kebodohan hakiki. Di saat istri sahnya sendiri berada di ujung maut bertaruh nyawa, dia malah sibuk mengurusi Rahma yang kolokan, perempuan manipulatif yang selalu membikin alasan apa pun agar Nayaka selalu ada di sisinya.Kini, di hadapan Bram yang menatapnya dengan pandangan menjijikkan, Nayaka hanya bisa menunduk dalam-dalam. Dadanya sesak dihantam gelombang penyesalan yang terlambat. Penyesalan yang selalu datang belakangan, meremukkan sisa-sisa harga dirinya yang tak lagi punya arti.Nayaka mencengkeram kemudi mobilnya kuat-kuat h
Bik Romlah beringsut dari posisinya. Beliau bersiap mengambilkan'juice'dan otak-otak bakar 'homemade' dari ikan asli yang sudah disiapkan, agar bisa menunjang gizi anak-anak melalui ASI Nadia."Kenapa Mas, kok enggak telepon?" tanya Nadia. Dia sama sekali tidak merasa malu menyusui di depan Aditya sebab tertutup rapat oleh 'apron' dan tidak terlihat sama sekali."Aku langsung kabari Ibu masalah permintaan Ayah Ikhsan. Dan Ibu langsung telepon Ayah Byan," jelas Aditya."Astagaaaa, antusias bangeeet!" ucap Nadia dengan mata berbinar-binar.Melihat kepolosan Nadia yang sama sekali tidak berpura-pura atau jaim di hadapannya, hati Aditya berdesir hangat.'Dia begitu tulus dan apa adanya,'batin Aditya kagum.'Nadia tidak berusaha menutupi kerepotannya sebagai seorang ibu demi terlihat jaim di depanku. Sikap terbukanya ini justru membuatku merasa benar-benar sudah dianggap sebagai bagian dari h
"Alhamdulillah, akhirnya anak itu bergerak cepat juga. Berarti lokasinya di rumah orang tua Nadia yang di Jakarta sini, kan?" tanya Byan memastikan, memastikan dia tidak salah tangkap mengenai domisili calon menantunya."Iya, Yah, di Jakarta sini semua. Makanya, karena jaraknya dekat dan kita semua ada di satu kota, siang ini kita harus langsung data siapa saja keluarga yang mau kita ajak.” “Kita tidak bisa datang dengan rombongan kecil, paling tidak harus sekitar dua puluh orang yang ikut agar terlihat pantas," ucap Ima, langsung mengambil pulpen untuk bersiap menulis di atas meja kerjanya.Byan mengetukkan jemarinya di meja kantor, mulai menimbang-nimbang formasi saudara-saudaranya."Dua puluh orang ya, Bu? Berarti kita harus mengajak seluruh jajaran kakak dan adik kita beserta pasangan mereka masing-masing. Kalau dari pihak Ayah, Mas Broto sebagai yang paling tua wajib ikut untuk mewakili berbicara. Lalu Mbak Lastri, Mas Haris, dan Dik Ambar juga harus masuk daftar," usul Byan mul
“Ya, setelah pendekatan, lalu kami menikah. Tapi, baru seminggu yang lalu aku tahu sebuah fakta dari Bunda, rupanya sejak awal aku dekat dengan Nayaka, Ayah itu sama sekali tidak suka. Tapi Bunda terus membujuk Ayah, kata Bunda yang penting saat itu aku bisa bahagia," pungkas Nadia, mengakhiri ceritanya dengan helaan napas panjang.Mendengar penuturan terakhir Nadia tentang ketidaksukaan Galih pada mantan suaminya, sebuah analisis tajam langsung berputar di dalam benak Aditya.'Insting seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya memang tidak pernah salah,'batin Aditya, menatap Nadia dengan sorot mata yang dipenuhi rasa takjub sekaligus hormat yang mendalam pada sosok Galih.'Pak Galih pasti sudah bisa melihat riak-riak ketidakpastian dan ketidakmatangan dalam diri Nayaka sejak awal pertemuan mereka dulu.’‘Seorang pria tua yang bijaksana seperti beliau tentu tahu mana laki-laki yang benar-benar siap men
Suara mesin Honda CRF250 Rally merah metalik milik Aditya meraung halus, membelah ketenangan jalanan sebelum akhirnya mati tepat di depan teras rumah Nadia. Aditya tidak menyadari bahwa Nadia sudah berdiri di sana sejak awal.Meski dia memiliki mobil sport super mahal,sebuah Porsche 911 GT3 berwarn
Aditya bangkit, berjalan dengan gelisah mengitari ruangan. Dia merasa bodoh karena membiarkan dirinya diculik oleh bayang-bayang seorang wanita yang mungkin saat ini sedang terlelap tenang tanpa memikirkannya sama sekali. Namun, detak jantungnya tidak bisa berbohong. Setiap jengkal pikirannya telah
“Apaaaaaa?” “Apakah itu benar?” Yaka kaget saat mendengar info, minggu lalu Nadia baru saja melaksanakan aqiqah, dan kedua orangtuanya hadir. Secara berkala memang Yaka terus mencari info keberadaan Nadia di rumah orang tuanya mau pun di rumah mertuanya. Alasan Yaka terus mencari di rumah orang t
“Hari ini sudah bulan ke empat kamu menghilang Yank,” bisik Yaka lirih. Tubuhnya makin kurus, badan tak terawat, walau pakaian masih tetap rapi, sebab dia laundry. “Ampas kopi yang menumpuk rindu itu sama dengan semut pekerja.” “Sebab, dinding yang kokoh bisa roboh karena lubang semut dibawah pon







