Share

7

Author: Meylen
last update publish date: 2026-03-08 12:55:24

Di luar ballroom tampak Mark yang tampak panik karena tidak berhasil menemukan Jeni setelah pesta usai.

"Kau yakin dia sudah meminumnya?" ucap Mark kesal, dia bahkan hampir membentak pelayan yang sudah dibayarnya untuk memberikan wine kepada kekasihnya

"Tentu tuan. Nona bahkan menghabiskan minumannya" jawab pelayan pria itu

Mark mengepalkan tangannya, merasa kesal karena rencananya tidak berjalan sesuai harapannya

"Pergilah!" usir Mark

Pelayan pria itu menunduk dan pergi meninggalkan Mark. Lalu Victoria datang menghampiri Mark dan menyodorkan segelas wine padanya

"Tenanglah Mark.. mungkin Jeni sedang tertidur di suatu kamar di hotel ini"

"Bagaimana bisa kau tau?" kata Mark masih tampak kesal

"Aku tidak sengaja melihatnya keluar dari toilet dan masuk ke sebuah kamar"

"Benarkah? Dimana dia?"

Wanita berambut cokelat dan bertubuh ramping itu mengelus pundak Mark dengan sensual "Aku bisa mengantarmu menemui Jeni. Tapi sebelum itu minumlah dulu, agar kau lebih baik"

Tanpa merasa curiga sama sekali, Mark menenggak wine yang diberikan oleh Victoria. Dia adalah salah satu teman Jeni, meskipun mereka tidak begitu akrab tapi Mark cukup mengenalnya karena mereka beberapa kali memiliki kelas yang sama di universitas.

Victoria mengajak Mark pergi mencari Evgenia dan tepat di depan sebuah kamar, Victoria membukakan pintu kamar itu dan menyuruh Mark masuk

"Apa kau yakin Jeni ada di kamar ini?"

"Tentu saja"

Mark memegangi kepalanya yang berdenyut, sejak meninggalkan ballroom Mark sudah merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Semakin dalam Mark berjalan masuk ke kamar itu semakin terasa bergemuruh pula dadanya. Mark mendudukkan dirinya di sebuah sofa di ruang tamu kamar itu

"Kau baik-baik saja Mark?" tanya Victoria

"Entahlah.. aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku"

"Kau mungkin lelah. Beristirahatlah sebentar"

"Dimana Jeni?"

"Oh.. Jeni mungkin sedang tertidur"

"Aku harus menemuinya" ucap Mark seraya mencoba berdiri namun tubuhnya kembali limbung dan Victoria segera menangkapnya

"Kau tunggulah disini. Aku akan membangunkannya"

"Tidak" ucap Mark seraya menahan tangan Victoria mencegahnya untuk membangunkan kekasihnya itu, jika itu terjadi maka hancurlah semua rencananya untuk memiliki tubuh gadis itu

Victoria tersenyum lalu mengelus wajah Mark lalu berbisik sensual "Baiklah kalau begitu. Aku yang akan membawamu kepadanya"

Mark mengangguk pelan, matanya sudah sayu dan tubuhnya semakin terasa panas

Victoria membantu Mark berdiri dan merebahkannya di tempat tidur. Mark mengernyitkan dahinya, merasa tidak seorangpun berada disana

"Dimana Jeni?"

"Akan ku lihat apakah dia ada di kamar mandi"

Mark mengangguk. Kepalanya semakin terasa berat dan rasa panas menjalar diseluruh tubuhnya, seakan tubuhnya ingin mengeluarkan sesuatu yang berat. Saat mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, Mark melihat seorang wanita berambut pirang kecoklatan dan dia langsung menyergap tubuh wanita itu ke dalam pelukannya

"Jeni.. sayang.."

Wanita itu hanya tersenyum kecil dan mengelus bahu Mark

Mark langsung mencumbu bibir wanita itu, dia sudah tidak bisa menahan gairahnya lagi. Victoria tersenyum dalam ciuman itu, dia berhasil menjebak Mark. Akhirnya malam itu dilalui oleh keduanya dengan berbagi peluh dan desahan.

Di sebuah kamar presiden suite, mata Lev akhirnya terbuka dan dia tidak mendapati wanita yang sudah menghabiskan malam panas bersamanya di sampingnya. Pria itu turun dari tempat tidur dan memakai celana pendeknya, mengambil ponselnya yang terletak di meja di sudut kamar dan menekan sebuah nomor

"Feliks, cari tau siapa wanita yang masuk ke dalam kamarku semalam" ucap Lev lalu menutup teleponnya

Lev berdiri di depan cermin besar di ruang tamu kamar hotel itu, dia menyentuh bibirnya yang sedikit lecet. Wanita semalam sudah berani menggigit bibirnya dan ada juga jejak cakaran di punggungnya.

"Wanita yang menarik" ucapnya tersenyum

Di kamar lain, Mark terkejut saat terbangun dan mendapati Victoria tidur di sampingnya. Apakah semalam dia bukan bercinta dengan Jeni melainkan Victoria? Bukankah semalam Victoria mengatakan Jeni berada di kamar ini, lalu bagaimana bisa dia berakhir tidur bersama dengannya? Lalu dimana Jeni sebenarnya?

Victoria menggeliat dan membuka matanya, dia tersenyum melihat Mark "Selamat pagi Mark.."

"Apa yang kau lakukan disini Victoria?"

"Lebih tepatnya apa yang kita lakukan disini"

Mark menaikan satu alisnya, menatap tidak suka padanya

"Apa perlu ku ingatkan lagi seberapa ganasnya kau semalam?"

"Tidak! Jangan katakan apapun lagi. Jadi dimana Jeni?"

"Entahlah.." jawab Victoria seraya mengangkat bahunya

"Apa maksud ucapanmu? Bukankah semalam kau mengatakan jika Jeni ada di kamar ini?"

"Benarkah? Aku tidak ingat pernah mengatakannya"

"Kau...!" geram Mark, tangannya sudah terkepal

"Lagipula apa yang kau harapkan dari anak manja itu? Dia bahkan tidak mau kau menyentuhnya, bukankah seharusnya kau mulai meragukan perasaannya padamu?"

Mark menahan emosinya namun perkataan Victoria menggema di pikirannya. Apakah benar Jeni tidak benar-benar mencintainya?

Melihat perubahan ekspresi Mark, membuat Victoria tersenyum tipis. Dia akan melakukan apapun untuk memisahkan keduanya, karena hanya dialah yang akan memiliki Mark.

Mark segera turun dari tempat tidur dan memakai kembali pakaiannya, setelah itu dia pergi meninggalkan Victoria disana. Victoria tidak merasa sakit hati setelah ditinggalkan begitu saja, karena dia yakin hubungan Mark dan Jeni tidak akan berjalan baik setelah ini.

Mark keluar dari kamar hotel dan mencari keberadaan Evgenia, sampai seorang pelayan datang dan memberikan tas milik kekasihnya itu. Mark mengernyitkan dahinya. Kemana Evgenia pergi sebenarnya? Mark akhirnya menelpon kediaman Vasiliev, namun wanita itu belum kembali sejak semalam. Mark mengepalkan tangannya, dia segera masuk ke dalam mobilnya.

Di kediaman Stainslav, Bella yang baru saja menaruh bunga mawar segar di vas meja ruang tamu terkejut melihat putranya yang kembali dalam keadaan kacau

"Kau baik-baik saja Mark?"

"Ya bu"

"Kau yakin?"

"Ya"

Mark berusaha menahan rasa kesalnya dan berbalik untuk memeluk Bella, dia tidak ingin membuat sang ibu khawatir "Aku baik-baik saja bu.. mungkin hanya lelah karena pesta semalam" ucap Mark tersenyum tipis

Bella tersenyum dan menepuk bahunya "Jangan terlalu banyak minum"

Mark mengangguk

"Bersihkan tubuhmu dan beristirahat lah. Malam ini akan ada makan malam bersama"

Mark mengernyitkan dahinya heran "Maksud ibu?"

"Lev kembali"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Milik Sang Pewaris   108

    "Apah?! Lev sudah kembali?" ucap Matvei terkejut Jerry mengangguk kecil "Itu laporan yang saya terima, tuan" Matvei merasa heran, bukankah mereka akan kembali akhir pekan nanti? "Tetap pada rencana, Jerry.. persiapkan saja semuanya" "Baik tuan" ucap Jerry menunduk hormat Matvei sudah merencanakan untuk membuat jamuan makan bersama dengan seluruh keluarga besar Stainslav, bahkan keluarga Yaroslav dan Vasiliev pun turut dalam undangan tersebut. Di bandara, pesawat pribadi Lev sudah mendarat. Lev dan Evgenia berjalan keluar dari bandara dan sebuah mobil hitam sudah siap membawa mereka kembali. "Bolehkah aku kembali bekerja besok?" tanya Evgenia Lev menatapnya "Kau sudah ingin bekerja kembali?" Evgenia mengangguk. "Baiklah. Mulai sekarang kita akan berangkat bersama" "Eh?" "Ada masalah dengan itu?" Lev mengerutkan dahinya "Tidak. Hanya saja kau datang ke kantor lebih siang, aku tidak ingin dianggap memanfaatkan keadaan" Lev menarik sudut bibirnya "Siapa

  • Wanita Milik Sang Pewaris   107

    "Apa aku bisa mendapatkan informasi dimana kamar Lev Stainslav berada?" "Maaf tuan, ada keperluan apa anda ingin mengetahuinya?" "Aku sepupunya, aku hanya ingin berkunjung" Seorang resepsionis wanita memandang temannya untuk meminta pendapat, namun sebelum resepsionis itu memberikan jawaban, sebuah suara menginterupsi keduanya. "Ada keperluan apa kau mencari tau kamarku?" Mark menoleh dan melihat Lev yang baru saja keluar dari lift. Mark berjalan mendekatinya "Aku hanya ingin melihat kondisi Jeni" "Dia hanya sepupu iparmu, kenapa kau begitu peduli padanya?" Mark mengepalkan tangannya "Kau sudah menyakitinya" "Dia istriku dan sudah menjadi urusanku" "Kau-!" "Dan ingat satu hal, Mark. Kau sudah memiliki istri dan calon anak, jadi tidak perlu merepotkan dirimu untuk mengurusi rumah tangga orang lain" ucap Lev lalu berjalan menjauh Mark mengepalkan tangannya dengan keras. Lev keluar dari hotel dan melihat Feliks sudah berdiri di dekat mobil hitam. "Dimana J

  • Wanita Milik Sang Pewaris   106

    Evgenia terbangun dan merasakan matanya berat akibat menangis semalaman. Evgenia tidak melihat Lev dimanapun, dan ranjang sebelahnya pun terasa dingin, seolah menggambarkan tidak pernah tersentuh oleh siapapun. Evgenia turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Begitu selesai, Evgenia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, dan tidak ada satupun panggilan atau pesan yang dari Lev. Evgenia menggambil sebuah outer panjang untuk menutupi pakaiannya, setelah itu keluar dari kamar untuk menghirup udara segar. Ketika Evgenia tengah menikmati pemandangan di sekitar hotel, tanpa sengaja dia bertemu dengan Mark yang baru saja kembali setelah berolahraga. "Pagi Jeni" "Pagi Mark" Terlihat keringat yang masih mengucur dari keningnya dan nafas pria itu yang naik turun setelah berlari. "Apa kau sedang berjalan-jalan?" "Ya. Seperti yang kau lihat" "Dimana Lev?" "Sepertinya ada hal penting yang harus dia lakukan pagi-pagi sekali" bohong Evge

  • Wanita Milik Sang Pewaris   105

    Evgenia berjalan cepat menuju kamarnya, Lev berusaha menarik tangannya dan dihempaskan begitu saja oleh wanita itu. "Apa kau puas sekarang?!" "Apa maksudmu?" "Kenapa kau membiarkan Mitya menyentuhmu di depan semua orang di pesta itu?!" "Kami hanya berdansa. Apa yang kau permasalahan?" Evgenia menggeleng tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Kau melarangku dekat dengan pria lain. Tapi kau sendiri justru membiarkan dirimu di sentuh oleh Mitya. Apa kau sengaja mempermalukan ku di depan banyak orang?!" Evgenia tidak habis pikir dengan sikap Lev, meskipun tidak banyak orang disana yang mengetahui statusnya yang sudah menjadi nyonya muda Stainslav, tapi dengan melihat Lev dekat dengan wanita lain, bukankah itu cukup mempermalukan dirinya yang dimana orang-orang mengetahui jika dia adalah wanita yang dibawa oleh Lev ke pesta. "Jangan berlebihan Eve. Kami tidak memiliki hubungan apapun" "Kalau begitu, aku pun bisa berkata hal yang sama tentang Mark" Mata Lev melo

  • Wanita Milik Sang Pewaris   104

    Lev melepaskan tangan Evgenia dari cengkramannya begitu masuk ke dalam kamar. "Apa yang kau lakukan Lev?!" ucap Evgenia tidak suka "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Apa kau bersenang-senang dengan sepupu iparmu?" "Apa maksud mu?!" "Apa kau lebih suka bersama pria lain, dibandingkan menunggu suamimu kembali?!" "Aku tidak sengaja bertemu dengan Mark. Aku juga tidak tau jika dia berada di tempat ini. Lagipula kami hanya makan kue, bukan melakukan hal lain" "Bagiku itu sama saja. Kau tetap pergi dengan pria lain" "Tapi kami sudah menjadi keluarga" "Itu hanya pemikiran mu tapi tidak untukku" Lev lalu pergi meninggalkan kamar. Nafas Evgenia memburu akibat pertengkaran itu. Dia tidak habis pikir dengan Lev, kenapa dia begitu mempermasalahkan kedekatannya dengan Mark, padahal mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi. Terlebih saat ini dia dan Mark sudah memiliki pasangan masing-masing. Malam harinya, Evgenia sudah membersihkan diri dan bersi

  • Wanita Milik Sang Pewaris   103

    "Kau bisa beristirahat di kamar sebelum pesta nanti malam" ucap Lev begitu mereka sampai di hotel tempat mereka menginap "Kemana kau akan pergi?" "Aku akan mengunjungi beberapa cabang perusahaan di kota ini, mungkin akan memakan waktu cukup lama, jadi tidak perlu menungguku" "Apa kau tidak ingin aku menemanimu?" "Itu akan membuatmu kelelahan" Evgenia terdiam Lev maju selangkah "Ingat kau harus menjaga dirimu agar bisa secepatnya memberi penerus untuk kakek" bisik Lev di dekat telinganya Evgenia seketika merona Lev menarik sudut bibirnya melihat itu, dia mencium pipinya sekilas, lalu berbalik dan masuk ke dalam mobil. Evgenia memegang pipinya, rona merah masih menjalar di wajahnya. Setelah mobil Lev menjauh, Evgenia masuk ke dalam hotel yang disiapkan Avraam untuk menjamu mereka selama di kota itu. Sebelum pergi, Lev sudah memberikan kunci kamar mereka. Ketika pintu lift hendak tertutup, Evgenia mengernyitkan dahinya saat melihat sosok orang yang cukup dikenalny

  • Wanita Milik Sang Pewaris   28

    Setibanya di lobby kantor milik Avraam "Feliks, apakah ada jadwalku untuk besok?" "Aku hanya mendapat undangan makan malam dari tuan Bogdashha pada pukul tujuh" Lev mengangguk "Kalau begitu, kau bisa pergi sendiri bukan?" "Eh?" "Aku memiliki urusan lain" Peter membukakan pintu untuk Lev

  • Wanita Milik Sang Pewaris   25

    Beberapa hari setelah pertemuan keluarga di kediaman Zhanna, Victoria kerap mengirim pesan dan menghubungi Mark, dengan alasan ngidam yang dialaminya. Mark awalnya acuh dengan permintaan wanita itu, namun Victoria ternyata menghubungi Bella agar Mark mau menuruti keinginannya. Mark yang sangat me

  • Wanita Milik Sang Pewaris   2

    Dua minggu setelah kejadian naas itu terjadi. Di ballroom sebuah hotel mewah di Moskow, terlihat pemandangan indah yang menghiasi seluruh ruangan, begitu juga musik klasik yang mengalun merdu menambah suasana hangat di dalamnya. Namun tidak lama senyum kebahagiaan Evgenia luntur ketika matanya menan

  • Wanita Milik Sang Pewaris   1

    "Apa yang harus kulakukan?" lirih seorang wanita berambut pirang panjang Wanita itu terduduk lemas di samping tempat tidur pasien di sebuah rumah sakit, menatap sedih sesosok wanita yang tertidur tenang dengan selang infus dan alat bantu pernafasan yang setia menemaninya dalam dua bulan terakhir.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status