Masuk21++ ⚠️⚠️Mengandung adegan dewasa, bukan bacaan di bawah umur! Yunika hamil dengan seorang CEO idiot. Hubungannya dirahasiakan oleh keluarga Irawan. Dia kabur pada saat hamil dan kondisinya tidak stabil ketika melahirkan putranya. Yunika meninggalkan bayinya di pintu panti tapi Ketua Mafia mengambilnya dan berkata pada semua orang bahwa bayi itu adalah putra kandungnya! Dalam sebuah pertemuan Yunika ingin mengambil bayinya kembali. “Nona Yun, jika Yolix benar-benar putra kandungmu, tidakkah kamu berpikir kamu harus bertanggung jawab padaku! Kamu tidur denganku dan meninggalkan bayimu padaku.” Bayi itu memang benar adalah putranya, tapi Yunika tidak pernah tidur dengannya. Pertanggungjawaban yang dibahas dan dituntut oleh Orion keduanya sama-sama tahu itu tidak perlu karena mereka sama sekali tidak pernah berhubungan apa pun sebelumnya. Yunika merasa sangat marah dan tidak sabar. Tangannya mencengkeram dasi Orion lalu menariknya mendekat sampai ujung hidung Orion hampir menyentuh hidung Yunika. “Jangan bercanda! Ini tidak lucu!” “Aku tidak sedang bercanda!” “Tuan Orion, kamu sudah meremehkan ku!” “Keluarga Irawan berpikir kamu akan berpindah rumah menjadi pelayanku, aku tidak berencana mencari pelayan karena sudah punya banyak pelayan!” “Kamu tahu bukan itu yang aku maksud!” Yunika sangat kesal dan dia terpaksa tetap memposisikan Orion di depan wajahnya. “Ya, menurutmu menjadi wanitaku apakah begitu buruk?” ujarnya dengan begitu jelas. Yunika sangat ingin memukul wajah jahil dan usilnya, jika perlu dia akan merontokkan semua gigi di dalam mulut manis Orion yang terdengar sangat menjijikkan itu. Regan sangat kesal, dia ingin sekali memukul wajah ketua mafia yang memiliki tindik di telinganya itu.
Lihat lebih banyakDua hari sebelum bekerja di kediaman keluarga Irawan.
Yunika sedang berada di kediaman bersama kakak angkatnya Judika. Pagi hari ini Yunika sedang menyiapkan sarapan untuk kakaknya. "Kira-kira kapan aku bisa masuk ke kantor? Jangan lupa kamu sudah menjanjikan pekerjaan untukku di sana!" Tagihnya pada Judika. Judika sedang melamun langsung tersadar lalu menyuap makanan yang dihidangkan di meja. Beberapa hari sebelumnya, Judika memang sudah menjanjikan pekerjaan kepada Yunika di kantor, namun mengingat pekerjaan di dunianya sekarang banyak sekali hal-hal berbahaya yang harus dihadapi dan hampir selalu melibatkan diri dengan penjahat, Judika mulai ragu untuk membawa serta Yunika. "Apa uang yang aku berikan tidak cukup?" Tanyanya untuk mengubah alur pembicaraan mereka berdua. Yunika mengukir senyum pada salah satu sudut bibirnya lalu menarik kursi dan duduk tepat di depan Judika. Yunika memainkan garpu dalam genggaman tangannya lalu menunjuk ujung batang hidung Judika. "Jangan-jangan kamu mau ingkar janji!" Judika melotot ketika ujung garpu tersebut hampir menancap pada bola mata kanannya. Judika menepisnya ke samping lalu berkata pada Yunika. Tidak ada jalan untuk berbohong pada adiknya, satu-satunya cara yang bisa dia lakukan sekarang adalah bertaruh dengannya untuk membuat Yunika lelah lalu menyerah hingga membatalkan niat pergi bekerja di kantor polisi. Judika mengeluarkan berkas kasus dari dalam tasnya lalu dia sodorkan ke depan Yunika. Kening Yunika mengernyit, dia menatap Judika dengan tatapan heran. "Apa ini?" "Kamu bilang ingin ikut pergi ke kantorku? Ingin bekerja di sana?" "Ya tentu saja!" "Kalau begitu coba kamu pelajari ini, setelah itu pergilah ke kediaman keluarga Irawan untuk menemukan bukti-bukti, aku curiga kecelakaan yang menimpa pewaris utama keluarga Irawan melibatkan beberapa orang penting di perusahaan. Salah satu di antara mereka bisa jadi adalah dalang di balik kejadian itu!" Tutur Judika dengan suara lirih. Yunika sedari tadi membaca berkas tersebut, awalnya dia ragu untuk pergi ke sana. "Bagaimana jika aku gagal?" Tanyanya lagi. "Kalau kamu gagal maka mundur dan tidak boleh bergabung dengan tim kepolisian!" Ujar Judika dengan bibir meringis penuh kemenangan. Yunika geram, dia langsung memukul meja dengan telapak tangannya. Braaakk! "Tunggu saja! Aku pasti berhasil mendapatkannya! Jangan pernah lupakan janjimu padaku! Lagi pula aku sudah lulus tes, kamu malah terus mempersulit ku dengan banyak alasan agar tidak pergi ke kantor!" Judika terdiam dan kembali menikmati sarapannya. Setelah merasa kenyang dia pun pergi bekerja ke kantornya seperti biasa. Yunika sekarang tinggal di rumah seorang diri. Karena penasaran dengan pekerjaan Judika, dia menyelinap masuk ke ruangan kerjanya yang ada di kediaman. Yunika menemukan banyak kasus pembunuhan dan berkas-berkas lain yang sedang diselidiki oleh Judika. Saat melihatnya dengan cermat, Yunika tahu semua dokumen tersebut hanyalah salinan yang disimpan di rumah. Tidak mungkin kakaknya membawa dokumen aslinya. "Dia mempelajari semua kasus ini?" Yunika mengernyitkan keningnya lalu membuka lembaran kertas tersebut. "Semuanya rata-rata adalah kasus pembunuhan yang tidak bisa dipecahkan." Yunika terus membacanya dan dia pun tertidur di sofa dalam ruangan kerja Judika. *** Di sisi lain, Judika masih terus menyelidiki secara tertutup tentang kasus kematian Lusi Irawan, beliau merupakan menantu nyonya besar Irawan. Sementara itu, putra laki-lakinya, Dika Irawan juga terlibat dalam kecelakaan nahas tersebut. Putra dari suami-istri tersebut, Regan Irawan juga ikut serta dan mengalami luka di kepala hingga CEO perusahaan besar itu berubah menjadi pria idiot yang tidak berguna. Judika selama ini curiga kalau Regan hanya berpura-pura menjadi pria idiot untuk menolak interogasi. Namun dia kesulitan menemukan buktinya. Judika tidak bisa melanjutkan penyelidikan secara terbuka karena kasusnya telah ditutup dan dianggap selesai karena kecelakaan biasa begitu saja. Anehnya, asisten pribadi Regan malah terus mencurigai salah satu anggota keluarga besar Irawan dan secara pribadi meminta detektif di kantor Judika untuk mencari tahu kebenaran itu. *** Sebenarnya ada satu bukti penting yang diketahui oleh salah satu anggota satu tim Judika. Rebel mengetahui bahwa kabel pengait rem mobil yang dinaiki oleh Nyonya Lusi Irawan sudah dikerat sebelum dikemudikan, akan tetapi bukti tersebut lenyap beserta hilangnya nyawa Rebel sang detektif! Kecurigaan bahwa kecelakaan hanyalah sebuah manipulasi untuk menyingkirkan Regan Irawan sang pewaris utama semakin kuat. Semua orang menjadi waspada karena kecelakaan tersebut. "Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, seseorang harus pergi ke kediaman Irawan untuk menyelidiki lebih jauh! Kita selama ini hanya mencari bukti-bukti dari luar saja. Kita semakin sulit menemukan kebenaran dari kejadian itu! Terlebih lagi nyawa Rebel sudah dikorbankan! Kita harus menangkap penjahatnya!" Ujar Judika dalam rapat bersama tim-nya pagi itu. "Siap, Komandan!" Jawab semua orang dengan serentak. Judika sudah mengirimkan beberapa orang untuk menyelinap ke kediaman Irawan, namun tidak ada hasil sama sekali. Ujung-ujungnya hanya kegagalan yang mereka dapatkan. Dan harapan Judika hanya tinggal satu, yaitu Yunika! "Apakah Yunika mampu menghadapi keluarga Irawan? Rata-rata anggota keluarga Irawan bertindak semena-mena dan licik, mereka bahkan tidak ragu menyingkirkan pelayan dengan alasan kecelakaan saat bekerja! Bagaimana jika Yunika mengalaminya? Aku tidak ingin kehilangan adikku!" Judika terombang-ambing dalam keputusannya sendiri. Di sisi lain Judika ingin menemukan kebenaran dan memecahkan misteri di dalam keluarga Irawan, di sisi lain lagi dia tidak mau Yunika kenapa-kenapa. Meski mereka bukan saudara kandung dan hanya bertemu tumbuh besar bersama di panti asuhan, selama ini bagi Judika Yunika merupakan adik kandungnya sendiri. *** Ketika pulang dari kantor, Judika melihat Yunika sedang membereskan ruangan kerjanya. Judika langsung bergegas memeriksa ke dalam. Judika menatap sebuah kemoceng di genggaman tangan kanan Yunika, serta lap di atas bahu kiri Yunika. Yunika sibuk membereskan ruangan dan menyingkirkan debu di sana-sini. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanyanya. "Kamu sudah pulang? Aku tidak mendengar suara langkah kakimu. Apa kamu sudah makan?" Yunika menatap Judika sekilas lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Judika terlihat sangat serius lalu berkata padanya. "Rebel ditemukan meninggal, mayatnya dibuang ke bendungan terbesar di tengah kota Jingge." Tangan Yunika yang tadinya sibuk bekerja langsung berhenti. Dia mengangkat wajahnya perlahan dan menatap kedua bola mata Judika. Kesedihan jelas-jelas terpancar di sana. "Kapan kamu pergi memeriksa ke sana? Biarkan aku ikut!" Katanya dengan serius. "Masalah ini bukan main-main Yunika, kalau sampai sesuatu terjadi padamu apa yang harus aku lakukan?" Tanyanya. Yunika menggelengkan kepalanya. "Jangan khawatir, aku pasti baik-baik saja, lagi pula bukannya CEO pemarah itu sekarang berubah menjadi CEO idiot yang tidak berguna?!" Yunika mencoba mengubah ketegangan dari percakapan antara mereka berdua, tetap saja Judika khawatir dan sedih saat Yunika bersedia turun langsung untuk menyelidiki kasus tersebut. Regan Irawan memang berubah menjadi CEO idiot sekarang, tapi bagaimana musuh-musuh Regan? Mereka bisa saja datang untuk menghabisi nyawanya kapan saja. Termasuk orang-orang yang berniat menggali kebenaran dari kecelakaan nahas yang menewaskan Nyonya besar Irawan waktu itu! Judika sangat cemas tapi juga tidak bisa menyerah begitu saja.Vera hampir pingsan dibuatnya, dia tidak tahu alasan apa yang cocok untuk dia katakan. “Semua manusia normal takut mati!” jawabnya. Pria itu tersenyum lalu menatapnya dengan tatapan mata tidak biasa tanpa menurunkan pisau dari leher Vera. “Apa aku salah bicara?” tanya Yunika dengan gugup.“Apakah kamu bersedia ikut pergi bersamaku? Putuskanlah baik-baik! Aku akan menunjukkan segala sesuatu tentangmu di masa lalu agar kamu bisa mengingat kembali!” ujarnya seraya menekan tubuh Vera ke dinding. Kepala Vera terbentur secara tidak sengaja. Dia mulai sadar sosok di dalam kegelapan itu bukan sosok asing yang baru dia temui. Aroma napasnya dan parfum di bajunya terasa akrab.Vera merasa kepalanya sakit dan nyeri, rasa itu datang menyerang dengan tiba-tiba. Ingatan di masa lalu muncul tidak terkendali. Bayangan di masa lalu antara dia dengan pria yang kini menahannya membuatnya berpikir semua itu adalah peristiwa mustahil. Bahkan tentang dirinya yang memiliki gen Zenus
Regan tidak bisa mengejar Yunika karena Yunika dikawal dengan sangat ketat.“Vera Guen? Apa ini masuk akal?” gumam Regan. Dia melihat Orion baru saja keluar dari balkon tidak lama setelah Yunika yang disebut-sebut sebagai Vera Guen. Regan tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekati Orion dan bertanya padanya.“Apa yang terjadi pada Yunika? Ke-kenapa semua orang memanggilnya Vera?”“Yunika sudah meninggal, apa kamu masih tidak tahu beritanya? Mayatnya bahkan juga sudah ditemukan.” Tandas Orion, dia tidak senang berdebat dengan Regan. Regan mengepalkan tangannya. “Orion, apa kamu tidak bisa melihat wajah Vera Guen? Bukankah mereka sangat mirip? Aku tidak percaya dia Vera! Dia pasti Yunika!”“Terserah apa katamu, yang pasti dia bukan Yunika tapi Vera Guen putri Jonas Guen. Apa kamu ingin bermusuhan dengan keluarga Guen? Silakan saja! Mereka adalah raja di bidang ini, kamu tidak masalah jika keluarga Irawan dipaksa mundur dari dalam grup?”“Aku rasa ucapa
Dua tahun berlalu ....Perusahaan CAMAR bangkrut dan gedung juga cabangnya diakuisisi oleh perusahaan luar negeri. Wulan tidak berani mengangkat kepalanya lagi dengan sombong. Ayahnya dipenjara karena kasus penggelapan pajak. Kediaman bak istana milik keluarganya disita bank. Semua penghuninya berpencar ke seluruh penjuru kota, sibuk menyelamatkan diri masing-masing.Orion sendiri heran dengan kabar tersebut, hanya dalam dua tahu perusahaan yang tidak memiliki saingan besar di medan bisnis tiba-tiba tumbang begitu saja. Seseorang dengan status tinggi di luar sana ternyata sengaja menargetkan perusahaan CAMAR. ***Seorang wanita duduk di kursi roda, di dalam ruangan pasien, rumah sakit luar negeri. Kepalanya diperban, dia menatap ke luar jendela kamar. Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka, seorang pria dan wanita masuk ke dalam.“Vera?” panggil seorang wanita paruh baya padanya.Yunika menoleh dan memutar kursi roda, dia mengangguk seraya mengu
Regan hampir kehilangan kendali dan hal itu membuat Nilam merasa bersalah. Nilam tahu yang diinginkan Regan sama sekali bukanlah dirinya melainkan Yunika. Entah kapan Regan akan bisa mengatasi masalah luka di dalam hatinya. Sudah jelas, Yunika tidak akan pernah kembali padanya kecuali seluruh keluarga Irawan bersedia mengorbankan diri untuk mati di tangan Orion.Nilam keluar dari ruangan Regan lalu menelepon Yunika. ***Di sisi lain, Yunika baru saja keluar dari dalam ruangan kerjanya. Wanita itu menggenggam berkas di tangannya dan menyerahkan berkas kasus tersebut pada atasannya. “Pak, timku tidak akan menangani kasus ini,” ujarnya seraya meletakkan berkas tersebut ke atas meja atasannya.“Kenapa? Tidak biasanya kamu menolak kasus?” tanyanya dengan heran.“Aku hanya tidak mau saja, lagi pula perusahaan CAMAR terlalu rumit, berikan saja pada mereka yang ingin naik jabatan!” jawabnya.Yunika mendengar dering ponsel dalam sakunya, dia segera keluar dari d


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.