Share

chapter 46

Author: Senjaku
last update publish date: 2026-06-05 16:18:58

"itu hanya Paracetamol, aku memberikannya supaya demam ibu turun, pa! percaya sama aku deh! Pasti ada yang tidak suka sama aku atau sama keluarga kita mungkin. Mereka ingin, kita terpecah belah pa" cicit Ine, meraih tangan suaminya namun sekali lagi di hempas.

"Adit..! Sayang..! Percaya ya nak sama mama. Gak mungkin mama ngelakuin itu, sama Oma kamu. Apalagi sama Arsya. Mama sayang sama kalian" ucap Ine, pada Aditya. "Atau, ini semua pasti karena istrimu, iya kan? Kemarin dia memang ke rumah,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 63

    Dinginnya AC membuat Zahra tertidur pulas. Setelah seharian drama, yang dialaminya dijalan. Namun tiba - tiba kakinya kram, tidak bisa digerakkan. Membuatnya terpaksa membuka mata, "Awh, mas..tolong mas, aduh!" Cicitnya, kesakitan. "Kenapa, sayang?" Aditya berusaha membuka matanya, walaupun masih sangat lengket. Karena dirinya baru saja terbawa ke alam mimpi. "Ini mas, kaki aku kram. Tolongin.." rengek Zahra, masih terus menarik lengan baju suaminya. "Iya, yang! Sabar.." jawab Adit, terpaksa bangun lalu membalurkan minyak urut ke kaki istrinya. "Gimana, sudah enakan belum?" Tanya Aditya, masih terus mengurut kaki Zahra dengan sabar. "Udah, makasih ya mas" jawab Zahra, memeluk erat perut suaminya begitu manja. Membuat sesuatu yang sejak tadi tidur lelap, kini malah ikutan bangun membuat celana Aditya menjadi sempit. "Iya, sama - sama. Ya sudah, bobo lagi yuk" kata Aditya, kasihan istrinya kalau harus menuruti ular piton yang mulai mendesis dibalik celananya. "Gak mau bobo" jawab Z

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 62

    Drrrttt drrttt Tiba - tiba saja, ada nomer tidak dikenal masuk ke ponsel ayu Sarah. Dahinya mengernyit, siapa gerangan yang menghubunginya. Yang tau nomer telponnya hanyalah Aditya dan Zahra. "Assalamualaikum.." ucap ayu Sarah, ragu - ragu. Setelah menekan tombol hijau berbentuk telpon, dilayar pintarnya. Matanya masih fokus mengawasi Arsya yang aktif bergerak kesana kemari, karena mbokyem lagi di ruang loundry menyelesaikan cuciannya. "Wa'alaikumsalam, yu! Gimana kabarnya?" Tanpa sadar, senyum ayu Sarah mengembang. Mendengar suara pria yang begitu dikenalnya, ada diujung telpon. Sudah bisa ditebak ya, siapakah gerangan pria itu. Tepat sekali, dia adalah dokter Fahmi. Seseorang yang puluhan tahun, membantu ayu Sarah dalam proses penyembuhannya. Banyak sekali momen yang mereka lalui bersama. Dokter Fahmi adalah seorang duda tanpa anak. Istrinya meninggal, karena kecelakaan pesawat saat perjalanan umroh ke tanah suci Mekkah. Semenjak kematian sang istri, belum pernah sekali pun ia c

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 61

    "gak apa - apa mbok, cuma sebentar. Takut ada yang lupa, tidak tertulis kalau mbokyem yang belanja" Zahra mode ngeyel, membuat pusing pembantunya. Bingung nanti harus menjawab apa, kalau sampai Aditya bertanya dan marah karena pesannya dilanggar."Mbok..!" Panggil Zahra. pembantu itu pun datang menghampirinya. "Iya non? Ada yang bisa mbokyem bantu?" Tanya mbokyem. Zahra pun menjawab, "Nitip Arsya ya. Saya berangkat dulu. Assalamualaikum" dijawab dengan "wa'alaikumsalam" dan Zahra pun pergi dengan Taxi online yang dipesannya."Berhenti didepan, pak!" ucap Zahra, meminta sopir Taxi menurunkannya tepat didepan sebuah minimarket. Ia pun keluar dari Taxi itu, setelah menyerahkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan.Seperti tak ada lelahnya, Zahra memutari tempat belanjaan itu dengan keranjang yang mulai penuh barang. "Masak sup daging sepertinya enak, kebetulan cuacanya lagi mendung. Semoga ibu dan mas Adit nanti suka" gumamnya sembari memilih daging merah, lalu dimasukkannya kedalam ke

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 60

    "papa boleh ketemu ibumu gak, dit?" tanya hermawan, merasa bersalah. Teringat masa lalu, kala itu pertengkaran antara dirinya dan ayu sarah terjadi. "pergi dari sini kau ayu, aku tidak sudi melihat mukamu lagi" teriak hermawan. dengan mata sembab, bahkan suaranya yang serak ayu sarah berucap "aku sudah berusaha jujur padamu mas, tapi kamu lebih memilih percaya pada orang lain. suatu saat, allah akan menunjukkan siapa yang berbuat jahat sebenarnya. dan ketika itu terjadi, kamu mungkin sudah tidak punya kesempatan untuk menyesal atau bahkan hanya untuk 2mendapat maaf dariku pun tidak!" "Boleh aja, tapi Adit harus tanya ibu dulu.lagian, katanya tadi papa mau kel Louar negeri. Gimana sih?'" jawab Aditya, membangunkan Hermawan dari lamunan. "Masih tengah malam perginya. Kalau ayu Sarah mau ketemu, masih ada waktu beberapa jam lagi. Papa tunggu kabarnya ya" ujar Hermawan, sebelum mereka menyudahi sambungan telponnya. Ceklekkk!! Seorang perempuan muda, membuka pintu kamar VVIP yang dite

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 59

    Kriiing..kriiing.. Ponsel Aditya terus - terusan menjerit, saat dirinya sedang di parkiran bersama ibunya. "Ibu masuk dulu ya! Adit mau angkat telpon sebentar" pinta Aditya pada ibunya. Ayu Sarah pun mengiyakan. "Ya, halo! Gimana sil?" Sapa Aditya , saat melihat nama Silvia yang muncul dilayar pintar miliknya. "Dit, gimana kabar papa kamu? Apa sudah baikan?" Suara Silvia serak, seperti orang sakit. "Sorry banget sil, hari ini gue juga belum ke rumah sakit. Jadi belum lihat perkembangan papa sama. Nanti ya, selesai praktek, gue jenguk papa. Gue update ke Lo ,oke?" Aditya mengerti, hubungan papanya dan Silvia pasti sedang mengalami masa sulit. Terbukti suara Silvia sampai serak, bisa jadi karena habis nangis. "Oke, dit! Makasih banyak ya" ucap gadis itu, lalu mematikan sambungan telponnya. "Siapa nak?" Tanya ayu Sarah, setelah Aditya masuk ke dalam mobil. "Oh, teman Adit Bu. Nanyain kabar papa, karena kebetulan papa lagi dirawat di rumah sakit" Aditya menjelaskan. Menatap lekat sa

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 58

    "kenapa kesini lagi? Mau marah - marah lagi?" Ketus Ine, saat mendapat kunjungan dari sang kakak. "Tentu saja tidak. Aku kesini, cuma mau minta maaf. Mungkin kemarin, aku terlalu emosi. Sudahlah kita lupakan saja masa lalu. Aku akan mencoba berubah. Akan ku awali dengan mencari pekerjaan. Dari dulu, aku selalu mengandalkan uang darimu. Maafin kakak ya.." Ine tersentuh mendengar ucapan Ndaru. Tapi, dia pun sangat tau karakter kakaknya. Kalau Ndaru memasang muka orang baik - baik, itu artinya dia sedang menginginkan sesuatu darinya. "Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Ine, coba mencari kebenaran dari yang ia pikirkan. "Emmm, aku mau minta biaya hidup selama mencari pekerjaan ne. Sekalian ini, perusahaan ini kamu tau kan? Aku bisa kan diterima, pakai jalur dalam?" Ndaru menyodorkan amplop coklat ala pelamar kerja, pada Ine. "Kak, bukannya gak mau kasih. Aku mana ada uang. Semua ATM dan kredit card aku, dibekuin sama Hermawan. Aku sekarang ini sudah jadi gembel kak. Apalagi bantuin kakak ca

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 8

    "Tante mau kan membujuk Aditya supaya segera menikahi aku. Kan kasihan Tan, dia kesepian dan terus meratapi istrinya yang sudah meninggal itu. Tante sih, dari dulu sudah ku bilang, jangan biarkan Aditya nikah sama cewek penyakitan itu. Sekarang kaya gini deh jadinya" Silvia mendesis bak ular hendak

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 7

    Tokk..tokk.."Zahra, apa boleh aku berpamitan dengan Arsya sebentar?" Dokter Adit berdiri didepan pintu kamar.Aku bingung harus bersikap. Harusnya kejadian semalam bisa ku hindari. Dokter Adit bahkan sudah berteriak untuk aku jangan masuk ke kamar mandi. Dia pasti sedang terkena obat atau sejenisn

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 6

    Setelah mereka dewasa, Wina tetap merasa kedua orang tuanya lebih mencintai Arya. Saat wisuda, kedua orang tuanya tidak bisa hadir karena alasan kerja. Ia bahkan harus minta tolong sopirnya untuk berpura - pura menjadi orang tuanya, dan membawakannya bucket bunga. Wina hidup berkecukupan namun hati

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 5

    Rasa panas menjalar dibagikan dadaku. Apakah ini efek Obat yang ku minum tadi. Sudah dua kali aku meminumnya, kurang satu kali. Rasanya dua gundukan didadsku mulai mengencang, seperti ada rasa lain. Coba ku periksa dan ku pijit pelan, ada setetes yang keluar dari sana."Oeeek..oeeekk.." Arsya menan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status