خداع القلوب: حرب الورد والشوكة

خداع القلوب: حرب الورد والشوكة

last updateLast Updated : 2026-07-21
By:  SamUpdated just now
Language: Arab
goodnovel12goodnovel
Not enough ratings
107Chapters
347views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

تبدأ قصتنا في حي "أكيهابارا" المزدحم تحت سماء طوكيو الرمادية التي تنذر بمطر وشيك. بطلنا هو "كينجي"، شاب وسيم، يرتدي بدلة رسمية أنيقة، لكنه في الواقع "محتال عاطفي" صغير. خطته بسيطة: يوقع الفتيات في حبه ليدفعن عنه فواتير المطاعم الفاخرة، ثم يختفي كالدخان. أما بطلتنا فهي "هانا"، فتاة تبدو رقيقة وهادئة بزيها التقليدي المطور، لكنها "صيادة هدايا" محترفة؛ هدفها إيقاع الشباب الأثرياء في فخها لجمع المجوهرات والحقائب باهظة الثمن. ملحمة كوميدية رومانسية تدور في قلب طوكيو النابض، حيث يلتقي "التخطيط الماكر" بـ "الحظ العاثر" في قصة عنوانها: "خداع القلوب: حرب الورد والشوكة".

View More

Chapter 1

الجزء الأول: الخطة رقم (1) - "مظلة الحب المسروقة"

“Na, aku hamil. Kata dokter, usia kandunganku sudah 8 minggu.”

Ucapan wanita di depannya menghentikan tangan Narumi yang hendak menyesap teh. Jantungnya berdebar kencang dengan perasaan campur aduk. Jadi, inilah alasan sahabatnya itu bersikeras untuk datang ke rumahnya di pagi hari.

Sepersekian detik, wajah Narumi diam tanpa ekspresi. Ia bingung, apakah harus memberikan ucapan selamat, atau menunjukkan rasa irinya? Bagaimana tidak, selama ini, Narumi lah yang selalu mendambakan kehamilan.

Pernikahannya yang telah berjalan selama 3 tahun bersama sang suami tetap tak membuahkan anak. Tapi tiba-tiba, justru Karin lah yang mengandung terlebih dahulu.

“Kamu hamil?” Suhita, ibu mertua Narumi tiba-tiba memecah keheningan, suaranya melengking gembira.

“Karin, ini sungguh berita yang luar biasa!” Ia lantas bangkit, memeluk Karin erat. Tak menggubris Narumi yang masih terkejut dengan berita yang baru didengarnya.

Selama ini, Karin memang dekat dengan keluarga suaminya, karena Narumi, Karin, dan Ghali memang berteman sejak SMA. Jadi, tak heran jika mertuanya juga menganggap Karin bagaikan anaknya sendiri.

Narumi pun melirik ke arah Ghali, penasaran dengan ekspresi dari suaminya itu. Namun yang ia temukan hanyalah raut tenang, seakan perkataan Karin bukanlah sesuatu mengejutkan untuknya.

“Mas, apakah kamu sudah tahu soal kehamilan Karin?” selidik Narumi hati-hati.

Ghali memberi anggukkan singkat, membuat Narumi semakin heran. Mengapa semua orang di sini begitu antusias dan tak menunjukkan setitik pun rasa keterkejutan?

Selama yang Narumi tahu, sahabatnya itu tak memiliki kekasih, apalagi seorang suami. Apakah kedua manusia ini tak bertanya-tanya, Bagaimana Karin tiba-tiba bisa hamil?

“Aku sengaja ingin memberikan kejutan ini padamu, Na,” sambung Karin dengan antusias, baru saja melepaskan diri dari pelukan Suhita. Matanya berbinar-binar, seolah tak menyadari badai yang tengah berkecamuk di hati Narumi. “Apa kamu bahagia atas kehamilanku?”

“Tentu,” Narumi mengangguk kaku sambil memaksa kedua sudut bibirnya terangkat ke atas. Pertanyaan Karin terdengar konyol di telinganya, seolah tengah mengolok-olok dirinya dengan buas.

“Tapi...” Tak tahan dengan rasa penasaran, Narumi akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Sejak kapan kamu memiliki kekasih? Siapa ayah dari janin ini?”

Wajah Karin langsung bersemu merah. Ia melirik ke arah Ghali dan Suhita, membuat Narumi semakin yakin untuk memantapkan hati. Apalagi ia melihat, ibu mertuanya mengangguk kecil.

“Kamu sudah mengenal ayah janin ini, Na. Dia—“

“Aku ayah dari janin di perut Karin,” potong Ghali tanpa basa-basi. Pria itu beranjak dari duduknya untuk berpindah ke sisi Karin, menggantikan posisi sang mertua dengan gerakan yang tampak begitu natural.

Narumi tercekat. Dunianya runtuh dalam sekejap. Pertahanan yang di bangun akhirnya hancur. Ternyata, ia tak setangguh itu.

“Sebentar lagi, rumah ini akan ada tangisan bayi. Keluarga Faghdam akan memiliki pewaris. Kamu akan segera menjadi Papa, Ghali,”

Senyum mengejek tersungging di bibir Narumi kala mendengar ucapan Suhita. Jadi, ini alasan mengapa mertuanya dan Ghali begitu antusias. Mereka hanya menginginkan pewaris, tanpa memedulikan perasaannya sama sekali.

Setiap tarikan napas terasa berat untuk Narumi, seakan udara di sekitarnya telah berubah menjadi racun yang perlahan menggerogoti jiwanya.

Terlebih saat ia mengingat suara Siska, teman sekaligus pengacaranya terus berdenging bagai mantra tak berkesudahan, meminta Narumi untuk segera berpisah dari Ghali karena, “Wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik”, katanya.

Narumi hanya bisa tertawa pahit, ia lalu menyesap tehnya untuk menangkan diri. “Jadi... sudah berapa lama kalian berzina?” sambungnya bertanya dengan nada ketus, namun suaranya tetap stabil.

Mata coklat yang tajam itu menatap ke arah Karin, menuntut kejujuran dari sahabat yang kini telah berubah menjadi pengkhianat.

“Na, apa maksud dari perkataanmu?” sahutnya, wajah Karin tak dapat menyembunyikan rasa keterkejutan. Tidak hanya sahabatnya itu saja, suami serta mertuanya pun menampilkan ekspresi yang sama.

“Apa kalimat sederhana itu tak bisa kamu pahami, Rin?" Narumi berdecak, senyum mengejek mulai menghiasi wajahnya. "Kemana perginya otak cerdas super model itu?”

“Narumi!” suara Ghali menggelegar, matanya menajam seakan bisa membunuh istrinya di tempat.

“Aku tak tuli, jadi tak perlu berteriak, Mas.” timpal Narumi santai, terkesan tak peduli.

“Na... apa kamu marah karena kehamilanku?” tanya Karin, suaranya bergetar.

Narumi tertawa getir, sampai air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Menurutmu? Apa ada orang di dunia ini yang tidak marah ketika suaminya berzina? Dan... menghasilkan anak haram pula!”

“Narumi! Perkataanmu sungguh keterlaluan!” Suhita tak bisa lagi menahan amarahnya, matanya menatap nyalang seakan bisa menelan menantu bulat-bulat.

"Aku rasa pertanyaanku sederhana," sahut Narumi dengan nada datar. "Sejak kapan mereka berdua berzina? Tapi kenapa urusannya jadi sepanjang ini? Di sini aku yang terlalu pintar atau kalianlah yang terlalu bodoh."

Wajah mertuanya itu semakin merah, namun reaksi itu justru mengundang tawa pahit dari Narumi. "Baiklah, kita sudahi saja perbincangan ini," ucapnya, beranjak untuk pergi. Namun langkahnya terhenti saat suara Karin memecah keheningan.

"Na, kamu benar-benar keterlaluan. Kamu bukannya bersyukur aku hamil, tapi kamu malah menghinaku dan juga anak di perutku ini." Air mata mulai mengalir di pipi Karin.

Narumi berbalik, matanya menatap wajah bulat Karin yang basah oleh air mata. "Menghina? Oh tidak Karin, aku tidak menghina, tapi itu adalah kenyataannya. Apa lagi sebutan yang baik atas anak itu dan juga kelakuanmu?”

"Narumi! Kenapa kamu bersikap begini?" Karin berdiri, tangannya terkepal erat dengan mata merah oleh amarah. "Anak ini bukan anak haram, ia ada karena adanya cinta di antara kami.

Senyum sepah menghiasi wajah Narumi. "Cinta? Wah hebat sekali." Suaranya penuh sarkasme. "Kenapa tidak tiga tahun yang lalu kamu bersikap begini?" Tatapannya begitu tajam hingga Karin tak sanggup membalas dan terdiam.

"Tentu kamu masih ingat, bagaimana kamu bersujud di kakiku untuk menggantikan posisimu karena kamu belum siap menikah dengan Mas Ghali tiga tahun lalu? Kamu dengan mudahnya pergi keluar negeri demi mengejar karirmu tanpa menoleh saat itu. Tapi sekarang..." Narumi memutar matanya, diiringi desisan kemuakan yang tak bisa ia tutupi lagi.

"Kamu bilang cinta? Omong kosong apa ini, Karin?" Nada suara Narumi begitu tenang, namun tajam, menembus lubuk hati siapa pun yang mendengarnya.

"N-Na... Aku—"

"Kamu tak perlu menjelaskan padanya, Rin. Aku memahami mu." Ghali memotong cepat, tangannya mengelus lembut bahu Karin, berusaha menenangkan wanita hamil itu. Ia lalu mendekati Narumi, matanya berkilat penuh determinasi.

"Kamu juga harus ingat, kita menikah berdasarkan kontrak. Jika kamu tak bisa memberiku pewaris maka kamu siap di madu."

Tawa mengejek meluncur dari bibir Narumi. "Tentu kamu juga tak lupa Mas, isi kontrak kita. Di sana tertulis tak ada pengkhianatan di dalamnya selama perjanjian itu berlangsung. Tapi, apa yang kamu lakukan?" Matanya menatap Ghali dengan sorot tajam yang menusuk.

"Baru minggu lalu vonis itu keluar, Mas. Sementara kehamilan Karin... 8 minggu? Sejak kapan dia naik ke atas ranjangmu, Mas?"

Ghali tampak tersentak, matanya melebar saat menatap Narumi. Seolah, Istri di hadapannya adalah orang asing; tatapan tajam, rahang yang mengeras, dan tak ada lagi kelembutan dalam suaranya. pria itu bahkan menelan ludah, berusaha mengendalikan situasi yang semakin terasa dingin.

"Sebulan yang lalu, atau dua bulan yang lalu, atau... Satu tahun yang lalu?" Narumi kembali menambahkan, ucapannya benar-benar penuh racun. "Jawablah mas, sejak kapan kalian mulai berzina dan mengkhianati ku?!"

"Na... Kami tak bermaksud mengkhianatimu, kami—"

"Aku tak bertanya padamu, Pelacur! Aku bertanya pada suamiku!" Ia memotong ucapan Karin dengan kata-kata pedas, tangannya terangkat seolah hendak menampar udara. Wajah Narumi kini tak bersahabat, yang ada hanya kobaran kemarahan yang siap mengamuk.

"Cukup Na, kamu sudah keterlaluan!" seru Ghali, mengabaikan pertanyaan Narumi.

Namun Narumi tak membutuhkan jawaban itu. sebab, Ia sudah tahu perselingkuhan suaminya. Perselingkuhan yang telah berlangsung selama satu tahun, sejak sahabatnya itu kembali ke Indonesia.

"Aku mencintai Karin, baik dulu maupun sekarang."

Perkataan Ghali itu seketika menyadarkan Narumi, membuka matanya pada kenyataan pahit tentang suaminya yang dicintainya. Di mata hitam pekat Ghali, tak pernah ada Narumi sejak awal. Narumi hanyalah pengantin pengganti, sebuah cangkang kosong untuk cinta sejati Ghali.

"Aku tahu itu, Mas. Aku tak buta." Ia menarik napas dalam, berusaha mengendalikan gemuruh di dadanya. Mata Narumi menatap lurus ke arah Ghali, tidak lagi dipenuhi cinta, melainkan keteguhan hati yang baru ditemukan.

"Terima kasih telah membuatku sadar."

Ghali terlihat bingung, alisnya berkerut menatap perubahan di wajah Narumi. "Apa maksudmu?"

Wanita itu hanya tersenyum kecil, senyum yang menyiratkan tekad baru. "Aku ingin bercerai. Ayo kita bercerai, Mas."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
107 Chapters
الجزء الأول: الخطة رقم (1) - "مظلة الحب المسروقة"
إليكم هده القصة الكوميدية والرومانسية التي تدور احداتها في قلب طوكيو النابض، حيث يلتقي "التخطيط الماكر" بـ "الحظ العاثر" في قصة عنوانها: "خداع القلوب: حرب الورد والشوكة".الجزء الأول: الخطة رقم (1) - "مظلة الحب المسروقة"​تبدأ قصتنا في حي "أكيهابارا" المزدحم تحت سماء طوكيو الرمادية التي تنذر بمطر وشيك. بطلنا هو "كينجي"، شاب وسيم، يرتدي بدلة رسمية أنيقة، لكنه في الواقع "محتال عاطفي" صغير. خطته بسيطة: يوقع الفتيات في حبه ليدفعن عنه فواتير المطاعم الفاخرة، ثم يختفي كالدخان. أما بطلتنا فهي "هانا"، فتاة تبدو رقيقة وهادئة بزيها التقليدي المطور، لكنها "صيادة هدايا" محترفة؛ هدفها إيقاع الشباب الأثرياء في فخها لجمع المجوهرات والحقائب باهظة الثمن.​في ذلك اليوم، كان كينجي يبحث عن "فريسة" جديدة، بينما كانت هانا تبحث عن "صيد" ثمين. التقيا عند ناصية شارع مزدحم. كينجي، بخبرته، حدد هانا كهدف: "تبدو ساذجة وغنية، مثالي!". هانا، بذكائها، حددت كينجي: "ساعته تبدو أصلية، هذا هو المطلوب!".​بدأت السماء تمطر فجأة. كانت هذه هي اللحظة المثالية لكينجي. أخرج مظلته الوحيدة، واقترب من هانا التي كانت تتظاهر بالار
Read more
الجزء الثاني: العشاء الفاخر.. وفخ الفاتورة!
الجزء الثاني: العشاء الفاخر.. وفخ الفاتورة!​استيقظ كينجي في صباح اليوم التالي وهو يشعر بنشوة الانتصار قبل المعركة. أرسل رسالة نصية لـ هانا يقول فيها: "لقد حجزتُ طاولة في مطعم 'ساكورا الذهبي' المطل على النهر، أريد أن أعوضكِ عن حادثة المطر بالأمس". في الحقيقة، كينجي لا يملك ثمن طبق مقبلات في ذلك المطعم، لكن خطته كانت تقضي بأن يتظاهر عند وصول الفاتورة بأنه نسي محفظته في السيارة، وبما أن هانا "غنية" (كما يظن)، فستدفع هي بدافع الخجل، ثم يتلاشى هو من حياتها.​على الجانب الآخر، كانت هانا تقفز فرحاً. "مطعم ساكورا الذهبي؟ هذا يعني أنه صيد سمين جداً!" قالت لنفسها وهي تختار أغلى فستان لديها (والذي استعارته من صديقتها دون علمها). كانت خطة هانا مطابقة تماماً لخطة كينجي: ستطلب أغلى الأطباق، وعندما يحين وقت الدفع، ستدعي أنها فقدت حقيبتها في الحمام وتتركه يواجه المصير المحتوم.​التقيا أمام المطعم. كان المنظر ساحراً، وأضواء طوكيو تنعكس على مياه النهر. كينجي بدا كأنه وريث لشركة عملاقة، وهانا بدت كأميرة من قصص الخيال. دخلا المطعم، وجلسا على طاولة مجهزة بالشموع.​بدأ العرض المسرحي؛ كينجي يطلب "السوشي" ا
Read more
الجزء الثالث: "إعصار في الغرفة 404"
الجزء الثالث من ملحمة "خداع القلوب: حرب الورد والشوكة"، حيث تأخذ الأمور منحىً غير متوقع يضعهما في مأزق "المكان الواحد".الجزء الثالث: "إعصار في الغرفة 404"​بعد نجاة أبطالنا من "مجزرة الفاتورة" في المطعم، قرر كينجي أن يرفع سقف الرهان. أراد أن يثبت لهانا أنه يمتلك عقارات واسعة، فدعاها لزيارة "شقته الفاخرة" في منطقة "روبونجي" (وهي في الحقيقة شقة صديقه المسافر التي كلفه بسقي نباتاتها فقط). أما هانا، فقد كانت تخطط في سرها لكيفية تصوير "عقود الملكية" لابتزازه لاحقاً أو إقناعه ببيع شيء ما لتمويل رحلة تسوق وهمية.​بمجرد دخولهما الشقة التي كانت تعج بالأثاث الحديث والزجاج، بدأت السماء تمطر بغزارة غير طبيعية. فجأة، انطلق صوت إنذار الطوارئ في هواتفهما: "تحذير من إعصار مفاجئ، يرجى عدم مغادرة المباني حتى الصباح".​"يا للهول!" صرخ كينجي في قلبه، "سأضطر للبقاء معها ليلة كاملة، وإذا اكتشفت أنني لا أعرف حتى أين توجد المناشف، سينكشف أمري!". أما هانا فكانت تفكر: "ليلة كاملة في عرين الأسد؟ يجب أن أظل يقظة لكي لا يسرق قلبي.. أقصد حقيبتي!".​لإثبات "ثراءه"، قرر كينجي أن يطبخ لها عشاءً إيطالياً فاخرًا. دخل
Read more
الجزء الرابع: "نزهة الغابة.. وفخاخ الغباء المتبادل"
الجزء الرابع: "نزهة الغابة.. وفخاخ الغباء المتبادل" ​استيقظ بطلنا المحتال كينجي وهانا في صباح اليوم التالي، والشمس تشرق فوق طوكيو بعد ليلة الإعصار، لكن سحب الخداع لم تتبدد بعد من سماء علاقتهما الغريبة. قرر كينجي أن الموعد القادم يجب أن يكون "قاضياً"؛ فخطط لرحلة صيد وتخييم في غابات "أوكيغاهارا" الخلابة المحيطة بجبل فوجي. كانت خطته تقتضي أن يتظاهر بالبطولة حين "تضيع" هانا، لينقذها في اللحظة الأخيرة، مما يجعله في نظرها بطلاً لا يقهر، وبالتالي تسهل السيطرة على مشاعرها (ومحفظتها). أما هانا، فقد كانت تفكر بعقلية مختلفة تماماً؛ فقد قررت أن هذه الغابة هي المكان المثالي لتدعي إصابة كاحلها، وتجبر كينجي على حملها طوال الطريق، ومن ثم إقناعه بأنها بحاجة لرحلة علاجية "باهظة" إلى سويسرا للتعافي! ​وصل الاثنان إلى حافة الغابة وهما يرتديان ملابس "تخييم" تبدو وكأنها خرجت للتو من عرض أزياء في باريس، لا علاقة لها بالواقع المرير للأشجار والأشواك. كينجي يحمل حقيبة ظهر ضخمة (محشوة بالوسائد لتبدو ثقيلة وممتلئة بالمعدات)، وهانا ترتدي حذاءً رياضياً ذا كعب مخفي لتبدو رشيقة وطويلة. ​بدأت الرحلة بتبادل عبارا
Read more
الجزء الخامس: "الحقيبة المفتوحة.. وفضيحة الديون"
الجزء الخامس: "الحقيبة المفتوحة.. وفضيحة الديون"​بعد مغامرة "الحفرة" الطينية في الغابة، عاد كينجي وهانا إلى طوكيو، وكان من المفترض أن يذهب كل منهما إلى منزله لغسل ذنوبه وخططه الفاشلة. لكن، وبسبب تعطل سيارة الأجرة التي كانت تقلهما، اضطر كينجي لدعوة هانا إلى "مكتبه الخاص" (الذي هو في الحقيقة زاوية صغيرة استأجرها في مساحة عمل مشتركة ليوهم الناس بأنه رجل أعمال).​كانت الخطة في رأس كينجي هي إبهار هانا ببعض الأوراق الرسمية المزيفة التي تثبت امتلاكه لأسهم في شركات تكنولوجية. أما هانا، فكانت تتحين الفرصة لفتح حقيبة كينجي لسرقة "ساعته الذهبية" التي خلعها لتنظيفها من طين الغابة.​بمجرد دخولهما المكتب، استأذن كينجي للذهاب وإحضار بعض العصير. في هذه اللحظة، تعثرت هانا "بالصدفة" (وهي صدفة حقيقية هذه المرة بسبب السجاد الزلق) واصطدمت بمنضدة كينجي، مما أدى لسقوط حقيبة هانا وانفتاحها بالكامل، وفي الوقت ذاته، سقط درج مكتب كينجي السري وتحطمت قفله.​عاد كينجي ليرى مشهداً لم يتوقعه في أحلامه الكابوسية! على الأرض، تناثرت محتويات حقيبة هانا: "ثلاثة باروكات للشعر بألوان مختلفة، نظارات تنكرية، بطاقات عمل بأسم
Read more
الجزء السادس: "خطة السطو.. والهروب بملعقة!"
الجزء السادس: "خطة السطو.. والهروب بملعقة!"​بعد أن سقطت الأقنعة في مكتب كينجي المتواضع، وجد "الثنائي الفاشل" نفسه أمام مفترق طرق: إما الافتراق والعودة لحياة الديون والباروكات، أو الاتحاد لاستغلال تلك "الخريطة" الغريبة التي وجدتها هانا. كانت الخريطة تشير بوضوح إلى "صندوق أسود" مدفون أسفل القبو القديم لمطعم "ساكورا الذهبي".​"اسمعي يا هانا،" قال كينجي وهو يرتدي نظارته الطبية المكسورة ليدعي الذكاء، "المطعم محصن بكاميرات مراقبة، ونظام إنذار، ونادل غليظ القلب لا ينسى الوجوه. نحن بحاجة لخطة احترافية".ردت هانا وهي تمشط إحدى باروكاتها بحماس: "لا تقلق، لدي خطة 'العروس الهاربة'. سأدخل أنا كعروس تبحث عن خطيبها الخائن، وأنت ستكون المصور الذي يطاردني. بينما ينشغل الجميع بالدراما، سنتسلل إلى القبو!".​في الليلة الموعودة، وقف كينجي أمام المطعم يحمل كاميرا قديمة (بدون فيلم) ويرتدي قبعة غريبة، بينما ظهرت هانا بفستان زفاف "مستعمل" اشترته من سوق البالة، وبدأت تصرخ في الشارع: "أين أنت يا تاكاشي؟ أعلم أنك تأكل السوشي هنا مع تلك المرأة!".​تجمع الناس، وارتبك أمن المطعم، وبدأ كينجي يصور المشهد بجدية وهو ي
Read more
الجزء السابع: "الرسائل المشفرة.. واختطاف بلمسة فكاهية"
الجزء السابع: "الرسائل المشفرة.. واختطاف بلمسة فكاهية"​توقف الزمن للحظة أمام السيارة السوداء الفخمة. كينجي، الذي كان لا يزال يرتدي قبعة المصور المضحكة، حاول استعادة رباطة جأشه "المصطنعة"، بينما هانا، بفستان زفافها الملطخ بطين القبو، حاولت الاختباء خلف ظهره. الرجل الضخم الذي خرج من السيارة لم يكن يبتسم؛ كان وجهه قطعة من الرخام، وعيناه لا ترمشان خلف النظارات السوداء.​"الرئيس يريد رؤيتكما الآن،" كرر الرجل بصوت رخيم يشبه هدير محرك شاحنة. "وبخصوص الصندوق.. يُفضل أن يكون بحوزتكما".​كينجي، في محاولة يائسة للهرب، نظر إلى هانا وقال بصوت عالٍ: "أوه! انظري يا عزيزتي، هناك ديناصور خلف تلك البناية!". لم يلتفت الرجل حتى، بل أشار بيده لرجاله ليحيطوا بالثنائي. هانا، بذكائها الفطري، همست لكينجي: "كينجي، الديناصورات انقرضت منذ ملايين السنين، خطتك غبية كالعادة!". ثم التفتت للرجل وقالت بابتسامة صفراء: "بالطبع سيدي، نحن كنا في طريقنا لتوصيل الصندوق أصلاً، أليس كذلك يا خطيبي الوسيم؟".​دفعوهما إلى المقعد الخلفي للسيارة الفخمة. كان الصمت ثقيلاً، لولا صوت "زقزقة" تصدر من حذاء كينجي المبلل بالماء كلما تحرك
Read more
الجزء الثامن: "الافتتاح الكبير.. ومعركة التوابل الحارقة"
الجزء الثامن: "الافتتاح الكبير.. ومعركة التوابل الحارقة"بتمويل من السيد "أوياما" وتحت ضغوط ديونهما القديمة، وجد كينجي وهانا نفسهما يقفان أمام لافتة نيون ضخمة في قلب "شيبويا" مكتوب عليها: "رامن المحتالين: الطعم الذي لا يُقاوم". كانت الخطة تقتضي أن يرتدي كينجي زي الشيف التقليدي (رغم أنه لا يعرف الفرق بين الملح والسكر)، بينما تتولى هانا مهمة "الاستقبال" بباروكة وردية قصيرة وزي ياباني عصري لجذب السياح.​في صباح يوم الافتتاح، كان التوتر يملأ المكان. كينجي يقرأ الوصفات السرية من الرسائل القديمة وهو يحاول موازنة قدر ضخم من المرق، وهانا تتدرب على ابتسامتها "القاتلة" أمام المرآة. لكن المشكلة بدأت عندما دخلت "يوي"، وهي فتاة جميلة جداً وغنية كانت إحدى ضحايا كينجي السابقين الذين وعدهم بالزواج قبل أن يختفي.​"كينجي؟ هل هذا أنت؟" صرخت يوي وهي تنظر إليه بذهول وسط قدور البخار.تجمد كينجي في مكانه، وحاول إخفاء وجهه بملعقة خشبية كبيرة. "أنا؟ لا، أنا الشيف 'ساتوشي'، كينجي سافر إلى القطب الشمالي لبيع الثلج!".لكن هانا، التي كانت تراقب المشهد من خلف المنضدة، شعرت بنغزة غيرة لم تكن في الحسبان. "من هذه يا
Read more
الجزء التاسع: "أضواء، كاميرا... كارثة!"
إليكم الجزء التاسع من ملحمة "خداع القلوب: حرب الورد والشوكة"، حيث تنتقل المواجهة من زوايا المطعم الضيقة إلى أضواء الشاشات الكبرى، وفي جعبة بطلينا الكثير من "الخدع" والمفاجآت المضحكة.الجزء التاسع: "أضواء، كاميرا... كارثة!"​بعد النجاح الساحق الذي حققه رامن "الصدق الجريح"، لم يتأخر التحدي القادم. فقد طرقت باب المطعم منتجة برامج شهيرة لتعرض عليهما الدخول في برنامج "تحدي الشيف الأسطوري" الذي يُعرض على القناة الوطنية اليابانية. كانت الجائزة مليون ين، لكن الخسارة تعني إغلاق المطعم فوراً بتهمة "التلاعب بذوق الجمهور".​"كينجي، نحن لا نعرف كيف نقلي بيضة بشكل صحيح!" صرخت هانا وهي تنظر إلى العقد.رد كينجي وهو يرتدي مئزراً جديداً محاولاً تقمص شخصية العباقرة: "لا تقلقي يا هانا، الجمهور لا يريد طعاماً لذيذاً فقط، إنه يريد قصة! وأنا وأنتِ ملوك القصص المزيفة. سنبهرهم بالدراما، والطبخ سيكون ثانوياً".​في يوم التصوير، كان الأستوديو يعج بالكاميرات والجماهير. كان الخصم هو "الشيف تاناكا"، وهو رجل جاد جداً يقطع البصل وهو مغمض العينين. أما كينجي، فقد دخل الأستوديو وهو يرتدي نظارات شمسية ويسير بحركات بطيئة
Read more
الجزء العاشر: "مطاردة النينجا.. والهروب بعربة الرامن!"
الجزء العاشر: "مطاردة النينجا.. والهروب بعربة الرامن!"​لم يكد كينجي وهانا يستوعبان صدمة الرجل الغامض الذي ادعى أنه "الوريث الحقيقي" للوصفات، حتى وجدا أنفسهما محاصرين خلف استوديو التصوير. الرجل، الذي قدم نفسه باسم "هيروشي"، لم يكن وحيداً، بل كان محاطاً بمجموعة من الرجال الذين يرتدون بدلات سوداء غريبة تجعلهم يشبهون "نينجا العصر الحديث" لكن بلمسة من الفشل الكوميدي.​"اسمع يا هيروشي، أو مهما كان اسمك،" صاح كينجي وهو يحاول إخفاء الشيك الذهبي داخل حذائه، "الوصفات الآن ملك للشعب الياباني! نحن سفراء الرامن السعيد، ولا يمكنك خطف السعادة!".ردت هانا وهي تمسك بوعاء رامن ضخم (كدرع واقٍ): "وأيضاً، نحن لا نملك الأوراق الأصلية، لقد أكلتها القطة!".​لم يصدق هيروشي كذبة هانا الفاضحة، وأعطى إشارة لرجاله بالهجوم. في تلك اللحظة، وبدلاً من القتال، تعثر كينجي في سلك كهربائي ضخم، مما أدى لسقوط كشاف إضاءة كبير أحدث انفجاراً من الشرر. استغل "الثنائي المحتال" الدخان والارتباك، وقررا الهرب بأسرع وسيلة متاحة أمام باب الاستوديو: "عربة رامن خشبية متنقلة" كانت مخصصة للديكور!​قفز كينجي في مقعد القيادة (الذي كان عب
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status