Wajah pemuda itu tersembunyi rapat di balik tudung jubahnya. Menembus angin dingin dan salju yang menggigit, dia melangkah maju mendekati ketiga genius itu, selangkah demi selangkah, tanpa terburu-buru sedikit pun. Salju yang turun di sekitarnya seakan menyingkir dengan sendirinya, tidak ada satu butir pun yang berani menempel di jubah hitamnya. Di antara ketiganya, pemuda berambut biru yang berdiri di tengah tiba-tiba menggertakkan gigi, seolah baru saja mengambil sebuah keputusan besar setelah menimbang nyawa dan harga diri mereka. Dia berseru kepada pemuda berjubah hitam itu, "Suadara Dao, tolong berhenti!" Mendengar seruan itu, pemuda berjubah hitam benar-benar menghentikan langkahnya. Pemuda berambut biru pun menghela napas lega. Sepertinya masih tersisa secercah peluang untuk bernegosiasi. "Saudara Dao, tujuanmu hanya token giok ungu, bukan?" katanya hati-hati. "Kalau kami menyerahkan token kami dengan sukarela, apa kau bersedia membiarkan kami pergi dari sini?" "Kakak S
Read more