“Jenis kelaminnya laki-laki, Dok,” ucap bidan itu lembut, lalu menyerahkan bayi mungil yang masih merah kepada Sultan. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Sultan menerima putranya. Senyum lebar langsung terukir di wajahnya—campuran haru, lega, dan tak percaya. Tatapannya perlahan beralih pada Fairish yang terbaring lemah di atas ranjang, napasnya masih belum teratur, keringat dingin membasahi pelipisnya. “Anak kita laki-laki, Rish,” bisik Sultan, suaranya melembut. Fairish tersenyum tipis. Lelahnya begitu nyata, tapi ada kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan. “Adipati ….” gumamnya lirih. Sultan tertegun. Nama itu, nama yang dulu sempat ia simpan, andai Binar terlahir sebagai anak laki-laki. Matanya kembali menatap bayi di pelukannya, lalu pada istrinya. “Terima kasih,” ucapnya tulus, nyaris berbisik. Di luar ruang persalinan, suasana jauh lebih riuh. “Mama!” Binar terus mengetuk pintu, wajahnya dipenuhi kecemasan dan rasa tidak sabar. Ia sempat menangis saat mendengar je
Read more