“Kok adek cengeng banget sih, Ma, Pa?” keluh Binar saat kembali gagal mengajak bermain adik bayinya. Sejak pagi sampai malam, ia belum juga mendapat kesempatan karena Adipati terus menangis. Dan tak mau lepas dari gendongan sang ibu. Fairish tersenyum kecil mendengar keluhan putrinya. “Namanya juga bayi, sayang. Kamu dulu waktu kecil juga sama cengengnya kayak adek.” “Emang iya?” tanya Binar tak percaya. Mata bulatnya langsung beralih pada sang ayah. “Papa, Binar dulu cengeng juga?” Sultan mengangkat kedua alis, pura-pura berpikir keras. “Sama,” jawabnya akhirnya. “Kalau haus, nangis. Kalau gak digendong Papa atau Mama, nangis. Kalau gak dipeluk, nangis.” Binar langsung membulatkan mata. “Segitunya?” Sultan tertawa pelan lalu melirik putra kecilnya yang sedang menyusu dalam dekapan Fairish. “Sama persis kayak Adi sekarang. Dia nangis karena haus, bukan karena cengeng.” “Jadi bukan karena dia manja?” “Bukan, Nak.” Sultan kemudian bangkit dari duduknya, mengangkat Binar ke d
Baca selengkapnya