Suasana ruang rawat inap VIP terasa begitu sunyi. Hanya terdengar suara alat monitor jantung yang berdetak stabil, mengisi keheningan di dalam ruangan. Ratu masih terbaring lemah di atas brankar. Wajah kecilnya pucat, kepalanya diperban, begitu pula salah satu kakinya yang membuat dada siapa pun terasa nyeri saat melihatnya. Radja duduk di kursi samping brankar sejak tadi. Kemeja hitam yang dia kenakan tampak kusut karena semalaman tak berganti posisi terlalu banyak. Matanya merah. Bukan hanya karena tidak tidur, tapi juga karena terlalu lama menahan rasa takut dan bersalah. Tangan besarnya menggenggam tangan kecil putrinya erat, seolah takut kehilangan. “Kita sarapan dulu ya, Mas,” ucap Djiwa lirih sambil masuk membawa nampan makanan. Di belakangnya, Regan dan Naren ikut masuk dengan langkah pelan. Kedua bocah itu tampak murung sejak semalam. Radja menoleh sekilas pada sang istr
Read more