Elang menarik napas berat, menatap Julia dengan mata yang memancarkan kerapuhan seorang suami.“Selama tiga hari di rumah sakit, saya tidak pernah tinggalkan dia semenit pun. Dan selama itu juga... saya lihat dia lebih sering melamun, termenung, dan kelihatan sedih banget, Julia. Yang paling bikin hati saya hancur dan sakit... saya merasa istri saya tidak bahagia.”Julia membatu, mendengarkan dengan seksama.“Dia cuma bisa tertawa lepas saat momen-momen tertentu saja, seperti saat kita memberi nama untuk baby Kalisa kemarin,” lanjut Elang dengan nada putus asa. “Selebihnya, matanya kosong. Aku tahu istriku menyimpan sesuatu yang sangat berat, tapi apa itu? Apa kamu tahu sesuatu, Julia? Tolong... katakan pada saya.”Di balik celah pintu, Dinara memegang dadanya yang mendadak sesak luar biasa. Mendengar betapa hancur dan khawatirnya suara Elang, pria yang begitu mencintainya namun merasa gagal membahagiakannya, air mata Dinara mendadak menetes basah tanpa suara.Julia tertegun cukup lam
Magbasa pa