Cahaya matahari pagi yang cerah masuk melalui jendela kamar tidurku, namun suasana hatiku masih mendung sisa kejadian semalam.Perang terbuka dengan Luna sudah dimulai. Atau begitulah pikirku.Namun saat aku keluar kamar dengan kewaspadaan penuh, aku disambut oleh pemandangan yang membingungkan.Luna duduk di ruang makan, mengenakan casual dress cerah dan kacamata hitam di atas kepala. Wajahnya segar, senyumnya... ramah."Pagi, Al! Sini sarapan," sapanya riang, seolah dia tidak pernah menendang pintu ruang kerja ayahnya semalam.Aku berhenti, curiga. "Pagi, Lun."Arjuna sudah berangkat kerja lebih awal—mungkin untuk menghindari konfrontasi pagi. Jadi hanya ada kami berdua."Gue udah pesenin pancake kesukaan lo nih," Luna menyodorkan piring. "Duduk dong. Jangan kaku gitu."Aku duduk perlahan, menatapnya penuh selidik. "Lo... oke?"Luna menghela napas panjang, meletakkan garpunya. Wajahnya berubah menjadi ekspresi penyesalan yang terlihat tulus."Jujur, gue nggak oke, Al. Gue... gue sema
Terakhir Diperbarui : 2026-02-04 Baca selengkapnya