Mbah Rukmi bangkit dari kursi rotannya yang berderit menahan beban. Dengan punggung sedikit membungkuk dan langkah kaki yang diseret, wanita tua itu memimpin jalan menuju bagian paling belakang rumah joglo. Lorong yang mereka lewati terasa sangat sempit dan berbau lembap, mengingatkan Kukuh pada udara di dalam gua bawah tanah.Sesampainya di depan sebuah pintu kayu usang, Mbah Rukmi berhenti. Ia mendorong daun pintu itu hingga terbuka dengan suara decitan engsel yang menyayat telinga."Wes, deloken. Mlebuo... (Sudah, lihat sana. Masuklah...)" ucap Mbah Rukmi ketus kepada Pak Rio, Dokter Harsha, dan Kukuh, seraya menyingkir ke samping membiarkan mereka lewat."Permisi, Mbah," ucap Kukuh dengan nada sopan saat melintas. Namun, sapaan itu sama sekali tidak digubris. Wanita tua itu hanya membuang muka dengan tatapan meremehkan.Kukuh, Dokter Harsha, dan Pak Rio pun melangkah masuk.Di dalam kamar tersebut, cahaya hanya berasal dari sebuah lampu minyak (ublik) yang diletakkan di sudut ruan
閱讀更多