Malam itu, setelah membersihkan diri dan beristirahat sejenak di kamarnya, Kukuh melangkah menuju ruang utama Mansion Cokro untuk memenuhi panggilan sang ayah mertua.Suasana di ruang keluarga yang megah itu terasa dingin dan kaku. Di sana tampak Pak Adiwangsa sedang duduk bersandar di sofa kulit tunggal sambil membaca sebuah buku tebal. Di sofa seberangnya, duduk sang istri, Ibu Dian. Sementara itu, Eyang Putri nenek Ratih yang tak pernah menyukai Kukuh duduk diam di atas kursi rodanya dengan wajah masam."Selamat malam, Pak," sapa Kukuh dengan nada sopan namun datar. "Kata Pak Slamet, Anda mencari saya?"Adiwangsa menurunkan bukunya perlahan. Ia menatap Kukuh dari balik kacamata bacanya, lalu mengangguk kecil."Oh, iya, Kuh. Duduklah," perintah Adiwangsa dengan nada otoriter khas seorang bos besar.Kukuh mengambil tempat duduk di sofa kosong yang agak jauh, menjaga jarak dari tatapan sinis ibu mertuanya."Begini, Kuh," Adiwangsa langsung to the point. "Aku ingin kamu datang ke kanto
閱讀更多