"Apa gunanya bagiku jika kalian menghormatiku sebagai pemimpin?" Ryan berdiri membelakangi Aldwin, pandangannya tetap tertuju ke permukaan danau yang tenang. Nadanya datar, tanpa setitik pun ketertarikan. "Kau boleh pergi." Raut wajah Aldwin seketika berubah, kerutan di dahinya bertaut rapat. Tepat saat ia hendak membuka mulut untuk membujuk lagi, Tuan Budi sudah melangkah datang dari samping, mengulurkan tangan ke arah pintu dengan sopan. "Mari, lewat sini." Aldwin membuka mulut, namun tak ada satu kata pun yang berhasil keluar. Pada akhirnya, ia hanya bisa menghela napas panjang, lalu berbalik dan pergi dengan langkah berat yang sarat kekecewaan. Bayangan tubuhnya yang membungkuk perlahan menghilang di balik gerbang villa. Setelah Aldwin benar-benar pergi, Ryan mengeluarkan seluruh bahan yang telah dikumpulkan Tuan Budi dari dalam cincin penyimpanan. Berbagai tanaman spiritual, bijih, dan serpihan batu bertumpuk rapi di hadapannya. Ia menekuk jari, dan satu per satu bah
続きを読む