"Jangan pukul aku! Jangan!" Dario menjerit, tubuhnya meronta dalam ikatan, keringat dingin bercampur darah mengalir di sekujur wajahnya. Lalu, seakan teringat sesuatu, ia buru-buru berkata, "Aku ingat sekarang! Waktu pulang kemarin malam, hari sudah gelap. Pak tua itu tak mau menyalakan lampu." "Saat kunyalakan, dia malah bersembunyi di kamar yang gelap untuk berbicara denganku dan tak membiarkanku masuk." "Rumah itu berbau busuk, seperti daging yang membusuk." "Ju... juga, waktu kunaikkan pak tua ke mobil, kurasakan tubuhnya dingin sekali, seperti es loli..." Ryan mendesak, matanya menyipit tajam. "Lalu?" "Lalu..." Tepat saat Dario membuka mulut hendak melanjutkan, sekujur tubuhnya mendadak menyentak hebat seakan disengat aliran listrik. Bola matanya melotot keluar, dan tanda-tanda hitam pekat bermunculan di kulitnya dengan kecepatan yang kasat mata, menjalar dari dada ke seluruh tubuhnya. "Gawat!" Hati Ryan mencelos. Ia bergerak ke arah pemuda itu secepat kilat, tangannya
더 보기