Bella sedang berada di kamarnya, memasukkan pakaian dan beberapa dokumen penting ke dalam koper. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di ambang pintu. Beatrice muncul dengan gaun sutra yang sedikit kusut—sisa dari malam panjang yang penuh rahasi. Sambil bersandar di kusen pintu dengan tatapan sinis dan meremehkan, ia berceloteh. "Jadi," suara Beatrice memecah keheningan. "Setelah resmi menjadi janda, kau memutuskan untuk lari kembali ke kampung halaman?" Bella menghentikan gerakannya. Ia tidak menoleh, akan tetapi bahunya menegang. Setiap kata yang diucapkan kakaknya, Beatrice terasa seperti duri. Dengan perlahan, Bella menutup risleting tasnya dan berbalik dengan tatapan mata yang tenang. "Juna masih hidup, Kak," jawab Bella dengan yakin. Beatrice tertawa pendek, suara tawa yang terdengar sangat kering. "Oh, berhentilah berfantasi, Bella. Mobil itu meledak. Hanya abu yang tersisa." "Kepolisian dan forensik tidak menemukan jasadnya," potong Bella, penuh penekanan. "Tid
Baca selengkapnya