Maya POV["Sekarang katakan padaku, apa maumu?"] tanyaku dengan nada setenang mungkin.Terdengar helaan napas di seberang sana.["Aku ingin kamu besok ikut sama aku."]Aku mengernyit.["Untuk apa?"]["Aku mau bicara sama kamu."]["Maaf, aku harus jualan."]["Besok kamu harus libur."]["Maaf, aku nggak bisa."]["Aku tidak menerima penolakan."]Kalimatnya terdengar datar.Tegas.Seolah semua keputusan memang harus mengikuti keinginannya.Aku mulai kehilangan kesabaran.["Kamu nggak bisa seenaknya mengatur hidup orang lain."]["Besok aku akan jemput kamu."]["Sudah aku bilang aku nggak bisa."]["Sudah aku katakan aku nggak menerima penolakan."]Aku menggenggam ponsel semakin erat.["Hans—"]Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, sambungan telepon itu sudah terputus."Tut... tut... tut...."Aku menatap layar ponsel dengan kesal."Dia masih saja nggak berubah," gumamku menahan kesal.Hans tetap sama seperti dulu, sosok yang pernah menguasai seluruh diriku. Hingga aku pernah bisa begitu
Read More