Leo menyandarkan punggungnya ke kursi kulit kerjanya. Pria itu sama sekali tidak menyentuh map merah tebal di atas mejanya."Kau bergerak lebih lambat dari dugaanku, Nona Direktur," tanggap Leo melipat kedua tangannya di atas meja."Bramantyo sudah berada di sel isolasi dari jam delapan pagi."Gisel meletakkan kedua telapak tangannya di tepi meja Leo. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengekspos belahan dada di balik kemeja putihnya."Jangan samakan aku dengan konglomerat tua bodoh itu!" ancam Gisel menatap tajam mata Leo. "Aku memegang kendali atas setiap sen yang masuk dan keluar dari wilayah provinsi ini."Sonya melangkah maju dari sudut ruangan. Tangan kanannya merogoh saku jaket mencari pisau lipatnya."Perlu aku patahkan rahangnya, Tuan?" tawar Sonya menatap dingin wanita berpakaian mahal tersebut.Leo mengangkat tangan kirinya memberi isyarat berhenti."Mundur, Sonya," perintah Leo tanpa mengalihkan pandangannya dari Gisel. "Kita tidak memukul tamu yang datang menagih pajak."
Read more