Jari tangan Nida mencengkeram erat pinggiran meja nakas. Buku jarinya memutih menahan emosi."Tiga ribu rupiah tidak akan cukup untuk menutupi biaya makan kami," tolak Nida menatap tajam pria paruh baya itu. "Apalagi untuk membayar tagihan obat-obatan suamiku."Karta mengangkat bahunya acuh tak acuh. Ia menutup buku catatan hitamnya dengan satu bantingan pelan."Itu harga standar untuk gabah berpenyakit, Nida.""Ambil uang tunai ini sekarang, atau kau membiarkan gabahmu membusuk di lumbung reyotmu," ancam sang tengkulak beras.Jaya mencoba bangkit dari bantalnya. Wajah pria itu memucat menahan nyeri dari kaki kirinya."Kami akan mencari pembeli lain, Pak Karta. Silakan keluar dari ruangan ini," usir Jaya dengan suara parau."Silakan saja mencari pembeli lain.""Tapi ingat, semua truk ekspedisi di kecamatan ini berada di bawah kendaliku," cibir Karta berbalik menuju pintu.Tengkulak tua itu memutar knop pintu."Tidak ada satu pun sopir yang berani mengangkut gabah kalian keluar dari pe
Read more