Ujung kuku jari Nida berubah membiru kusam.Wanita itu merosot pelan hingga lututnya membentur lantai keramik ruang arsip."Suhu tubuhmu sudah berada di angka tiga puluh empat derajat Celsius," observasi Leo menatap jam di pergelangan tangannya. "Sistem saraf pusatmu akan segera mati."Nida memeluk kedua lututnya dengan sisa tenaga yang ada. Gigi wanita itu beradu menghasilkan bunyi gemeretak yang konstan."Tolong aku," bisik Nida dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar.Leo tidak memajukan langkah kakinya sedikit pun."Aku sudah pernah memberitahumu syaratnya di ruang istirahat waktu itu," tolak Leo melipat kedua tangannya di dada."Aku tidak menerima penyerahan seonggok daging kosong yang terpaksa karena keadaan."Ingatan malam itu kembali menghantam kepala Nida. Pria ini menuntut penyerahan mutlak yang didorong oleh gairah biologis, bukan paksaan utang atau ancaman kematian."Kang Jaya tidak ada di sini," racau Nida meneteskan air mata yang langsung terasa dingin di pipinya.
Read more