Share

Rutinitas Panas

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-06-18 16:28:25

Tetesan keringat mengalir menuruni pelipis Nida.

Wanita itu mengatur ritme napasnya yang memburu. Ujung kuku jemarinya mencengkeram erat sandaran kursi kulit hitam di ruang kerja VIP.

Blus pudar yang biasa ia kenakan kini tergeletak sembarangan di atas lantai keramik, berdampingan dengan jas putih sang dokter.

Leo duduk tegak di kursinya. Pria itu mengendalikan ritme pergerakan secara konstan tanpa mengubah ekspresi wajah datar khasnya.

Nida melengkungkan punggungnya ke belakang. Dia menerima h
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Titik Buta Sang Penjaga

    Seragam hijau Nida merosot jatuh ke atas lantai ubin yang basah oleh uap autoklaf.Permukaan kulit punggungnya terekspos langsung menyentuh rak stainless steel yang dingin.Nida menggigit telapak tangannya sendiri menahan suara guncangan dadanya."Katakan pada pasien, itu darah kambing dari pasar," perintah Leo dengan suara bariton menembus pelat pintu besi."Baik, Dokter Leo. Saya akan urus kekacauan di depan," balas Ayu terdengar menjauh.Langkah sepatu pantofel bidan itu memudar tertelan keributan ruang tunggu.Leo menatap bahu Nida yang bergetar pelan.Tangannya merapikan kembali pakaian dalam wanita itu dengan gerakan efisien."Pakai kembali seragammu," instruksi Leo menarik resleting punggung Nida ke atas."Tetap di ruangan ini sampai aku kembali membawa suamimu."Nida mengangguk cepat sambil mengancingkan kerah seragamnya dengan jemari gemetar."Jangan lakukan hal bodoh yang membahayakan nyawanya, Dokter," bisik Nida tertahan."Aku tidak pernah bertaruh untuk hal yang tidak pas

  • Rayuan Desa Wanita   Paket dari Bos Tambang

    Lampu neon di sepanjang lorong Puskesmas Elite berkedip menyala secara otomatis.Cahaya putihnya menyorot halaman depan aspal yang mulai digelayuti kegelapan malam.Sebuah mobil pikap kabin tunggal tanpa plat nomor melaju kencang menerobos gerbang besi yang terbuka.Mesin kendaraan bertenaga besar itu menderu kasar memecah rutinitas petang warga desa.Kaca samping sisi penumpang terbuka setengah menampilkan siluet tangan bertato.Sebuah benda bulat terbungkus karung goni kotor terlempar dari dalam kabin mobil.Benda itu menghantam lantai keramik teras dengan suara debum yang berat.Pikap tersebut langsung memutar kemudi secara paksa menuju jalan keluar.Ban karet kasarnya berdecit bergesekan dengan aspal meninggalkan jejak hitam pekat sebelum menghilang ke arah jalan provinsi.Mobil dobel kabin hitam milik Leo mengerem tajam tepat di belakang jejak ban yang tertinggal.Leo menendang pintu kemudi hingga terbuka dan melangkah turun.Sepatu pantofelnya menapak lantai teras mendekati karu

  • Rayuan Desa Wanita   Forensik di Dasar Jurang

    Pita kuning garis polisi membentang membelah aspal jalan provinsi yang berdebu.Sepatu pantofel Leo menginjak rerumputan basah di tepi tebing curam.Matanya menatap lurus ke dasar jurang sedalam tiga puluh meter di bawahnya."Ruang kemudi hancur total tergencet batang pohon pinus," lapor Kepala Polisi Perbatasan berdiri di samping Leo.Pria berseragam cokelat itu menunjuk bangkai truk boks berlogo logistik herbal desa yang ringsek."Kami menduga pengemudimu kehilangan kendali akibat rem blong."Leo menyalakan senter taktis dari saku celana kargonya.Sorot lampu menembus kegelapan dasar tebing yang tertutup bayangan rimbun pepohonan."Di mana jasad pengemudiku?" tanya Leo datar."Arus sungai di bawah sana sangat deras," jelas sang polisi."Anggota kami meyakini tubuh Jaya terlempar dari kaca dan terseret arus."Leo mematikan senternya dan menyarungkan kembali benda itu."Kesimpulan yang cacat logika," tanggap Leo melangkah melewati pita kuning."Tunggu, Dokter Leo!" cegah polisi itu me

  • Rayuan Desa Wanita   Pengabdian Sang Bunga Desa

    Ujung jari Nida menekan kain celana bahan milik Leo.Leo mencengkeram kedua pergelangan tangan Nida.Dia menghentikan pergerakan tangan wanita itu tanpa menggunakan tenaga berlebih."Kau melakukan ini karena putus asa," ucap Leo datar, memandang lurus ke mata wanita di depannya."Aku tidak menerima penyerahan diri dari wanita yang mencari pelarian sementara."Nida menggeleng cepat.Rambut hitam panjangnya tergerai menutupi sebagian bahunya."Saya sadar di mana tempat saya seharusnya," bantah Nida dengan suara bergetar namun tegas."Bang Jaya pergi pagi tadi untuk rute seminggu ke depan."Nida menatap mata Leo tanpa berkedip."Saya tersenyum mengantarnya ke truk, tapi hati saya benar-benar kosong."Leo melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Nida.Nida berdiri tegak di depan kursi Leo.Tangan kirinya menarik kemeja dinasnya hingga terlepas dari bahu.Pakaian seragam itu jatuh menumpuk di lantai ubin puskesmas.Pakaian dalam katun putih kini menjadi satu-satunya pembatas."Tun

  • Rayuan Desa Wanita   Skakmat Sang Juragan Tambak

    Ujung laras pistol rakitan itu berjarak kurang dari satu meter dari dada Leo.Jari telunjuk Bardi bertengger di pelatuk besi yang berkarat.Warga desa menjerit ketakutan dan mundur serentak.Lilis menahan napas di belakang punggung Leo, mencengkeram erat ujung kemejanya."Mundur atau peluru ini menembus jantungmu!" ancam Bardi serak.Napas juragan tambak itu memburu cepat, dadanya naik turun.Leo tidak mengubah posisi berdirinya.Matanya menatap lurus ke laras baja tersebut."Tarik pelatuk itu jika lenganmu tidak bergetar," tantang Leo datar.Bardi menggeram marah mendengar tantangan itu.Dia menghirup udara dari mulutnya dalam-dalam.Tarikan napas kasar itu membawa petaka.Serbuk putih pestisida di kerah baju kargonya ikut terhirup masuk.Mata Bardi membelalak lebar.Pria besar itu terbatuk keras menyemburkan cairan ludahnya.Pistol rakitan di tangannya jatuh membentur paving block.Bardi jatuh berlutut sambil mencengkeram lehernya sendiri."Uhuk! Tolong!" rintih Bardi dengan wajah m

  • Rayuan Desa Wanita   Pengkhianatan di Atas Kertas

    "Aku tidak bisa melakukan itu, Dokter," tolak Lilis melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding kayu."Bardi memiliki banyak anak buah di seluruh desa. Suamiku akan menguliti tubuhku hidup-hidup di depan warga jika aku berkhianat."Leo berhenti di ambang pintu gubuk.Dia menoleh menatap Lilis dengan sorot mata datar."Kau sudah berkhianat sejak menyerahkan buku itu ke tanganku."Lilis menelan ludahnya yang terasa kering."Aku bisa menghancurkan kerajaan suamimu dalam hitungan jam," ucap Leo mengancingkan kembali kerah kemejanya."Pilihanmu hanya dua. Tetap menjadi samsak hidup Bardi, atau menjadi informanku dengan jaminan perlindungan mutlak."Lilis menatap ujung sepatunya sendiri.Sensasi sentuhan Leo di bawah dipan tadi masih berbekas jelas di sekujur sarafnya.Logika dan ketakutannya pada Bardi kalah telak oleh dominasi sang dokter."Aku bersaksi siang ini," putus Lilis mengangkat wajahnya. "Pastikan nyawaku aman, Dokter Leo."Leo mengangguk sekali tanpa memberikan janji v

  • Rayuan Desa Wanita   Laras Mandul

    Sepatu pantofel Leo menapaki teras keramik rumah dinas Koperasi Unit Desa.Jam dinding di dalam ruangan lobi kecamatan baru saja menunjuk angka dua siang.Bowo sedang memimpin rapat tertutup penyaluran pupuk di kantor camat. Pria paruh baya itu tidak akan kembali ke rumah dalam waktu tiga jam ke de

  • Rayuan Desa Wanita   Janda Muda KUD

    Tarjo memegang pipi kirinya yang memerah. Pria paruh baya itu menatap Kinasih dengan rahang menganga.Puluhan pemuda Desa Seberang menundukkan pandangan. Mereka menjatuhkan celurit ke aspal melihat kepala desa mereka dipermalukan istrinya sendiri."Kau urus surat cerai kita hari ini," putus Kinasih

  • Rayuan Desa Wanita   Sengketa Batas Wilayah Mata Air

    Serpihan selongsong peluru emas jatuh berserakan di lantai keramik.Leo menyapu sisa logam itu dengan sepatu pantofelnya. Ia menyerahkan kotak kayu kosong tersebut pada Sekar yang berdiri kaku di ambang pintu."Perketat penjagaan di area pemandian VIP mulai malam ini," instruksi Leo berjalan menuju

  • Rayuan Desa Wanita   Oksigen Terbatas

    Bilah pintu baja menabrak kusen logam menghasilkan dentuman keras yang merobek telinga.Bunyi selot hidrolik bergeser menutup rapat dari berbagai sisi kusen.Ruang brankas itu kini tersegel, memisahkan mereka berdua dari dunia luar.Suara putaran baling-baling kipas ventilasi di langit-langit menda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status