Arka berbalik cepat, merogoh ponselnya dari saku celana. Dalam hitungan detik, ekspresinya berubah menjadi dingin dan mematikan. Kehangatan pria yang tadi memeluk Naura lenyap tanpa bekas. Ia melangkah menuju sisi belakang kabin yang lebih sepi, menjauh dari jangkauan pendengaran wanita itu.Sementara itu, Naura menyandarkan tubuhnya ke dinding kabin. Seluruh tenaganya seolah luruh. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara laut malam memenuhi paru-parunya demi meredakan debar jantung yang masih mengamuk. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia merapikan gaunnya yang sempat berantakan akibat ulah Arka.Perlahan, ujung jarinya terangkat menyentuh bibir yang masih terasa panas, basah, dan berdenyut. Dadanya kembali bergemuruh, membuatnya tanpa sadar tersenyum tipis. Namun, senyum itu hanya bertahan sesaat sebelum ia buru-buru menggelengkan kepala."Tidak, tidak! Apa yang kamu pikirkan, Naura?! Pria itu monster! Jangan gila deh!" umpatnya pada diri sendiri, berusaha membangun kembali tem
Baca selengkapnya