“Shanum...” Tanpa melihat layar ponselnya, Prana segera memutuskan panggilan telepon itu cepat, dan memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku jaket. Detik berikutnya, senyum kembali terkembang sempurna di wajahnya, menghapus kesan dingin yang sempat melintas.“Udah siap?” tanya Prana lembut.Shanum buru-buru mengatur ekspresi wajahnya senormal mungkin. Ia mematikan gejolak rasa penasaran, tak ingin Prana tahu kalau ia sempat menguping pembicaraan telepon di teras tadi.“Udah. Ayo berangkat sebelum siang,” jawab Shanum.Begitu masuk ke dalam mobil, Prana langsung meluncurkan mobilnya dengan mulus, membelah jalanan pagi ibu kota. Untuk beberapa saat, keduanya terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.Tapi potongan kalimat yang sempat didengar Shanum di teras tadi terus berputar-putar di kepalanya. Rasa penasaran itu mendesak, menuntut untuk segera dikeluarkan. Shanum akhirnya menoleh ke samping, menatap Prana yang tampak fokus memperhatikan arus lalu lintas.“Mas,” panggil
Read more