Share

Bab 132

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-05-24 12:41:59

Layar ponsel di tangan Prana masih menyala, Mama-nya terus memanggil. Prana berdehem sebentar, lalu menggeser tombol hijau. Ia menempelkan benda pipih itu ke telinganya sembari memberikan isyarat lewat tatapan mata agar Shanum tetap tenang.

“Halo, Ma,” sapa Prana, mencoba menjaga nada bicaranya setenang mungkin.

Shanum menahan napas, matanya tak lepas dari ekspresi wajah Prana. Jarak yang dekat membuat suara dari seberang telepon samar-samar tertangkap oleh indera pendengarannya.

“kamu di mana
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Iin Rahayu
adooh siapa lg yg ngikuti Prana dan Shanum, tambah kemana² ini nanti
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
aduh, jngan gitu dong kk thor. biarkan mrk bahagia ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 247

    “Kamu gak apa-apa kan?” tanya Kalid, suaranya melunak, tak lagi sedingin saat menghadapi Kartika dan anak-anaknya tadi. “Ada yang terluka?”Kedua lutut Shanum langsung kehilangan tenaga. Ia nyaris jatuh jika tak cepat bersandar pada dinding. Wajahnya mendongak pelan, menangkap kedua mata Kalid yang begitu khawatir.Belum sempat ia menjawab, tiga petugas keamanan berseragam lengkap tiba di depan unit mereka dengan napas terengah-engah.Komandan sekuriti yang memimpin di depan mendekat, bertanya dengan nada siaga, “Selamat sore, dokter. Mana orang yang harus kami amankan?”Raut wajah Kalid seketika berubah santai, seakan ketegangan beberapa menit lalu tak pernah terjadi. Ia melirik ke arah lorong lift barang tempat Kartika, Putri, dan Mega melarikan diri, menatap sang komandan dengan senyum tipis.“Itu, orang-orang yang berpapasan sama Bapak pas keluar dari lift tadi,” jawab Kalid santai sambil menunjuk arah lorong. “Mereka baru lari pakai lift barang. Tolong pastikan mereka keluar dari

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 246

    “Lepaskan,” ucap pria itu datar penuh otoritas yang menekan.“Dokter Kalid,” bisik Shanum sangat pelan.Kalid menarik tangan Shanum dengan satu gerakan lembut namun tegas, membawa wanita itu mundur dan menyembunyikannya di belakang punggung tegapnya. Memosisikan tubuh besarnya sebagai tameng, memutus segala akses fisik maupun visual dari tiga wanita di hadapan mereka.“Siapa kamu?!” teriak Kartika, suaranya melengking sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah langsung mendongak, matanya melotot tajam. “Jangan ikut campur ya! Dia ini menantu saya!”Kalid tak menjawab. Wajahnya sekaku es, datar tanpa ekspresi, seolah teriakan Kartika hanyalah angin lalu yang tak berarti. Sikap diamnya penuh intimidasi itu justru membuat suasana koridor terasa semakin mencekam.Merasa diabaikan, Kartika menoleh cepat ke arah Mega yang masih memegang ponsel menyorot wajah Kalid. “Mega, Lihat dia! Apa dia pria yang kamu lihat di restoran sama Shanum?”Mega menurunkan ponselnya sedikit, menyipitk

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 245

    “Mama...”Di hadapannya berdiri Kartika—ibu Fadil—dengan wajah merah padam menahan amarah. Di belakang wanita itu, Putri dan Mega mengekor dengan sorot penuh kebencian. Tanpa menunggu izin, Kartika langsung mendorong tubuh Shanum hingga terhuyung mundur.“Ma... jangan masuk sembarangan!” seru Shanum, mencoba menahan pintu.Kartika tak memedulikan larangan itu. Ia menerobos masuk ke dalam apartemen, disusul oleh Putri, sementara Mega langsung merekam segala penjuru ruangan dengan ponselnya. Mata Kartika menyapu ruang tamu, dapur bersih, hingga koridor menuju kamar.Langkah wanita paruh baya itu mendadak terhenti di dekat rak sepatu kayu di samping konter dapur. Matanya tertuju pada beberapa sepatu pria yang tersusun rapi di sana. Ukurannya jelas bukan milik Shanum.“Ternyata benar banding yang diajukan Fadil,” hardik Kartika sambil menunjuk rak itu dengan telunjuk kasar. “Anak saya ternyata benar, kamu wanita gak tahu malu!”Putri berdecak jijik sambil menyilangkan kedua tangan di depa

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 244

    Tiga pria berjas sudah berdiri di depan pintu kaca klinik ketika mobil Prana memasuki area parkir. Mereka tak bergerak sedikit pun, memang datang untuk menunggu dirinya.Berbarengan Prana turun dari mobil, sebuah mobil SUV berhenti tepat di belakang mobilnya. Pintu kemudinya terbuka, menampilkan Hendra yang turun dengan tas kerja di tangannya. Pengacara itu rupanya langsung memacu kendaraan begitu menerima pesan darurat dari Prana.Hendra berjalan cepat menyusul langkah Prana.“Mereka kaya debt collector di film yakuza, ya?” selorohnya begitu ia berdiri di sisi Prana.Prana mendengus, mencoba menahan tawa gelinya. “Tepat waktu sekali.”“Tentu. Shanum klien special, dia sudah bayar dimuka,” jawab Hendra tetap bercanda, dan mendapat delikan Prana.“Santai, Bro. Kita bakal pukul mundur mereka hari ini.” Hendra menyamakan langkah kaki mereka. “Firma Andreas memang selalu bergerak agresif.”Prana seketika berdecih melihat kepercayaan diri Hendra.“Biar aku yang bicara di depan. Tenang saja

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 243

    “...silakan habiskan waktumu bersama Shanum, sebelum aku membawanya kembali.”Prana membaca ulang pesan itu sampai dua kali. Rahangnya mengeras seketika. Nomor yang tertera di layar memang tak dikenal, tetapi Prana tahu betul siapa bajingan di balik kalimat tersebut. Fadil, atau seseorang yang kini sedang bekerja untuk pria itu di luar penjara.Ibu jari Prana segera menekan tombol panggil di layar. Namun, belum sempat nada dering pertama berbunyi, panggilan itu langsung terputus. Operator menyatakan nomor tersebut sudah tak aktif.“Pengecut,” desis Prana rendah.Ia menurunkan ponselnya, lalu menoleh ke samping. Shanum masih terlelap. Napas wanita itu berembus teratur, dan gurat wajahnya terlihat jauh lebih damai dibanding beberapa hari terakhir. Mendekat sambil mengulurkan tangan, Prana mengusap pelan beberapa helai rambut yang menutupi kening Shanum.“Jangan khawatirkan apa pun, Num,” bisik Prana pelan. “Aku janji... gak akan ada seorang pun yang bisa menyakitimu lagi.”Pelan-pelan i

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 242

    Kepala Prana bergerak naik, meninggalkan area paha dalam Shanum yang masih menyisakan jejak basah. Pria itu berdiri tegak di antara kedua kaki Shanum, menatap lurus ke matanya yang sayu.“Siap untuk sajian utama, sayang?” bisik Prana. Tangan kanannya bergerak ke pinggang, melepas kaitan celana panjangnya sendiri dengan satu gerakan mantap.Shanum terengah-engah, tubuhnya terkulai lemas di atas meja bar kayu setelah pelepasan intens yang baru saja menghentak seluruh sarafnya. Napasnya naik turun tak beraturan, sementara dadanya naik turun dengan cepat.Tanpa aba-aba Prana menyusupkan kedua lengan kekarnya ke bawah ketiak dan lipatan lututnya. Dengan satu sentakan kuat, Prana mengangkat tubuh polos Shanum ke dalam gendongan. Shanum memekik pelan, refleks mengalungkan kedua lengannya ke leher kokoh Prana, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di sana.“Kemana, Mas?”“Tempat yang lebih nyaman.”Prana melangkah lebar keluar dari area dapur, melewati ruang tengah, menuju kamar tidur utam

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 204

    “Bukannya tadi kubilang jangan datang?” ucap Prana datar penuh peringatan.Kalid menatap Prana beberapa detik tanpa menghapus ekspresi tenangnya. Meski sorot matanya jelas menangkap ketaksukaan yang menguar kuat dari wajah dokter kandungan itu.“Hanya menjenguk sebagai teman,” ucap Kalid, nada bica

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 201

    “Kamu ini dokter di rumah sakit ini! Kamu malah cium Shanum di ruang rawat,” bisik Hendra menggerutu kesal dengan suara serendah mungkin. “Disini siapa pun bisa masuk!”Sahabat Prana itu terlihat gusar. Jantungnya masih berdegup kencang karena syok. “Kondisi Shanum masih belum pulih. Mukanya aja ma

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 200

    “Kenapa aku harus hamil sekarang…?”Meskipun terdengar lirih, penyesalan yang mendalam begitu kentara dari nada bicara Shanum. Prana seketika membeku. Ia menatap wajah wanita itu yang kian basah. Dadanya terasa seperti diremas kuat.Bukan binar kebahagiaan yang didapatkan Shanum setelah mendengar k

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 197

    Begitu mendapat telepon dari Hendra bahwa Fadil sudah ditangkap, Prana langsung menyusul ke kantor polisi tepat setelah menyelesaikan praktik sorenya di klinik. Matanya mengedar liar, menatap setiap ruangan bersekat mencari sosok yang ingin sekali ia hajar habis-habisan.“Mana bajingan itu?!” tanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status