“M-Mbak Num…” Mbok Yah terlonjak pelan, buru-buru bangkit melangkah mendekat, mengabaikan pecahan keramik yang berserakan di dekat kaki majikannya, menatap wajah Shanum yang pias. “Hati-hati Mbak, nanti keinjek pecahannya—”“Dari kapan, Mbok?” potong Shanum. Suaranya bergetar hebat, nyaris tenggelam dalam keheningan ruang tamu.Tatapannya kosong, terpaku pada jemarinya yang mendadak terasa kaku saat menggenggam ponsel jadul milik asisten rumah tangganya itu. Ternyata orang terdekat di rumah ini sudah memegang rahasia terbesarnya selama berbulan-bulan.Prana menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai keadaan. Dia melangkah maju, memposisikan dirinya di antara Shanum dan Mbok Yah, lalu mengambil alih ponsel dari tangan Shanum sebelum benda itu ikut merosot jatuh ke lantai.“Num, tenang dulu,” ucap Prana lembut namun tegas, mencoba menyalurkan ketenangan yang saat ini justru sangat rapuh di dalam dirinya sendiri.Mbok Yah mengangguk dan langsung meraih jemari dingin Shanum yang sudah
Read more