“Topan, gimana kalau Shanum sampai mati, terus orang-orang sampai tahu soal ini?” tanya Kartika—mertua Shanum—takut nama baiknya tercoreng.Tanpa menjawab ucapan ibunya, Topan berjalan mendekati tubuh Shanum. Berjongkok di sampingnya. Tanpa menyentuh tubuh Shanum yang berlumuran darah, Topan hanya mendekatkan dua jarinya di depan lubang hidung Shanum untuk memeriksa hembusan napasnya.Setelah memastikan kalau Shanum masih bernapas meski sangat lemah, Topan berdiri kembali. Dia melangkah mendekati Mbok Yah yang masih terduduk lemas di lantai sambil terisak. Topan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu kredit, melemparkannya begitu saja ke hadapan wanita tua itu.“Urus dia. Bawa ke rumah sakit sekarang juga,” kata Topan ketus, tanpa mau ambil pusing lebih jauh. “Lakukan diam-diam. Kalau dia mati di rumah ini, urusannya bakal panjang.”Setelah menyelesaikan kalimatnya, Topan berbalik acuh dan berjalan menghampiri istrinya. Dia menarik lengan Putri yang sejak tadi berdiri mematung
Baca selengkapnya