“Udah tahu, hubungan kalian bertiga itu sudah rumit, sekarang kamu malah bikin lebih kacau,” cecar Hendra, menatap Prana dengan dahi berkerut dalam.“Sebenarnya ada yang bikin aku lebih penasaran.” Dia melangkah satu langkah lebih dekat, merendahkan suaranya sampai batas maksimal. “Kamu yakin dia anak kamu, bukan milik Fadil?”Kalimat itu bagai pemantik yang menyambar api di dalam dada Prana. Rasa bersalah yang tadi sempat menahannya runtuh seketika, digantikan oleh gelombang amarah yang langsung naik ke kepala.Tangan kanannya bergerak maju secepat kilat, mencengkeram kerah kemeja Hendra dengan sangat kuat hingga tubuh pengacara itu ketarik maju.“Jaga mulutmu, Hendra!” desis Prana, napasnya memburu cepat tepat di depan wajah Hendra. “Jangan pernah kamu meragukan anakku! Sekali lagi kamu bicara seperti itu, aku gak akan segan-segan menghancurkan wajahmu!”Prana mengangkat tangan kirinya, mengepal keras, siap melayangkan pukulan telak ke wajah sahabatnya sendiri. Matanya merah, menata
Baca selengkapnya