Agus teguk kopinya sampai habis dan sisa ampas. Dia menatap layar laptop yang menampilkan data perusahaan fiktif milik Karta. Cak Kumis mondar-mandir di belakangnya, wajahnya sudah kayak cucian kotor yang belum dibilas."Gus, eh, Bos, yakin nih kita mainnya begini? Kalau Karta tahu, kita bisa jadi tumbal proyek," ucap Cak Kumis yang panik.Agus tertawa sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Cak, Karta itu semakin dia ngerasa kenyang dan tenang sama suap, semakin gampang juga kita bikin dia mampus.""Iya, tapi suapnya gila-gilaan, Bos. Oknum komite udah di kantong dia semua," timpal Cak Kumis sambil garuk-garuk kepala plontosnya."Ya, bagus lah, Cak," sahut Agus dengan santai. "Nah mending sekarang kita siapin skrip buat hacker kita. Masukin bukti suap itu ke sistem internal si Karta. Gue mau dia yang presentasiin aibnya sendiri besok. Gimana tuh?"Cak Kumis jadi nyengir lebar, giginya kelihatan semua."Gila, sejak jadi Bos. Agus jadi jelmaan iblis beneran. Berarti kita tinggal duduk
Baca selengkapnya