Agus berdiri tegak dengan tangan di saku celana, menatap Karta yang gemetar ketakutan di depannya. Auranya dingin, mendominasi, seperti predator yang siap menerkam mangsa lemah."Gimana, Karta?" ucap Agus tenang tapi menusuk. "Anak buah sendiri enggak becus, rencana busuk buyar, masih mau sok berkuasa? Status lu sekarang kan udah bangkrut total. Duit enggak ada, kekuasaan ilang. Pake apa lu mau belagu?"Mendengar itu, Yanto, Momon, dan Ndower di belakang Karta langsung saling lirik. Mereka berbisik-bisik pelan, menyadari kenyataan pahit bahwa dompet Karta memang sudah lama kering bolong."Bener juga ya," bisik Momon nyengir. "Udah jatoh, galak pula."Agus melirik Yanto dan Momon, lalu melempar senyum licik. "Daripada kalian buang tenaga nurutin bos bangkrut yang hobi ngamuk, mending pindah kubu ikut saya. Gaji jelas, kerjaan santai, perut kenyang."Tanpa pikir panjang, Yanto dan Momon langsung maju selangkah. "Wah, tawaran menarik nih, Bos! Siap kami pindah haluan!" seru Yanto seman
Read more