“Apa maksud kamu?”Figo diam sejenak, rahangnya mengeras. “Semua yang terjadi lima belas tahun lalu… bukan kesalahanmu.”Sora seketika menahan napas.“Isi flashdisk yang bocor itu, fitnah yang menimpa kamu dan semuanya–” Kepalan tangan Figo bergetar. “Semuanya kebohongan Ivara. Dia yang menyebabkan semua masalah itu terjadi.” Figo kembali menunduk, menggeleng pelan. “Bukan kamu,” lirihnya dengan suara bergetar.“Apa?”“Dan orang bodohnya adalah aku.” Figo tertawa lirih, tawa yang penuh kepahitan.Sora terdiam. Angin musim dingin berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambutnya.Hati Sora mencelos.Sora sempat berpikir, jika kebenaran tentang masa lalu terungkap, dia akan merasa lega karena akhirnya Figo tahu bahwa dirinya tidak bersalah.Namun ternyata Sora salah. Hatinya kini justru terasa semakin sakit, seperti dicabik-cabik hingga berdarah-darah.“Aku bodoh, Sora.” Figo menunduk semakin dalam, bahunya mulai berguncang. “Aku benar-benar bodoh karena nggak pernah mempercayaimu.
Read more