“Cukup.”Suara Aru tidak keras, tidak tinggi, Namun seluruh ruangan langsung terdiam. Monitor jantung masih berdetak pelan di samping ranjang Bisma.Hujan masih turun di balik jendela, Tetapi bagi Aru, semuanya terdengar jauh, dan terasa kabur.Seolah ia sudah terlalu lelah untuk memproses satu rahasia lagi.“Sudah cukup.”Perempuan itu perlahan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Bisma.Gerakan sederhana. Namun entah kenapa membuat dada laki-laki itu terasa sesak.Aru berdiri, Lalu mengusap wajahnya pelan. Seolah sedang berusaha mengumpulkan sisa tenaga yang masih dimilikinya. Karena beberapa hari terakhir hidupnya berubah menjadi rangkaian kejutan yang tidak pernah selesai.Ayahnya hidup, Reyhan hampir mati, Bisma tertembak, dan bahunya semakin parah, Rumah sakit diserang, Foto-foto misterius, Flashdisk, Safe house, Dan sekarang...Kebenaran tentang Bisma, Atau setidaknya sebagian kecil darinya.“Aru...”Suara Bisma terdengar pelan, Namun perempuan itu menggeleng, tidak marah
Read more