Pagi itu langit mendung, menimbulkan suasana kelabu yang pas dengan ketegangan yang menggelayut di hati Aru. Ia tiba di kafe tua yang sepi, ditemani Fara, sementara Bisma menunggu di luar, cukup dekat untuk mengawasi tapi tidak mengganggu.Begitu masuk, matanya langsung menangkap sosok Reyhan yang sudah duduk menunggu. Wajahnya datar, tatapannya tajam dan menyelidik, sama seperti yang ia ingat selama ini. Tidak ada senyum ramah, tidak ada tanda-tanda ia akan berubah pikiran dengan mudah.“Kau benar-benar datang,” ucap Reyhan, suaranya dingin dan penuh penilaian. Ia menatap Aru dari ujung kepala hingga kaki, seolah masih melihat sesuatu yang dianggapnya milik. “Aku kira ini hanya gertakan belaka. Ternyata kau berani juga berhadapan denganku sendirian.”Aru duduk di seberangnya dengan tenang, tidak tergoyahkan oleh nada bicara itu. “Aku datang bukan untuk main-main, Reyhan. Aku datang untuk menyelesaikan ini, sebagai manusia, bukan sebagai barang yang kau atur.”Reyhan tertawa kecil, ta
더 보기