Angin sejuk berhembus melewati celah jendela, membawa aroma pinus dan tanah basah yang khas pegunungan. Namun ketenangan itu seketika terasa dingin saat suara Viktor berubah, meninggalkan nada lembutnya dan berubah tajam serta penuh ancaman.Ia berbalik menghadap Aru, menatapnya tepat di mata, tatapan yang membuat bulu kuduk wanita itu meremang, seolah bisa menembus hingga ke lubuk hatinya.“Tapi ingat satu hal, Arunika,” ucapnya perlahan namun tegas, setiap kata terucap dengan berat dan jelas. “Jika kau mencoba kabur, berusaha menghubungi siapa pun dari luar, atau membuat rencana apa pun untuk melarikan diri… itu akan menjadi bom waktu bagi keluargamu.”Ia melangkah mendekat, jaraknya semakin dekat hingga Aru merasa terjebak di antara tubuhnya dan jendela besar di belakangnya.“Sebelum sempat kau bertemu mereka, sebelum kau sempat mengirim satu pesan pun, semuanya sudah kuhabisi. Ayahmu, kerabatmu, bahkan orang-orang yang pernah sedikit berhubungan denganmu—tidak ada yang akan luput.
Read more