Di tengah tidurnya yang masih lelap, pikiran Aru terlempar ke dalam mimpi yang terasa begitu nyata. Suasana di sekitarnya berubah, dan saat ia membuka mata seolah-olah dalam kesadaran, sosok yang terlihat berbaring di sampingnya bukanlah Viktor, melainkan Bisma.Wajah pria itu tampak kecewa, marah, dan terluka sekaligus. Suaranya terdengar tajam dan menusuk hati:“Kau tega… kau meninggalkanku, menerima Viktor, dan melupakanku begitu saja? Kau jahat, Arunika…”Aru terkejut, tubuhnya menegang seketika. “Bisma… bukan begitu, dengarkan aku”Belum sempat ia menjelaskan apa pun, bayangan itu perlahan memudar, dan rasa cemas yang meluap membuatnya menggeliat gelisah, mengerang pelan sambil berkeringat dingin.Namun gerakannya segera terhenti saat sebuah pelukan hangat dan kokoh melingkar erat namun lembut di sekeliling tubuhnya. Suara yang ia kenal baik, tenang dan menenangkan, terdengar tepat di telinganya:“Sayang… aku di sini. Jangan takut, hanya mimpi.”Aru membuka matanya tergesa, napas
Mehr lesen